<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Iancomp&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://iancomp.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://iancomp.wordpress.com</link>
	<description>cinta tanpa harapan atau harapan tanpa cinta ?</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Dec 2009 04:49:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='iancomp.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Iancomp&#039;s Blog</title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://iancomp.wordpress.com/osd.xml" title="Iancomp&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://iancomp.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/24/</link>
		<comments>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/24/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 04:49:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iancomp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/24/</guid>
		<description><![CDATA[1. hilangkan tanda centang pada SHOW SHADOW UNDER MENUS klik didesktop&#62;properties&#62;appearance&#62;effect&#62;apply&#62;ok 2. run&#62;regedit&#62;H-KEY_CURENT_USER_&#62;control panel&#62;desktop&#62; klik dua kali menu show delay, ubah string valuenya menjadi 0 atau 1. 3. run&#62;regedit &#62; H-KEY_CURENT_USER&#62; control panel&#62;desktop&#62;windows metric klik dua kali pada file Min animate,ubah string valuenya menjadi 0 atau 1. 4. kurangi beban startup lewat registry H_KEY_LOCAL_MACHINE&#62;software&#62;Microsoft&#62;windows&#62; currentversion&#62; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=24&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. hilangkan tanda centang pada SHOW SHADOW UNDER MENUS<br />
klik didesktop&gt;properties&gt;appearance&gt;effect&gt;apply&gt;ok</p>
<p>2. run&gt;regedit&gt;H-KEY_CURENT_USER_&gt;control panel&gt;desktop&gt;<br />
klik dua kali menu show delay, ubah string valuenya menjadi 0 atau 1.</p>
<p>3.  run&gt;regedit &gt; H-KEY_CURENT_USER&gt; control panel&gt;desktop&gt;windows metric<br />
klik dua kali pada file Min animate,ubah string valuenya menjadi 0 atau 1. </p>
<p>4. kurangi beban startup lewat registry H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt;software&gt;Microsoft&gt;windows&gt;<br />
currentversion&gt; run<br />
klik kanan name yang diangap tidak perlu saat startup dan delete.</p>
<p>5. H-KEY_CURENT_USER&gt;software &gt;Microsoft&gt;windows&gt;<br />
currentversion&gt; run<br />
lakukan hal yang sama dengan langkah diatas. Tutup registry dan restart.</p>
<p>6. optimalkan jalannya aplikasi<br />
 H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt;system&gt;currentcontrolset&gt;control&gt;prioritycontrol<br />
Pada panel sebelah kanan klik ganda win32priorityseparation,ubah value datanya menjadi 26 dalam hexadecimal atau 32 dalam decimal&gt;ok.restart.</p>
<p>7. optimasi mouse<br />
control panel&gt;mouse&gt;mouse properties&gt;tab hardware&gt;ps2 compatibel mouse&gt;properties&gt; tentukan sample rate menjadi 200&gt;ok klik yes saat diminta restart. </p>
<p>8. mempercepat browsing file via network<br />
 run&gt;regedit&gt; H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt; software&gt;Microsoft&gt;windows&gt;currentversion&gt;explorer&gt;remotecomputer&gt;namespace&gt;klik namespace dan cari subkey<br />
(D6277990-4C6A-11CF-8D87-00AA0060F5BF) klik kanan subkey ini dan delete. Klik yes bila diminta konfirmasi.</p>
<p>9. memacu  unjuk kerja memori<br />
. run&gt;regedit&gt; H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt;system&gt;currentcontrolset&gt;control&gt;sessionmanager&gt; memorymanagement.&gt;klik ganda pada value DisablePagingExecutive,isi value dengan nilai 1,ok, lanjutkan dengan klik ganda pada LargeSystem-cache,isi value data dengan nilai 1,ok.tutup registry dan restart.</p>
<p>10. mematikan auto update<br />
run&gt;services.msc. cari service dengan nama Automatic Updates,klik kanan dan pilih tab properties,klik tab stop, setelah dinonaktifkan klik dropdown field startup type pilih disabled&gt;apply&gt;ok.</p>
<p>11. Menampilkan account administrator<br />
 . run&gt;regedit&gt; H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt; software&gt;Microsoft&gt;windowsNT&gt;curentversion&gt; Winlogon&gt;SpecialAccount&gt;userlist,klik diarea kosong panel sebelah kanan klik new&gt; DWORD VALUE NAME, ketik Administrator,enter,klik ganda pada name administrator masukan nilai 1 pada field value data,klik ok.</p>
<p>12. membuang aplikasi dari daftar uninstall<br />
. run&gt;regedit&gt; H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt;software&gt;Microsoft&gt;windows&gt;curentversion&gt; uninstall.<br />
Cari aplikasi yang hendak dihapus, klik kanan dan delete.</p>
<p>13. hilangkan tanda panah shortcut.<br />
 run&gt;regedit&gt; H_KEY_CLASSES_ROOT&gt;lnkfile<br />
cari Isshortcut, ganti menjadi xlsshortcut. Lanjutka dengan<br />
H_KEY_CLASSES_ROOT&gt;piffile<br />
Cari cari Isshortcut, ganti menjadi xlsshortcut.tutup registry dan restart.</p>
<p>14. Unload file dll dari memory<br />
run&gt;regedit&gt; H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt; software&gt; Microsoft&gt; windows&gt; curentversion&gt;explorer.<br />
Diarea panel kanan cari name AlwaysUnloadDLL, jika tidak ada klik kanan new,DWORD value ketik AlwaysUnloadDLL,enter. Klik ganda name itu isi value data dengan nilai 1,klik ok dan restart.</p>
<p>15.  mengamankan wallpaper<br />
run&gt;regedit&gt; H-KEY_CURENT_USER&gt;software &gt;Microsoft&gt;windows&gt;<br />
currentversion&gt;policies&gt;activedesktop<br />
buat sebuah key dword baru degan nama NoChangingWallpaper,klik ganda pada key ini, isi value datanya dengan 1,ok.tutup dan restart.</p>
<p>16. bila saat mencetak ada masalah<br />
      control panel&gt;printer and fax&gt;printer&gt;cancel all document&gt;yes.<br />
Bila belum berhasil,masuk ke command prompt, ketik perintah, NET STOP SPOOLER&gt;enter.restart computer.</p>
<p>17. hemat memory<br />
run&gt;services.msc. tampilan akan terbuka lihat program yang berjalan secaa auto matic,klik kiri dua kali pilih tab dependencies untuk melihat keterkaitan program satu dengan yang lainnya dan kebutuhan program tersebut agar tidak terjadi kesalahan fatal,jika layanan tidak dibutuhkan pilih manual atau disable, setelah selesai tutup dan restart.<br />
Untuk menghindari kesalahan simpan dulu setting defaultnya dengan cara<br />
View&gt;add/remove columns remove description&gt;status&gt;log on as&gt;ok.<br />
Agar tidak terlalu kompleks, lalu klik action pada services,&gt;export list&gt;simpan dalam file services.txt.</p>
<p>18. reset printer bila indicator tinta bermasalah.<br />
	Lepaskan kabel power dan kabel usb printer, buka tutup printer, tekan dan tahan tombol power, tancapkan kembali, dan tutup printer, lepaskan tombol power ini langkah dalam keadaan service mode.<br />
Pasang kembali kabel usb, jalankan reseter,(jika ada jika tidak download di http://www.servicemanuals.ru/download/canon/ip1700.rar).<br />
Ketika printer dalam keadaan hidup ikuti langkah ini.<br />
1.	jalankan general tool ip 1700.<br />
2.	pilih port USB<br />
3.	tekan (device ID)<br />
4.	tekan (lock release)<br />
5.	untuk set destination pilih printer yang sama dengan device ID<br />
6.	centang (eepromclear &amp; cleaning )<br />
7.	tekan (test patern1),biarkan pinter mencetak sampai selesai<br />
8.	tekan (heat run)<br />
9.	tekan (cleaning all)<br />
10.	tekan (reset)<br />
11.	selesai.<br />
Masuk ke maintenance bawaan printer,cek status pinter.</p>
<p>Waste ink diprinter canon PIXMA MP190<br />
1. masuk kemenu SERVICE MODE<br />
2. pilih TEST MODE<br />
3. pilih (8) PRINTER TEST in TEST MODE<br />
4. pilih 3 [EEPROM CLEAR]<br />
5. pilih 0 [INK COUNT]<br />
6. tekan tombol [set]<br />
7. tekan tombol [stop/reset]<br />
    Menu akan kembali kelangkah 3, terakhir tekan tombol [ON/OFF].</p>
<p>Untuk printer canon ip1300/1500<br />
Cara meresetnya adalah.<br />
1. hubungkan kabel usb dan nyalakan printer<br />
2.  buka “general tools for ip 1500”, download tool ini di www.printersiam.com/data/download/iP1500%20Service%20Tool.zip<br />
3. pilih port usb anda<br />
4. klik CLEAR WASTE INKCOUNTER-MAIN<br />
5. klik CLEAR WASTE INK COUNTER-PLATEN.</p>
<p>19. menciptakan registry</p>
<p>	bila kita ingin menyalin satu registry dari satu computer ke komputer lain secara otomatis melalui systemnya.<br />
Run&gt;regedit&gt;dijendela registry panel sebelah kiri cari informasi yang ingin disalin,klik kanan pada registry tersebut pilih export, simpan dalam satu file dengan extension .reg<br />
Dalam sebuah folder, dan file inilah yang akan dapat diimport keregistry computer lain dengan mengklik dua kali pada file tersebut atau masuk pada registry dan klik import dan arahkan ke file yang yang kita buat tadi.</p>
<p>20. reset TCP/IP</p>
<p>	masuklah kearea command prompt&gt;ketik NETSH&gt;enter&gt;ketik INT IP RESET RESETLOG.TXT&gt;enter, sebelumnya simpan dulu konfigurasi TCP/IP nya sebelum direset,simpan proses resetnya deagn nama file RESETLOG.TXT.<br />
setelah kembali keprompt netsh ketik QUIT&gt;ENTER.<br />
Untuk melihat hasil reset, masuklah kecomand prompt dan ketik perintah NOTEPAD RESETOG.TXT&gt;enter.</p>
<p>21. memastikan kompatibilitas file system</p>
<p>bila kita sering menginstall atau menguninstal maka akan terjadi penumpukan file system yang meyebabkan system mejadi lambat dan hang cara mengatasinya adalah.<br />
Run&gt;regedit&gt; H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt; software&gt; Microsoft&gt; windowsNT&gt; curentversion&gt;Winlogon<br />
Cari key dipanel kanan dengan nama sfcscan ubah value datanya mejadi 1,tutup dan restart.( berbahaya jika dilakukan karna akan memakan ruang diharddisk)</p>
<p>22. agar cdrom tidak auto run</p>
<p>Run&gt;regedit&gt; H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt;system&gt;CurrentControlset&gt;services&gt;CDrom<br />
Klik ganda value name dan ubah key mejadi 1.tutup dan rrestart.</p>
<p>23. Nonaktifkan system restore</p>
<p>Run&gt;regedit&gt; H_KEY_LOCAL_MACHINE&gt; software&gt; Microsoft&gt; windowsNT&gt; curentversion&gt;systemrestore.<br />
Cari value name disable SR,da ubah value datanya menjadi 1,tutup dan restart.</p>
<p>24. mengubah standar lokasi file hasil download browser.</p>
<p>Run&gt;regedit&gt;H_KEY_USER&gt;default&gt;software&gt;Microsoft&gt;internet explorer<br />
Cari string Download directory,isi value datanya dengan folder yang diinginkan misalnya c:\Download. Jika data Download directory tidak ada baut string baru dengan klik kanan dan new&gt;string value..beri nama Download directory.</p>
<p>25. nonaktifkan fitu auto update internet explorer</p>
<p>run&gt;gpedit.msc&gt;local computer policy&gt;computer configuration&gt;admimintratif templates&gt;windows component&gt;internet explorer., dipanel sebelah kanan cari (disable periodic check for internet explorer software updates) klik enable.&gt;ok.</p>
<p>26. memperlancar penggulungan halaman web </p>
<p>pada internet explorer.<br />
Klik tools&gt;internet options&gt;advanced&gt;beri tanda pada kotak use smooth scrooling&gt;ok.</p>
<p>28. mengembalikan directx ke versi lama<br />
H-KEY_LOCAL_MACHINE&gt;software&gt;micosoft&gt;directx<br />
Pada bagian panel kanan cari value yang bertuliskan “version”4.09.00.0904””<br />
Ini berarti directx dengan versi 9,klik dua kalli value tersebut ganti dengan angka 4.07.01.0881,hal ini dilakukan agar directx mengira versi yang terpasang sekarang adalah versi 7.klik ok dan tutup registry.<br />
Sekarang bisa menginstall dengan versi 8 atau 9.</p>
<p>29. mengembalikan menu taskbar dan desktop<br />
sering kali kita mengalami hang atau crash, taskbar dan desktop hilang<br />
tekan ctrl+alt+del, menu task manager aka tampil, jalankan new task run dari menu file ketik explorer,klik ok.</p>
<p>30. menghapus page file<br />
untuk mengurangi path yang dicatat dalam memory<br />
H-KEY_LOCAL_MACHINE&gt;system&gt;current controlset&gt;control&gt;session manager&gt;memory management<br />
Dipanel sebelah kanan ganti nilai value menjadi 1 pada string clearpagefileatshutdown.ok dan restart.</p>
<p>31. Stop tawaran tur windows xp<br />
H-KEY_LOCAL_MACHINE&gt;software&gt;Microsoft&gt; windows&gt;currentversion&gt;applets&gt;tour<br />
Klik kanan,new&gt;dword value,isi dengan nama RunCount, isi dengan nilai 0.<br />
Tutup registry dan restart.</p>
<p>32. mengecilkan ikon toolbar<br />
H_KEY-CURENT-USER-&gt;software&gt;Microsoft&gt;windows&gt;currentversion&gt;explorer<br />
Cari subkey, dipanel sebelah kiri atau jika belum ada buat string baru dengan nama SmallIcons<br />
Klik ganda dan isi valuenya dengan Yes, tutup dan restart.</p>
<p>33.  menyembunyikan drive<br />
H_KEY_CURENT-USER&gt; software&gt;Microsoft&gt;windows&gt;currentversion&gt;policies&gt;explorer<br />
dipanel kanan klik kanan dan new&gt;dword value, isi stringya dengan nama NoDrives, enter,klik string tersebut dan pilih opsi decimal dan isi nilai tergantung pada drive mana yang akan disembunyikan.<br />
Drive	nilai		Drive	nilai		Drive	nilai<br />
A		1		E	16		I	256<br />
B		2		F	32		J	512<br />
C		4		G	64		K	1024<br />
D		8		H	128		L	2048<br />
Semua drive 67108863<br />
Tutup registry dan restart.</p>
<p>34. untuk melihat jejak aplikasi yang telah diuninstall<br />
	c:/windows/downloaded installation<br />
	hapus file atau folder yang telah diuninstall</p>
<p>35. untuk mempercepat proses startup<br />
	hapus semua file yang ada difolder prefetch<br />
	c:/windows/prefetch.</p>
<p>36. untuk meningkatkan perforrma pc salah satunya hilangkan tanda centang pada<br />
	c:properties&gt;allow indexing…&gt;klik apply&gt;ok.</p>
<p>37. mengubah ukuran ikon didesktop<br />
H-KEY_CURENT_USER &gt;control panel&gt;desktop&gt;windows metric<br />
Cari string value Shell icon size jika tidak ada buat baru, klik dua kali string ini dan isi valuenya dengan ukuran lebih kecil dari 32 (32 ukuran standar windows).</p>
<p>38. memperhalus Scrooling<br />
H_KEY_CURENT-USER&gt; software&gt;Microsoft&gt;windows&gt;currentversion&gt;policies&gt;explorer<br />
Buat new binary dengan nama SmoothScroll<br />
Isi value dengan 01 00 00 00<br />
Ok.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iancomp.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iancomp.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iancomp.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iancomp.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iancomp.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iancomp.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iancomp.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iancomp.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iancomp.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iancomp.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iancomp.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iancomp.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iancomp.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iancomp.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=24&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdcbc80b731afffa07eaaa0f83ff465d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iancomp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setting Manual Web Handphone</title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/setting-manual-web-handphone/</link>
		<comments>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/setting-manual-web-handphone/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 04:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iancomp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iancomp.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Setting Manual Web Handphone IM3 PROXL TELKOMSEL SATELINDO MATRIX Nama IM3 proXL GPRS Telkomsel Satgprs Matrixgprs Homepage http://wap.m3-access.com http://wap.lifeinhand.com http://wap.telkomsel.com www.indosat.com/mentari http://wap.indosat.com Service Tipe 1 WAP WAP WAP WAP HTTP IP 1 010.019.019.019 202.152.240.050 010.001.089.130 202.152.162.250 010.019.019.019 WAP Port 1 9201 9201 9201 9201 8080 Domain 1 Service Tipe 2 WAP WAP WAP WAP HTTP [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=21&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setting Manual Web Handphone</p>
<p>	IM3	PROXL	TELKOMSEL	SATELINDO	MATRIX<br />
Nama	IM3	proXL GPRS	Telkomsel	Satgprs	Matrixgprs<br />
 Homepage	http://wap.m3-access.com</p>
<p>http://wap.lifeinhand.com</p>
<p>http://wap.telkomsel.com</p>
<p>www.indosat.com/mentari</p>
<p>http://wap.indosat.com</p>
<p>Service Tipe 1	WAP	WAP	WAP	WAP	HTTP<br />
IP 1	010.019.019.019	202.152.240.050	010.001.089.130	202.152.162.250	010.019.019.019<br />
WAP Port 1	9201	9201	9201	9201	8080<br />
Domain 1<br />
Service Tipe 2	WAP	WAP	WAP	WAP	HTTP<br />
IP 2	010.019.019.019		010.001.089.150	202.152.162.250	010.019.019.019<br />
WAP Port 2	8081		9201	9201	8080<br />
Domain 2<br />
DNS 1	000.000.000.000	000.000.000.000	010.001.089.130	000.000.000.000<br />
DNS 2	000.000.000.000	000.000.000.000	010.001.089.150	000.000.000.000<br />
Wkt Henti	10 Mnt	10 Mnt	5 mnt	10 Mnt<br />
CSD No. 1	366		8789	0816<br />
Nama User 1	Gprs		Wap<br />
Password 1	Im3		******<br />
Kcptn (bps) 1	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400<br />
Tipe jalur 1	ISDN	ISDN	ISDN	ISDN<br />
CSD No. 2				1234<br />
Nama User 2	Gprs<br />
Password 2	Im3<br />
Kcptn (bps) 2	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400<br />
Tipe jalur 2	ISDN	ISDN	ISDN	ISDN<br />
GPRS APN	www.indosat-m3.net<br />
www.xlgprs.net<br />
www.telkomsel.com</p>
<p>http://indosat.com/mentari</p>
<p>	indosatgprs<br />
Nama user	Gprs	Xlgprs	Wap	Wap	indosat<br />
Sandi	Im3	Proxl	******	satwap	indosat</p>
<p>	IM3-MMS	SATMMS	T-SEL MMS	MATRIXMMS<br />
Nama	IM3-MMS	SATMMS	T-SEL MMS	MATRIXMMS<br />
Homepage	http://mmsc.m3-access.com</p>
<p>http://mmsc.satelindogprs.com</p>
<p>http://mms.telkomsel.com</p>
<p>Http://mmsc.indosat.com</p>
<p>Service Tipe 1	Wap	Wap	Wap	HTTP<br />
IP 1	010.019.019.019	202.152.162.250	010.001.089.150	010.019.019.019<br />
WAP Port 1	9201	9201	9201	8080<br />
Domain 1<br />
Service Tipe 2	Wap	Wap	Wap	HTTP<br />
IP 2	010.019.019.019	202.152.162.250	010.001.089.150<br />
WAP Port 2	8081	9201	9201<br />
Domain 2<br />
DNS 1<br />
DNS 2<br />
Wkt Henti	10 Mnt	10 Mnt	10 Mnt<br />
CSD No. 1	366	0816<br />
Nama User 1	mms	satmms	Wap<br />
Password 1	Im3	satwap<br />
Kcptn (bps) 1	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400<br />
Tipe jalur 1	ISDN	ISDN	ISDN<br />
CSD No. 2		1234<br />
Nama User 2	mms	Satmms<br />
Password 2	Im3	Satwap<br />
Kcptn (bps) 2	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400	2400/4800/9600/14400<br />
Tipe jalur 2	ISDN	ISDN	ISDN<br />
GPRS APN	www.mms.indosat-m3.net</p>
<p>http://satelindogprs.com</p>
<p>	MMS	indosatmms<br />
Nama user	mms	Satmms	Wap	indosat<br />
Sandi	Im3	satwap	******	indosat</p>
<p>Im3 time base<br />
APN = indosatgprs<br />
User name = indosat@durasi<br />
Password = indosat@durasi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iancomp.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iancomp.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iancomp.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iancomp.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iancomp.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iancomp.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iancomp.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iancomp.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iancomp.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iancomp.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iancomp.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iancomp.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iancomp.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iancomp.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=21&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/setting-manual-web-handphone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdcbc80b731afffa07eaaa0f83ff465d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iancomp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara menggulung Dinamo Jetpump</title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/cara-menggulung-dinamo-jetpump/</link>
		<comments>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/cara-menggulung-dinamo-jetpump/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 04:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iancomp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/cara-menggulung-dinamo-jetpump/</guid>
		<description><![CDATA[Cara menggulung Dinamo Jetpump Didalam blok mesin terdapat 24 lubang tempat meletakan kabel dengan ukuran diameter 0.65 mm, beri bahan isolator dengan menggunakan plastic mika dan susun menyelubungi lubang tersebut lalu ambil delapan sisi lubang sebelah kiri diantara dua sisi lilitan kabel kosongkan 4 buah lubang lalu susun berurutan lalau sisi sebelah kanan tanpa ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=20&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cara menggulung Dinamo Jetpump</p>
<p>Didalam blok mesin terdapat 24 lubang tempat meletakan kabel dengan ukuran diameter 0.65 mm, beri bahan isolator dengan menggunakan plastic mika dan susun menyelubungi lubang tersebut lalu ambil delapan sisi lubang sebelah kiri diantara dua sisi lilitan kabel kosongkan 4 buah lubang lalu susun berurutan lalau sisi sebelah kanan tanpa ada pemutusan kabel setelah delapan sisi kiri dan delapan sisi kanan penuh lalu putuskan kabel lanjutkan dengan kabel kecil dua kali satu sisi menjadi 4 lubang terisi sebelah atas dan lanjutkan 4 lubang dihadapannya hingga terhasil 3 kabel output satu kabel hitam adalah perpaduan antara dua ujung kabel besar dan kecil dan dua kabel lainnya masing-masing ujung dari kebel besar dan kecil gunakan martil karet untuk merapatkan dan ikat dengan tali sol lalu setelah rapi lakukan pernis untuk merapatkan lilitan agar tak terjadi kerenggangan diantara kabel.</p>
<p>Alur lingkar kabel adalah 1 dan 2 adalah satu gulungan dengan jumlah lilitan 52 atau lebih dengan ukuran kabel 0,65 mm, lalu lanjutkan dengan 3 dan 4, 5 dan 6, 7 dan 8, 9 dan 10, 11 dan 12, 13 dan 14, 15 dan 16, ujung kabel yang no. 1 adalah untuk kabel arus massa.<br />
Setelah mencapai gulungan 16 putuskan kabel dan gabungkan ujung kabel no.17 sebagai kabel negative atau central tap, kabel untuk no. 17-24 adalah kabel dengan ukuran 0.50 mm, dengan jumlah lilitan 95 atau lebih, lanjutkan gulungan kabel 17 dan 18, 19 dan 20, 21 dan 22, 23 dan 24, ujung kabel 24 menjadi kabel yang ketiga sebagai kabel yang terhubung ke kondensor.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iancomp.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iancomp.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iancomp.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iancomp.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iancomp.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iancomp.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iancomp.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iancomp.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iancomp.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iancomp.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iancomp.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iancomp.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iancomp.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iancomp.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=20&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/31/cara-menggulung-dinamo-jetpump/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdcbc80b731afffa07eaaa0f83ff465d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iancomp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untukmu Ibu</title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/15/untukmu-ibu/</link>
		<comments>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/15/untukmu-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 13:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iancomp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iancomp.wordpress.com/2009/12/15/untukmu-ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Hanya karna nila stitik rusak susu sebelanga ! Renyuh hati tatkala mendengar merah terbungkam pada satu jejak yang rengkah Pecah berdentum memerah membuncah jelaga hati yang busuk Sebusuk norma yang tak tersingkap Parau sudah langkahku berjalan Rupanya yang termaktub tak akan bisa bergulir Kehampaan akan pertanyaan terjawab sudah Gelimang darah nestapa mengalir merasuki relung sanubariku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=19&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hanya karna nila stitik rusak susu sebelanga !<br />
Renyuh hati tatkala mendengar merah terbungkam pada satu jejak yang rengkah<br />
Pecah berdentum memerah membuncah jelaga hati yang busuk<br />
Sebusuk norma yang tak tersingkap<br />
Parau sudah langkahku berjalan<br />
Rupanya yang termaktub tak akan bisa bergulir<br />
Kehampaan akan pertanyaan terjawab sudah<br />
Gelimang darah nestapa mengalir merasuki relung sanubariku<br />
Merangkak meniti jalan yang hanya tinggal setapak<br />
Rupanya keharibaan diujung maut<br />
Menampar sejarah yang tinggal nama<br />
Aku tak ada<br />
Aku tiada<br />
Aku hanya sebuah nama usang yang tinggal kenangan<br />
Seseorang yang meninggalkan jejak kearifan disudut lenguh<br />
Seseorang yang meninggalkan jejak bijak diujung lidah<br />
Patah sudah dahan ku bergantung<br />
Tinggallah secercah menjarah kerongkonganku<br />
Bumi tak lagi bersahaja<br />
Tanah merah bukan lagi hal yang menakutkan<br />
Serojaku helai demi helai lunglai<br />
Meluluh lantakkan ragaku yang rapuh<br />
Serapuh kebijakan seseorang yang bernama Ibu<br />
Dimana kebijakan itu<br />
Dimana kearifan itu<br />
Dimana kelapangan dada itu<br />
Dimana kesabaran itu<br />
Dimana ketulusan itu<br />
Dimana tempat kebahagiaan bersemayam didalam dada<br />
Beritahu aku<br />
Beritahu aku..<br />
Hingga kini aku buta<br />
Hingga kini aku tuli<br />
Tiadalah mereka<br />
Yang ada hanya berupa merah membakar murka<br />
Sejumput yang tersisa bukan untukku<br />
Tapi bekal bagi yang terpilih<br />
Pantas saja..<br />
Pantas..<br />
Tiada jua pengabaran itu<br />
Tiada lagi ketenangan itu<br />
Sejak darah yang memerah melumuri jiwaku<br />
Haram termaktub<br />
Bagi jasadku yang kotor<br />
Kian hitam melegam wajahku<br />
Bagaikan arang<br />
Tiada kasih sayang yang tercurah<br />
Aku dan kekauanku<br />
Telah menusuk tujuh igaku<br />
Rengkah<br />
Memapah langkahku yang tertatih<br />
Aku tak tau<br />
Satu kata, dua kata bahkan tiga kata<br />
Telah meluluh lantakan dunia dan seisinya<br />
Yang ditakdirkan adalah takdir<br />
Tak akan mungkir<br />
Nasib hanya petuah usang<br />
Seusang klise masa silam<br />
Saat kisah lama terpendam<br />
Nasib hanya bisa diam<br />
Firman hanya bisa diam<br />
Tiada sebuahpun kalam<br />
Yang mampu meredam kelam<br />
Hanya malam dan suram<br />
Yang tersisa merajam yang haram<br />
Puputku berjibaku<br />
Menghadirkan setitik butir airmata<br />
Dibalik sakuku<br />
Seuntai kamboja<br />
Masih setia bersama<br />
Kamboja yang tumbuh tak jauh dari sebuah gereja<br />
Sayang ia tak tau makna kata bersama<br />
Jika sampai mautku menjemput<br />
ia tak jua mengerti<br />
bara neraka menantiku<br />
melumat habis jiwa ragaku<br />
nafasku bukan hal yang istimewa<br />
hanya selembar nyawa<br />
yang membuat kecewa<br />
mengapa jiwa yang harus merana<br />
ironis..<br />
sang penabur air harus menuai api<br />
entah dimana titik itu<br />
kutelusuri tiada jua ujungnya<br />
entah dimana titik itu<br />
kutelusuri tiada jua pangkalnya<br />
haruskah semua berakhir<br />
hanya karna aku tak tau..<br />
maafkan aku..</p>
<p>Untukmu Ibu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iancomp.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iancomp.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iancomp.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iancomp.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iancomp.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iancomp.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iancomp.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iancomp.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iancomp.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iancomp.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iancomp.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iancomp.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iancomp.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iancomp.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=19&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/15/untukmu-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdcbc80b731afffa07eaaa0f83ff465d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iancomp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syuruk</title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/syuruk/</link>
		<comments>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/syuruk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 13:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iancomp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/syuruk/</guid>
		<description><![CDATA[Syuruk Mautku sersa diujung kalbu yang menghampa dibatas cakrawala Meradang mengusung keranda cinta yang hanya tinggal nama Kekalutanku membiru dibatas garis nasib yang meragu Kisahku hanya membalut aimata dan hawa nafsu Jika masih ada satu gelintir mengapa masih saja kau mendengus Jika masih tersisa sejumput mengapa kau terus merengek Mendusta dibalik wajah yang kian merah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=15&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syuruk</p>
<p>Mautku sersa diujung kalbu yang menghampa dibatas cakrawala<br />
Meradang mengusung keranda cinta yang hanya tinggal nama<br />
Kekalutanku membiru dibatas garis nasib yang meragu<br />
Kisahku hanya membalut aimata dan hawa nafsu</p>
<p>Jika masih ada satu gelintir mengapa masih saja kau mendengus<br />
Jika masih tersisa sejumput mengapa kau terus merengek<br />
Mendusta dibalik wajah yang kian merah oleh marah<br />
Bukan tak mau menampik tapi kian menumpuk</p>
<p>Letak jalan tak tersusun rapi<br />
Bagai kerah baju yang tak terurus<br />
Petak demi petak kugapai<br />
Kiranya bumiku tak bersahaja</p>
<p>Hitamnya membujur kaku diantara tulang leher<br />
Mencampakan kenangan yang usang oleh waktu<br />
Luluh melunglai menggapai lalai<br />
Rasaku membiru diujung lenguh</p>
<p>Memburu rindu yang biru oleh malu<br />
Rapat oleh keringat<br />
Menyayat ruang yang tak bersekat<br />
diam kian membatu</p>
<p>restu yang tak sampai<br />
memapah jalanku yang terasa lunglai<br />
hanyut dalam duka tak terkata<br />
rusuh dalam dada yang luka</p>
<p>wahai yang terpidana<br />
janganlah merana<br />
duka yang ada jangan disiksa<br />
tapi rasa yang memang harus ada</p>
<p>Jangan tidurkan harapanmu bersama bayang ilusiku<br />
karna aku tak tersentuh<br />
jangan tutup hatimu diatas harapanku<br />
karna aku hanyalah warna jiwamu yang membayang diatas rasa hatimu<br />
jangan satukan keinginanmu didalam keinginanku<br />
karna langkahku tak tetap<br />
jangan lagi kau titahkan darah cintamu disudut pasrahku<br />
karna aku adalah puputmu<br />
diambang gerbang, putih kata, tak terukur panjang jiwanya<br />
sealur garis takdir mengukir jalur lurus ditiga iga yang patah<br />
patutku tak lagi bersahaja<br />
kini satu hariku hanya bernuansa diam.<br />
Aku adalah sisi gelapmu<br />
Jangan biarkan dirimu menyatu dengan diriku<br />
aku adalah tubuh kasar bagimu<br />
jangan jadikan aku sebagai wujudmu<br />
karna aku adalah bentuk dan rupa yang akan sirna<br />
jangan biarkn kehalusan jiwamu bersemayam dalam celah igaku yang rengkah<br />
jangan jadikan aku cermin dirimu<br />
karna aku akan merusak mata wujudmu<br />
jangan biarkn dirimu tenggelam dalam imajiku<br />
karna aku akan melenakanmu dalam buaian sisi gelapmu<br />
diambang batas ketiadaan<br />
dalam sepi aku menepi<br />
dalam harap aku meratap<br />
dalam doa aku menjura</p>
<p>telah aku bebaskan belenggu jiwaku yang telah menghitam legam<br />
bagaikan seorang bocah berkulit hitam<br />
kubebaskan bocah itu<br />
dari belenggu yang terikat dilehernya<br />
kusuruhnya menemui siapa saja yang telah memerintahnya<br />
siapa saja yang telah bertekuk lutut dihadapannya<br />
kusuruh untuk meminta tanggung jawabnya<br />
atas apa yang telah dilakukannya terhadapnya<br />
kusuruhnya pergi<br />
untuk menghirup nafas kebebasannya<br />
dia memberikan sebuah gulungan kertas usang<br />
yang diambilnya dari sebuah makam<br />
terlipat tak rapi<br />
titipan untukku<br />
dan lembaran-lembaran dalam lipatan itu<br />
telah kubuka<br />
lembaran usang<br />
sebuah amanat<br />
waktu hampir habis<br />
tak ada waktu untuk bermain-main<br />
akan aku pelajari ilmunya<br />
dan sisanya kulimpahkan untuk beramal sholeh<br />
bocah yang sama<br />
kurenggut dari alam pikiranku<br />
kusandarkan dibilik nafsuku yang kian menghitam<br />
kubiarkan merajalela dalam sanubariku<br />
menelusuri lekuk liku jiwa-jiwaku<br />
tangis kepiluan<br />
sejenak merendahkannya<br />
selembar bulu mata berkata<br />
“nak, disini bukan termpatmu,aku akan menjadi saksi bagimu !”<br />
dengan seringai rendah,ia berkata<br />
“selama jiwa ini ada dalam genggaman tanganku,tak akan kubiarkan<br />
ia menguasaiku !”<br />
“baiklah<br />
kutunggu tangismu !”</p>
<p>Syurukku tak lagi menemani dalam pagi yang terasa hampa, begitu anyir dalam kesepian yang tak berteman pada dingin, dan sang fajar hanya termangu dalam senyum hambarnya, jangan sekali-kali kau bermain-main dengan kata hatimu sebab kau tak pernah tau kapan pintu langit akan terbuka, dan sedang terbuka.<br />
	Aku mulai bingung dengan jalan cerita yang sedang kujalani ini<br />
Saat teduh Aku mengeluh Saat riuh Aku mengaduh Saat sepi aku menepi Saat tak disisi aku menyisi Mengais yang tak tersisa Menguik yang tak tertampik Patah memerah yang merah Bukan marah yang tertadah Tapi murah membelah hikmah<br />
Tercurah pada dua kata yang terbanting dititik nadir<br />
	Selayaknya sang bayu yang menampar dikeramaian dinding alam memutar pada haluan yang tak lagi terkendali, padanan itu lepas sudah membuai istana malam dalam senyum yang terkulum, takdir menjunjung tinggi kuasa setitik makna kata yang terucap pada bibir pahit begitulah kesan yang tertinggal pada sejumput tanah yang merah merekah, hitam melegam tak pupus diterjang waktu yang terus memburu, aku yang terharu diam membisu tak lagi bersahaja dalam gelimang dosa masa lalu, terpasung dalam kehendak mata pualam yang begitu kejam, perlahan titik-titik mulai merambah didua pipi, sejurus menghantam dinding ari yang begitu rapuh ahh..rupanya bumi begitu merindukannya dan langitpun tak kuasa menahan tangisnya dan aku kelimpungan meniti hari esok antara ada dan tiada, antara dua yang harus terjalani bungkam mulutku, kelu lidahku dalam gejolak nafsu yang tak lagi bersetia pada diri dan jiwaku, aku yang begitu kentara, seakan membelah beribu-ribu bagian yang tercabik dalam satu kesatuan yang tercerai berai, nasib hanya mematung terus melangkah meninggalkan kisah yang usang seiring dentang waktu yang berlalu.<br />
	Aku katakan hal ini bukan berarti aku takut pada hal yang bernama hidup tapi aku takut pada hidupku yang kelak bukan yang sekarang, aku terbelenggu pada sebuah kalimat yang terucap begitu tulus dan jutaan saksi yang tak terpungkiri<br />
&#8220;aku mencintainya karna aku  mencintai-Mu&#8221;<br />
Namun kini aku berani menentangnya, berani menantangnya !<br />
Tongkatkupun sekan memaki dan terus membenci, mengutuk sebab dari sebuah keputusan akan satu pilihan yang kasep, deru debu hanya bisa tersenyum dan laskarpun hanya berdiri dibelakang garis meski berbaris-baris tapi tak menepis terjarah sudah bekalku satu persatu raib helai demi helai runtuh begitu banyak yang tak tertanggungkan, aku yang begitu halus mulai tampak kusam dan kasar tak lagi harum tapi amis pahit yang menebar, aku rasa ya..aku rasa jika taufik dan hidayah tercurah dan dua jalan menjadi satu nasib akan tersenyum kembali padaku.<br />
	Saat teduhku mulai merajuk kuhamparkan jalan itu dihadapannya kutabur dua jejak yang tak berbilang maknanya hingga ujung jariku menunjuk pada satu tempat yang tak pernah terbersit sebelumnya baik dalam hati maupun alam khayal manusia sejati dalam pengarungannya menuju bahtera sejahtera, kucungkil seujung jari kaki hanya untuk menyelamatkan diri dari kekhilafan dan mara bahaya, namun hanya sebatas syarat tak jua terpanggil nama itu dalam dunia yang parallel.<br />
	Batas itu bernama syuruk terjal alamnya hanya bernuansa teduh berpasir tiada angin tiada cuaca panas maupun dingin mentari hanya bersinar sebatas angan tiada malam yang datang, kandas dibatas waktu itu, tiada cinta yang dapat kukenal maupun yang dapat kukenang, semua hanya sebuah nama usang yang terbuang dalam dunia khayal, ah..pintu yang lama kunanti telah menampak dikejauhan dibatas jalan itu seutas tali menjuntai menuju pelimbahan terompahku terlepas tiada bekal dipundakku, sehelai kafan yang menghantarku pada tempat itu tak lebih dari selapis kain pembungkus raga, itupun sudah mulai usang dan kusam, sepasukan mulai datang silih berganti meninggalkan deru debu yang membekas ditapak jejaknya, hafal sudah ingatku akan siapa yang datang, sang utusan memberikan sebilah pedang begitu panjang dan tajam, dan berat pula namun entah kemana warangkanya aku tak tau, tujuh jalan dihadapanku membuai ingatku pada satu hal yang bernama cinta, masihkah..! disini semua itu tak berlaku, hanya pucuk kamboja yang terselip disakuku yang masih setia menemaniku menjadi teman seiring perjalananku, satu purnama mengingatkanku pada serentet peristiwa yang memakan welas asih yang tak terbilang nilainya, kupiahku masih melekat dikepalaku terselip disana satu pucuk surat bertuliskan tinta hitam pesan dari maha guru<br />
	&#8221; Jaga baik-baik tempat ini, jangan sampai kosong &#8220;<br />
Sempat kulepas kupiahku hingga terlupa amanat itu, aku yang terlena dibuai saat-saat indah ahh..lupakan itu disini semua itu sudah kasep, kututup dan kutengadahkan wajahku kearah langit ah.sepertinya tak tembus..sejenak aku terbius dalam warna langit yang membiru.sebiru hatiku saat kehilangan jubahku.<br />
	Kuhantarkan putih itu menuju haribaannya dengan mata tertutup kuayunkan langkah lelahku sedikit haru biru menerpa bumi hatiku, perlahan kuturunkan dengan khidmat tujuh bola hitam sebagai penyangga agar tercium aroma asal kehidupan kulantunkan senandung pengantar dan tujuh lapis penutup kuhadangkan dan perlahan asal kembali keasal, kuhantarkan lantunan kata-kata suci sebagai akhir dari perjalanan lepas sudah tanggung jawabku, kulalui semua dengan penuh tanda Tanya besar yang terus menguak dan seakan tak ada habisnya dia mengalir memenuhi ruang hatiku !<br />
	Seketika kudengar ia berteriak memanggil namaku, aku tersentak bagaimana mungkin, dengan telanjang dada ia menghampiriku dengan linangan airmata aku takjub sejenak, ada apa gerangan aku bertanya-tanya ? sekejap itu pula ia menghilang sirna bak ditelan bumi, perlahan kukatupkan dua mataku yang mulai sayu oleh kantuk pagi itu tak menatap padaku, hanya mencibir tak rela, hembusan nafasnya mengunyah sejarah sebatas usia dijenjang lehernya yang terlihat patah, patah..bagaikan sebongkah arang yang tak kenal makna sayang, aku haturkan sejumput maut yang mulai merambah jasad namun perangai tak mampu membiaskan rona warna jiwanya yang kian kentara memayungi lentik bulu matanya.<br />
	Harum namanya menjadi buah bibir yang menebar aroma wewangian yang menghias liang telinga dalam kebanggaan, tak lagi menjadi panutan, mematri diam saat berjuta tanya dilayangkan sejenak aku kelimpungan apa yang harus aku jawab.<br />
Pantang termaktub untuk menepisnya hingga jalan keridhoan terbuka untuk membalut luka hati yang tiada terperi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iancomp.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iancomp.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iancomp.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iancomp.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iancomp.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iancomp.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iancomp.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iancomp.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iancomp.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iancomp.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iancomp.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iancomp.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iancomp.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iancomp.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=15&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/syuruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdcbc80b731afffa07eaaa0f83ff465d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iancomp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu</title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/ibu-2/</link>
		<comments>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/ibu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 12:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iancomp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/ibu-2/</guid>
		<description><![CDATA[taukah anda keikhlasan dan keridhoan seorang ibu mempengaruhi kesuksesan putra-putrinya ?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=14&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>taukah anda keikhlasan dan keridhoan seorang ibu mempengaruhi kesuksesan putra-putrinya ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iancomp.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iancomp.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iancomp.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iancomp.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iancomp.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iancomp.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iancomp.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iancomp.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iancomp.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iancomp.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iancomp.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iancomp.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iancomp.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iancomp.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=14&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/ibu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdcbc80b731afffa07eaaa0f83ff465d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iancomp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>cinta</title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/ibu/</link>
		<comments>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 11:16:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iancomp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iancomp.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Ibu Kehadiranmu adalah sebuah kehidupan…namun mengapa terkadang pikiranmu dan pandanganmu membelenggu hidup putra-putrimu ! Ibu Taukah kau betapa ketulusan dan keridhoanmu adalah jalan kebahagiaan, jalan kesuksesan untuk putra-putrimu ! Ibu Janganlah menganggap bahwa putra-putrimu hanya akan menjerumuskanmu kelembah nista, tidak..  putra-putrimu tidak akan bisa melakukannya.. Ibu Taukah kau Putra-putrimu membutuhkan kasih sayangmu melebihi apa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=8&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu</p>
<p>Kehadiranmu adalah sebuah kehidupan…namun mengapa terkadang pikiranmu dan pandanganmu membelenggu hidup putra-putrimu !</p>
<p>Ibu</p>
<p>Taukah kau betapa ketulusan dan keridhoanmu adalah jalan kebahagiaan, jalan kesuksesan untuk putra-putrimu !</p>
<p>Ibu</p>
<p>Janganlah menganggap bahwa putra-putrimu hanya akan menjerumuskanmu kelembah nista, tidak..  putra-putrimu tidak akan bisa melakukannya..</p>
<p>Ibu</p>
<p>Taukah kau Putra-putrimu membutuhkan kasih sayangmu melebihi apa yang kau tau..</p>
<p>Ibu</p>
<p>ingatlah bahwa kesuksesan Putra-putrimu ada ditanganmu maka dari itu jangan sekali-kali kau terlontar kata-kata nista dari lidahmu sebab mereka adalah darah dagingmu sendiri, maka sama saja kau menistai dirimu sendiri.</p>
<p>Ibu</p>
<p>Ingatlah Putra-putrimu adalah titipan bagimu, lapangkanlah dadamu untuk Putra-putrimu..ingatlah Putra-putrimu adalah titipan yang harus kau jaga&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iancomp.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iancomp.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iancomp.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iancomp.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iancomp.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iancomp.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iancomp.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iancomp.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iancomp.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iancomp.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iancomp.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iancomp.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iancomp.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iancomp.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=8&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdcbc80b731afffa07eaaa0f83ff465d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iancomp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>cinta tanpa harapan atau harapan tanpa cinta ?</title>
		<link>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/cinta-tanpa-harapan-atau-harapan-tanpa-cinta-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-mencintai-dan-dicintai-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-mendapatkan-cinta-itu-sendiri-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-me/</link>
		<comments>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/cinta-tanpa-harapan-atau-harapan-tanpa-cinta-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-mencintai-dan-dicintai-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-mendapatkan-cinta-itu-sendiri-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-me/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 10:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iancomp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/cinta-tanpa-harapan-atau-harapan-tanpa-cinta-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-mencintai-dan-dicintai-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-mendapatkan-cinta-itu-sendiri-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-me/</guid>
		<description><![CDATA[Cinta tanpa Harapan atau Harapan Tanpa Cinta. Apakah mudah bagi kita untuk mencintai dan dicintai?!!!!!!! Apakah mudah bagi kita untuk mendapatkan cinta itu sendiri??? Apakah mudah bagi kita untuk meraih cinta sejati???? Apakah mudah bagi kita untuk mempertahankan cinta yang kita dapatkan?? Apakah mudah bagi kita untuk menjaga cinta yang kita raih?????? Apakah cinta memang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=3&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta tanpa Harapan atau Harapan Tanpa Cinta.</p>
<p>Apakah mudah bagi kita untuk mencintai dan dicintai?!!!!!!!<br />
Apakah mudah bagi kita untuk mendapatkan cinta itu sendiri???<br />
Apakah mudah bagi kita untuk meraih cinta sejati????<br />
Apakah mudah bagi kita untuk mempertahankan cinta yang kita dapatkan??<br />
Apakah mudah bagi kita untuk menjaga cinta yang kita raih??????<br />
Apakah cinta memang tak rasional??<br />
Apakah cinta membentuk kepribadian seseorang atau kepribadian yang melahirkan cinta itu sendiri??<br />
Apakah cinta sejalan dengan garis nasib atau nasib yang menggariskan jalan cinta??<br />
Apakah cinta dapat disebut cinta jika harus dihadapkan pada keberadaan perhiasan Dunia??<br />
Apakah cinta juga merupakan bagian dari perhiasan dunia??<br />
Atau perhiasan dunia adalah bagian dari cinta itu?<br />
Apakah cinta memiliki sifat, watak dan kepibadian?<br />
Apakah kehadiran cinta dalam diri seseorang memang harus datang dan pergi?<br />
Apakah cinta memang selalu identik dengan rasa bahagia dan kecewa, suka dan duka, dan tawa dan segala hal yang sifatnya berpadanan!<br />
Apakah cinta pada dasarnya hadir dari sebuah bentuk dan nafsu atau sebaliknya???!!.</p>
<p>BENARKAH CINTA MEMILIKI JIWA</p>
<p>Mengagumkan bukan hanya dengan satu titik ternyata mampu memberikan nuansa warna yang begitu beragam entah apa maksud dari semua itu benar-benar diluar dugaanku kalau saja semua berarti dengan begitu indah tentunya aku akan menanamkan berjuta kebaikan didalamnya hari itu adalah hari yang begitu berarti bagiku namun demikian tiada yang dapat memastikan untuk hari esok lusa dan yang akan datang<br />
	Benarkah cinta adalah segalanya dalam hidup ini ?<br />
	Benarkah cinta mampu mengalahkan segalanya dalam hidup ini ?<br />
	Sebuah kisah tentang asmara<br />
	Itulah cinta..ketika datang mendera<br />
	Janganlah cinta menjadi sumber segala<br />
	Sebab akal dan perasaan memegang makna.</p>
<p>	Dari seringnya berkomunikasi, seringnya bertemu seringnya bercanda seringnya bersama rupanya telah membuahkan benih cinta dihati kami berdua entah sadar atau tidak hal itu terus berlangsung tanpa sepengetahuan atasan kami, bahkan teman-teman kami. Namun tak satupun dari kami yang berusaha mengungkapkan rasa cinta itu kami saling memendam rasa, ya.. cinta telah bersemi dihati ian setelah kepergian yang terpendam. rasa itu telah tumbuh dan bersemi lagi laksana bunga yang mekar merekah nan indah namun sadarkah ia dengan apa yang dirasakannya ?<br />
Setelah dua tahun bekerja ian memberanikan diri membeli sebuah sepeda motor selain untuk mempermudah ketempat pengajian pun untuk pulang pergi kerja dan tak pelak lagi gadis itupun selalu menemani perjalanan pulang dan pergi kerja.</p>
<p>	Enam bulan kemudian saat bulan puasa kami jalan berdua disebuah mall yang tak begitu terkenal, waktu itu tak ada hal yang istimewa semua laksana hanya sebatas sahabat biasa, bercanda tawa bersama disana aku sempat memisahkan diri dengannnya dengan alasan mencari sesuatu yang tak lazim untuknya meski terlihat ada sedikit nada kekecewaan dalam aura wajahnya tapi semua berjalan apa adanya.</p>
<p>Hari berlalu, entah mengapa saat itu hadir rasa kekhawatiran padanya dan rindupun menggebu-gebu untuk bertemu, semua kutahankan karna hadir direlung jiwa itu tak mungkin, rasa ini harus kutepis bagaimanapun itu tak boleh.<br />
Lebaranpun berlalu tak lupa kata mohon maaf lahir dan batinpun terucap lewat pesan singkatnya, meski bayang kerinduan begitu memberangus jiwa namun apalah daya ia nun jauh disana dan untuk sementara waktu ini aku mencoba menepis bayang dirinya begitu banyak kegiatan yang aku lakukan, meski perasaan ini tetap terpatri padanya.<br />
Awal januari<br />
Janji bertemu dengan sang buah hati<br />
Tapi keadaan tak dapat memaksa diri<br />
Sejenak sesal datang dibalik hati<br />
Sebuah ironi datang menghampiri<br />
	Kesedihan merajuk dibalik senja<br />
	Saksi bisu hadir membelah sukma<br />
	Seribu prasangka hadir membuai jiwa<br />
	Ya dan tidak datang tak diterka<br />
Alunan kata-kata yang mengusik kalbu<br />
Satu kata “aku sangat rindu “<br />
Begitu menyayat relung hatiku<br />
Ingin kuhampiri dan bertemu<br />
Tiadakah sesuatu yang dapat kujadikan<br />
Sebagai penawar rindu<br />
	Aku bertanya pada keadaan !<br />
	Dulu kau yang mempertemukan<br />
Kau juakah yang akan memisahkan<br />
Burung kematian seakan menjawab pertanyaan<br />
Selepas senja kuhampiri dengan sejuta kenangan<br />
Pilu hati memberangus kesedihan<br />
Tidak..bukan kesedihan tapi kebahagiaan<br />
	Bukan tak mampu membedakan<br />
Antara kesedihan dan kebahagiaan<br />
Karna satu permintaan<br />
Telah terwujud begitu mengharukan<br />
Bukan tak mampu membedakan<br />
Sebab mata ini begitu menggoda perasaan<br />
Percaya atau tidak jangan jadikan pertanyaan<br />
Tidakkah selaksa kebersamaan adalah jawaban<br />
	Jangan tanya pada bukti cinta<br />
	Lihat apa yang ada pada sinar mata<br />
	Tidakkah aura cinta terpancar dari sana<br />
	Jika tidak kau berucap maka kau berdusta<br />
Aku bertanya pada jejak-jejak perjalanan<br />
Apa yang akan terucap dari bibir hari esok ?<br />
Apa jawab dari masa depan dari apa yang telah terjadi terhadap diri seseorang ?<br />
Kebijaksanaan macam apa yang akan diberikan ?<br />
Akankah tirai kemurahan tersibak dengan luas ?<br />
Apakah dua tangan, kesabaran dan keikhlasan dapat menggamit dua jiwa yang berbeda ?<br />
Jalan mana yang harus ditempuh untuk menuju pada hakikat kebenaran ?<br />
Apakah diam akan menjawab kerisauan dan kegelisahan hati ?<br />
Apa kata sang hari dalam kerentangan siang dan malam ?<br />
	selepas itu kami mulai bercengkrama kembali menggeluti pekerjaan masing-masing seperti biasa pagi jalan berdua diatas roda dan pulang bersama kadang kala saat pulang kami mampir ketoko sekedar membeli sesuatu dan kadang kami makan bersama mencari makan malam bersama dan menghabiskan waktu bersama diberanda.<br />
Setiap senja tiba aku duduk diberanda kost, kami bersenda gurau bersama bercerita tentang apa saja yang dapat membuat kami merasa bahagia,<br />
Hanyut aku akan nostalgia<br />
Saat kita sering luangkan waktu bersama<br />
	Dengan senyum dan tawa yang kian menggoda<br />
	Cerita pendek dengan tawa yang manja<br />
Menghias hari-hari indah bersama<br />
Menuai waktu kala senja telah tiba<br />
Duduk kita berdua diberanda<br />
Senyum manismu begitu menggoda jiwa<br />
Dengan lembut dan manja kau bercerita<br />
Gelak tawa menebarkan aroma asmara<br />
	Kebahagiaan saat bersama dengan mesra<br />
Membuat kau selalu terlupa<br />
Lapar dan dahaga sudah tak terasa<br />
Keindahan saat bercerita melupakan segalanya<br />
Ya..dunia seakan milik berdua<br />
Meski kita tau kita berbeda<br />
Semoga tiada dusta diantara kita<br />
Semoga cinta menyatukan kita<br />
Dalam singgasana kemegahannya<br />
	Ya.. aku merasakan getaran-getaran cinta hadir direlung jiwa namun bagaimanapun aku tak mungkin mengungkapkan rasa ini sebab aku tau itu tak mungkin terjalin diantara kami terlalu banyak perbedaan yang harus kami tepis.<br />
Malam itu dia banyak bercerita tentang kekasihnya yang entah dimana tentang apa saja keluarganya, adik-adiknya, kisah tentang kehidupannya pahit manisnya telah dia ungkapkan semua, pengalamannya saat dia bekerja dilain tempat tentang kekasihnya saat dia masih kecil dan masih banyak lagi.<br />
Malam itu dia mengirimkan sms yang sangat mengejutkan aku<br />
“Taukah kau telah kukatakan pada dinding kamarku<br />
sebagai saksi bisu<br />
Telah kukatakan pada sang malam tentang tangisku<br />
Telah kusampaikan pada angin tentang perasaanku padamu<br />
BAHWA AKU MENCINTAIMU.”<br />
Kata-katanya sangat menusuk hatiku ada perasaan bahagia namun ada sesuatu yang entah bagaimana tak dapat aku ungkapkan baik dengan kata-kata, warna tulisan maupun dalam sebuah bentuk, aku kebingungan untuk menjawabnya aku terus berfikir dan berfikir cinta macam apa ini, selama ini aku tak pernah berani menyentuhnya, apalagi memeluknya saat jalan bersamapun aku tak berani untuk merangkul tangannya. tiba-tiba dia nyatakan cinta dia yang kuanggap sebagai sebuah kemustahilan untuk dapat kurengkuh ternyata memberikan peluang bagiku untuk mendekatinya lebih jauh.<br />
Malam itu aku tak menjawabnya, aku biarkan berlalu seperti tak pernah ada dan tak pernah terungkap kata-kata itu, hanya sebuah candaan layaknya senda gurau yang dilontarkan sehari-hari.<br />
Keesokan harinya kuhampiri seperti biasa, terlihat jelas diroman muka ada warna bahagia terpancar diwajahnya, seperti ada beban yang terlepas dari pundaknya, aku tak tau yang jelas dia merasa malu bertemu denganku pagi itu.<br />
	Waktu terus berlalu tanpa jawaban apa-apa dariku, tak terasa seminggu telah lewat dan malam itu dia mengirimkan pesan singkatnya,<br />
“Apakah angin tak menyampaikan padamu tentang apa yang aku ungkapakan padamu bahwa aku benar-benar mencintaimu ? aku menyayangimu ?”<br />
Kembali aku dirundung bingung, dalam hatiku bergumam aku tak mungkin mendustakan diriku sendiri bahwa sebenarnya akupun mencintaimu, menyayangimu, namun apakah cinta kita kelak mampu menjadi nyata sebagaimana  wajarnya sepasang muda-mudi dalam mencari pasangan hidupnya, bukankah aku pernah menyampaikan padamu bahwa aku mencari seseorang untuk kujadikan pendamping hidupku, sebagai istriku satu untuk selamanya sekali seumur hidupku, jika denganmu aku harus menjalin cinta bukankah hanya kesia-siaan belaka menghabiskan waktu tanpa tujuan cita-cita cinta yang pada akhirnya kelak kita harus berpisah meninggalkan jejak luka yang tertoreh didada ?<br />
dalam kebingungan aku sempat mengungkapkan pada seseorang yang kuanggap seperti saudaraku sendiri, ya.. aku ceritakan semua dan dia memberikan saran untuk mencoba menjalin hubungan dengannya, pun dia juga tau tentang keadaan gadis itu.<br />
Ya.. akhirnya aku menerima cintanya kukatakan padanya<br />
Akupun mencintaimu.. menyayangimu.. akupun tak mungkin mendustakan hati dan diriku sendiri, bahwa aku mencintaimu.<br />
Setelah ini kuanggap dia sebagai kekasihku, meski terkadang sikapnya tak menunjukan aku sebagai kekasihnya, entah mengapa aku tak tau !<br />
Meski ia telah menyatakan cintanya kami tak ubahnya seperti sahabat dekat<br />
Aku tak pernah berani untuk menyentuhnya, apalagi memeluknya saat jalan bersamapun aku tak berani untuk merangkul tangannya aku membatasi diri untuk hal yang satu itu.<br />
Suatu hari ia ingin memeriksakan matanya yang terasa ada yang tak beres dirumah sakit aini kuningan dan kebetulan aku libur hari itu karna tidak ada orderan dan dia pun minta izin untuk cek up kerumah sakit akhirnya kami berdua pergi kesana padahal aku tidak memiliki sim c ya.. bersamanya kulalui tanpa rasa takut sedikitpun apapun rintangan yang ada dihadapanku aku sudah tak peduli bersamanya hidupku terasa lebih berarti karna aku merasa dibutuhkan dipedulikn dan diperhatikan.<br />
Sepulangnya kami singgah ditempat kost kantor didaerah karet untuk men-cek pekerjaan penuggu wartel sebagai bagian dari tugasnya, selepas itu kami mampir untuk makan siang meski waktu itu sudah sore ya.. akhirnya kami makan bubur ayam sambil melepas lelah dan penat dari panasnya mentari yang membakar kulit kami, tak lama kami pulang kuantar dia dikost dan aku langsung pulang tak mampir karna akupun merasa lelah.<br />
Ya.. hari itu selesai sudah meninggalkan jejak yang tak dapat kulupakan berdua bersama mencoba menyatukan satu prinsip dalam suka duka satu penanggungan, tapi apakah semua itu akan berlaku bagi kami ?<br />
	Kecantikan memang menyejukan dan menyenangkan hati<br />
Namun sekaligus memberikan kesedihan yang tiada habis-habisnya<br />
Sehelai rambut keindahannya yang jatuh dipangkuanku<br />
Telah mengusutkan tali pikiranku<br />
Warna-warna cinta yang begitu elok<br />
Dalam sebuah lukisan-lukisan keindahan<br />
Lantunan kata-kata yang begitu jelas<br />
Terucap penuh dengan keyakinan<br />
Begitu lirih terdengar diliang telinga<br />
Namun menusuk relung jiwa<br />
Luntur segalanya..<br />
Luruh segalanya..<br />
Dihempas butiran airmata<br />
yang jatuh berderai membasahi pipi<br />
	seakan luluh lantak hati dan jiwaku<br />
luruh pandanganku ditelan airmatanya<br />
ia yang telah merenggut hati dan jiwaku dengan darah<br />
dengan tipu daya laksana bulan sabit<br />
ia tidak menghendaki keelokan diriku<br />
setiap aku datang dengan sejuta rindu<br />
ia selalu memberikan seribu alasan<br />
aku diam dengan hubunganku ini.<br />
Apa arti tangis bisumu  !<br />
Jujur kuberkata dalam sejuta Tanya..!<br />
Ditengah selaksa tawa dan canda<br />
Ranting dan dedaunan ikut berdansa<br />
Angin bersorak gembira<br />
senyum terkulum hadir dicelah bibir sang mentari<br />
	Ditengah kelamnya malam<br />
	Aku tenggelam dibawah temaram<br />
	Cahya bulan yang terasa suram<br />
Langkahku terhenti<br />
Dua jalan dihadapkan hati<br />
Aku tak sanggup memilih<br />
Mana yang akan kupilih<br />
Meski darah terasa mendidih<br />
	Walau jiwa ini terasa perih<br />
Menyayat relung kalbu yang pedih<br />
	Aku terasa kaku<br />
	Aku ragu dan malu<br />
	Aku tak tau ..<br />
	Dari sini aku kadang kebingungan menghadapi sikapnya padaku terkadang dia acuh padaku, terkadang tak mempedulikan kehadiranku dan yang lebih menyakitkan ketika dia meminta aku datang menemaninya sikapnya sangat mengecewakan aku seolah dia tak mepedulikan kehadiranku entah apa yang membuatnya berlaku seperti itu dan sering kali ironi demi ironi terlempar dari bibirnya yang membuat aku tertunduk malu yang membuat sejuta Tanya kembali merasuk jiwa.<br />
Biarlah kan kupendam sejuta rasa<br />
Yang menggelora bak ombak samudra<br />
Akan kupendam seiring dengan buaian nada<br />
Dengan canda dan tawa bocah-bocah jenaka<br />
	Akan kujadikan malam nan sepi<br />
sebagai teman sejati<br />
kan kubiarkan angin yang menerpa diri<br />
sebagai penghalau rasa sepi dihati<br />
kemana akan kubawa diri<br />
gejolak amarah yang menjadi-jadi<br />
aku merasa kehilangan jati diri<br />
aku terhempas badai emosi<br />
tak sanggup kurebahkan diri<br />
ditengah kelembutan hati<br />
jalan terjal akan kutiti<br />
demi sebuah harga diri<br />
	apalah arti diri datang menghampiri<br />
jika sapaan tak jua diberi<br />
ingin rasanya aku segera berlari<br />
melangkah jauh tanpa basa-basi<br />
aku biarkan segalanya mengalun seperti angin mengalir seperti air dan aku tetap tabah apapun yang dia lakukan terhadapku apapun yang dia perbuat terhadapku aku terima dengan keikhlasan hati karna aku benar-benar mencintainya menyayanginya, dan tak terasa semua berlalu begitu saja meski didalam dada ini masih terpendam beribu pertanyaan<br />
	laju kita berdua diatas roda<br />
	menyusuri sepanjang sisi kota<br />
	hanyut dalam dekapan asmara<br />
yang terasa hangat membuai jiwa<br />
sesekali kau berceita<br />
senyum dan tawa menghias<br />
diantara ramainya kota<br />
perlahan kulaju siroda dua<br />
karna kutau kau terasa lelah<br />
setelah sekian lama melangkah<br />
	jangan pernah kau katakan<br />
	cukup sudah..<br />
	sebab kau adalah..<br />
	sebab kau telah..<br />
	sebab kaulah..<br />
Selepas semua yang telah terjadi dan berlalu seakan tak pernah terjadi apa-apa terhadap hubungan kami berdua semakin banyak problem yang kami hadapi dan mampu untuk kami lewati maka semakin bertambah pula cinta kasih sayang diantara kami berdua </p>
<p>Dua puluh November dua ribu tiga<br />
mungkin sebuah kenangan yang tak akan terlupa<br />
dipenghujung saat bulan puasa<br />
seperti biasa kita melangkah berdua<br />
melepas segala duka<br />
sejenak kurasa begitu mesra<br />
ketika kau genggam jemari lekat bersama<br />
kau tersenyum ditengah keramaian kota<br />
rasa bahagia menyeruak direlung jiwa<br />
entah mengapa kau hadir membuai jiwa<br />
	dan tak lupa sebuah boneka<br />
	kuhadiahkan untukmu jua<br />
	tatkala saat berbuka tiba<br />
	sejenak kulepaskan rasa dahaga<br />
	berdua disebuah meja<br />
	ditengah keramaian orang berpesta<br />
	sejenak mengalun lagu asmara<br />
	menambah kemesraan kisah berdua<br />
janganlah kiranya<br />
kau padamkan bara asmara<br />
tatkala hangat mulai membuai jiwa<br />
	lihatlah tatkala jalan<br />
	dihempas khayal sejuta impian<br />
	dirapuhkan dada langit<br />
	terkungkung diperut bumi<br />
	diri bersimbah peluh nestapa<br />
wajah-wajah yang tak kenal nama<br />
tergerakkan hati yang keras membaja<br />
berharap langkah lemparkan senyuman<br />
terbelenggu rembulan sinarkan mentari<br />
bayang-bayang semu terasa kaku<br />
diujung satu kata malu..<br />
	mengapa..mengapa !<br />
	setelah kau berikan jawaban Ya..!<br />
	jangan lagi kau bertanya<br />
mengapa..!<br />
sebab itu tak layak..<br />
sebab itu tak pantas..<br />
Senyum awal dari segalanya, percakapan dan pertemuan, senda gurau, langkah bersama telah menghapuskan segala perbedaan, benih-benih cinta dan sayang telah perlahan tumbuh dihati kami, buih-buih harapan mulai bersemi, tapi siapa yang tau jika kelak hanya berada dalam lingkaran buta dan semu.<br />
Kisah yang sangat menakjubkan begitu manis dan indah tentang sebuah kebenaran dan kejujuran. saat pertama dia tersenyum ia memberikan arti dari hampanya dunia hati, memberikan pilihan bahwa tak ada lagi cinta, tak ada lagi waktu.<br />
Sabtu pagi setelah dua tahun hubungan kami berjalan dia hendak pulang kerumahnya aku antar dia mencari bis untuk ditumpanginya sebelum itu kami mampir untuk sarapan pagi, bubur ayam ditempat kami biasa makan, sambil bercerita dia mengungkapkan perasaannya yang terdalam aku hanya tercengang mendengarnya<br />
“Apakah kamu tidak tau atau tidak merasakan apa yang aku rasakan terhadapmu selama ini ? dua tahun aku memendam rasa ini ian, dua tahun aku kau biarkan tersiksa menanggung beban rasa ini, setiap kamu datang padaku aku begitu bahagia dengan kehadiranmu disisiku, dan setiap kamu melangkah pulang dari sisiku dan kau biarkan aku begitu saja rasanya seperti aku kehilangan kamu setiap sebelum kamu pulang kau sentuh pundakku aku merasakan kebahagiaan yang begitu dalam dan terkadang dengan tanganmu kau sentuh tanganku aku benar-benar merasa bahagia, dan mengapa selama dua tahun ini kamu tidak pernah memberikan aku sebuah pelukan, dua tahun aku memendam rindu yang teramat sangat padamu ian, selama itu pula entah berapa banyak airmata yang mengalir membasahi pipiku apakah kamu tidak menyadari hal itu atau kah kamu memang tak mencintaiku dan tak menyayangiku ?”<br />
   Saat itu aku tak menyangka dia akan mengatakan hal itu padaku dan saat itu rasanya jika saja tidak ditempat umum airmataku akan jatuh dan akan kupeluk dia saat itu juga, namun aku biarkan segalanya aku berikan dia sapu tanganku untuk menyeka airmatanya aku tak berani menyentuhnya dan aku tak menjawab apa-apa hanya diam bibirku tak mampu bicara lidahku terasa kelu dalam dadaku ada getaran hebat sedahsyat gelombang samudra yang menghempas batu karang aku tahan semua rasa ini aku tepis semua rasa itu sementara ia masih terisak menangis aku coba alihkan perhatian dan pembicaraan, darisini aku benar-benar tak mengerti apa makna cinta itu sebenarnya ?<br />
Ya.. dia menangis untuk sebuah pelukan karna rindu, cinta dan sayang benarkah ?<br />
Benarkah sebuah pelukan adalah bukti cinta itu ?<br />
Benarkah sebuah pelukan adalah tanda cinta dan sayang<br />
Dari sinilah awal yang membuat aku terhempas pada dirinya yang membuat cinta itu menjadi ternoda yang membuat cintaku padanya tak lagi suci, yang membuat semua berubah bukan lagi cinta sejati dan bukan lagi rasa sayang yang tertuang.<br />
	Aku biarkan kenyataan ini berlalu, sejenak aku lupakan keinginannya dan kuaanggap semua adalah sesuatu yang tak penting untuk dibahas, suatu ketika ia kembali kekost, dan secara kebetulan handphoneku sedang rusak dan aku memberi tau dia agar bila membutuhkan aku hubungi saudaraku, sore itu entah mengapa aku begitu rindu padanya rasa yang kian menggebu yang mengatakan berkali-kali bahwa dia membutuhkan aku tapi kabar dari saudaraku tak kunjung datang, maka aku nekat menghampirinya malam itu, dan anehnya dia telah menunggu aku sejenak setelah dia mengirimkan kabar agar aku datang untuknya namun saudaraku menjawab bahwa aku tidak ada hingga dia terheran-heran seakan ada satu kekuatan batin diantara kami untuk mempertemukan kami malam itu, dia bercerita tentang kekasihnya sewaktu dia kecil dan kemarin waktu dia pulang dia mendapat kabar bahwa kekasihnya yang dulu ingin menjenguknya dan dia juga mengatakan jika dia benar-benar datang kejakarta akan dipeluknya erat-erat, aku terhenyak mendengarnya dan aku tak dapat berbuat apa-apa karna memang kami berbeda dan diantara kami harus merelakan kepergian satu sama lain jika memang takdir memisahkan kami berdua untuk satu kebaikan, dan aku rela demi kebahagiaannya, inilah pertama kali aku merasakan gejolak dalam dadaku yang begitu dahsyat ingin marah tapi entah mengapa aku tak bisa, emosi menjadi-jadi tapi untuk apa, aku tertunduk diam,.. diam membisu seribu bahasa begitupun dengan dia tanpa kusadari dia menyandarkan kepalanya dibahuku isak tangispun menggema diliang telingaku kuseka airmata yang berleleh ditepi matanya, sudahlah jika kau masih mencintainya hampirilah dia, raihlah cita-citamu demi kebahagiaanmu, aku rela.<br />
Perlahan aku berdiri dan kupeluk ia erat dan semakin erat kurasakan getar darahku mengalir deras, detak jantungku semakin kencang bergema nafasku tak beraturan kucoba menahan semua rasa, tak kusangka dia merapatkan bibirnya padaku ya. kami bercumbu perlahan tapi pasti, tak lama kulepaskan dan kukatakan maaf.. dan langsung aku hendak pamit untuk pulang kukenakan kacamataku, kututup mulutku dengan sapu tangan kuhampiri motorku hendak berlalu, namun dia menghampiriku dan memeluk tubuhku kembali serta merta menarik sapu tangan penutup mulutku untuk kedua kalinya kami bercumbu, ya.. malam itu hanya rembulan dan sang malam yang menjadi saksi bisu atas apa yang telah kami lakukan, setelah puas dia berkata “maafkan aku sayang dan tolong jangan anggap aku adalah perempuan murahan aku lakukan semua ini atas dasar rasa cintaku padamu, rasa sayangku padamu !”kukatakan padanya “tidak sayang aku tak akan menganggapmu demikian aku mau karna akupun mencintai dan menyayangimu dengan setulus hatiku, percayalah “!<br />
Kutinggalkan ia dengan senyum penuh kepuasan, kerinduan yang terpendam selama dua tahun seakan telah terbayar, terpancar jelas diaura wajahnya senyum kepuasan itu senyum yang tak lagi terkulum, bahagia sejenak memberangus jiwa.</p>
<p>Dihening malam ini<br />
Resah rintik gerimis datang<br />
Menghanyutkan sinar rembulan<br />
Buram kaca jendela<br />
Seburam waktu yang berlalu<br />
Sedang aku masih menunggu<br />
Ungkapan rasa dari keinginan baikku<br />
Untuk bersama menempuh hidup baru<br />
Tak usah kau ingat<br />
Bayangan gelap kernyataan diri<br />
Tanpa sutradara..relakan..<br />
Lihatlah tangan menghapus noda-noda kehidupan<br />
	Dirimu dihadapanku tetaplah utuh<br />
Demi keinginan baikku<br />
Untuk bersama menempuh jalan hidup<br />
Kuingin selalu berada didekatmu<br />
Sepanjang hidupku membawamu..<br />
Kepuncak bahagia..<br />
Nikmati mentari<br />
Mendekapmu dibawah cahya rembulan.<br />
Dia telah mengisi hatiku penuh dengan cinta<br />
Dia membuat seluruh hidupku menjadi lebih baik<br />
Dia telah mengisi jiwaku dengan segala hal yang indah<br />
Dia telah memenuhi ruang pikiranku dengan bayang dirinya penuh khayalan liar<br />
Kemanapun aku pergi bayang dirinya selalu bersamaku<br />
Siapakah yang ingin kesepian..!<br />
		Keesokan harinya sebut saja namanya anton kekasih semasa kecilnya akan datang namun dia tak tau tempat kost ini dan akhirnya janji bertemu disuatu tempat apa yang terjadi sungguh diluar dugaannya rupanya anton telah berubah dalam pandangan matanya tak seperti apa yang ada dalam harapannya dalam benaknya, entah apa sebabnya aku juga tak mengerti<br />
“seharusnya aku seneng lihat abang datang tapi ini aku tak tau, selama ini abang tak pernah memberi kabar ke aku jadi, ah.. aku tak tau ?<br />
“kenapa lis..? apa ada yang berubah dari diriku, kenapa lis ?<br />
dan hari itu berlalu sampai mereka tak jadi datang ketempat itu dan mereka kembali tapi dalam hatinya ia merasa tak enak hati karna kedatangan anton disertai pamannya yang sudah cukup umur, karna perasaan inilah akhirnya ia menyusul kedaerah yang terbilang rawan, ya.. tanjung priok ia rela mengambil resiko itu untuk memohon maaf atas sikapnya yang kurang sopan, dan masih sama seakan anton menjadi seseorang yang tak baik dalam pandangannya, selepas itu ia kembali pulang, senja itu ia meminta aku untuk datang dan ia menceritakan semua kejadian hari itu dengan nada kecewa dan selalu airmata mengalir disudut pipinya setelah ia berkisah, dan kembali kubiarkan ia memeluk tubuhku dengan erat dan kubiarkan ia menangis didadaku, dalam pelukanku.<br />
 	“Taukah kau apa yang kurasakan pada saat kau pergi menghampirinya ? aku serasa akan kehilanganmu, kehilangan cintaku ? kamu tau rasanya ? sesak nafasku, sesak dadaku untuk mencoba menerima kenyataan ini duniaku seakan hampa tanpa dirimu !<br />
Semoga hari esok kita masih dapat bersama lagi seperti hari-hari yang telah lalu dan biarkan apa yang terjadi hari ini sebagai pelajaran berharga untukmu, camkan itu..!”<br />
Rasa kecewa dalam dadaku masih membiru, terbayang jelas akan kata-katanya dia mencintaiku, menyayangiku tapi mengapa masih membuka hati pada kekasihnya yang dulu, sungguh aku tak mengerti apa makna cinta itu baginya !<br />
Semakin lama kisah cintaku dengannya<br />
Seperti memasuki sebuah dunia baru<br />
Perasaan yang masih menjadi sebuah misteri<br />
Yang tak terungkapkan<br />
	Apa yang dapat ia berikan<br />
	Hanya pelukan dan ciuman<br />
	Ya..hanya itu..hanya itu..<br />
	Namun makna hanya itulah<br />
	Yang membuat aku<br />
	Tersiksa lahir dan batin<br />
	Siang dan malam tiada henti<br />
Kerinduan ini semakin dalam padanya<br />
Sungguh aku tak dapat menghindrinya<br />
Setiap saat bayang wajahnya hadir dipelupuk mata<br />
Kata-katanya nan lembut selalu mendesah<br />
Diliang telingaku<br />
	Ingin rasanya kututup kedua mata<br />
Ingin rasanya kututup kedua telinga<br />
Bagaimanapun telah kulakukan<br />
Tetap tak terelakan<br />
Jika hanya itu cintakah ia..<br />
Sayangkah ia..sungguh tiada terkata<br />
Kebimbangan dalam jiwa<br />
Siapakah aku baginya<br />
Siapakah aku dihadapannya<br />
	Jawablah dengan kata-kata<br />
Yang berasal dari lubuk sukma<br />
Meskipun sesak terasa ungkapkanlah..<br />
Agar tenang jiwaku..<br />
Agar tentram hatiku..<br />
Hasrat tak terjerat semakin dalam terpendam<br />
Lantunan lagu asmara begitu indah terdengar<br />
Meluruhkan hati dan jiwa dalam bayang kerinduan<br />
Begitu menyejukan relung kalbu<br />
	Setiap saat bayang wajahnya<br />
	Memenuhi ruang pikiranku<br />
	Hati dan jiwaku terjerat dalam pelukannya<br />
	Aku tak dapat lari dari lingkaran cintanya<br />
Semakin lama semakin terbiasa<br />
Tiada lagi jengah menghalau jiwa<br />
Walau tiada kenikmatan kurasa<br />
Bahagiaku ada bersamanya<br />
	Ingin kuteriak namun lelah kurasa<br />
menghimpit jiwa,andai airmata<br />
jatuh diantara relung jiwa sebab..<br />
cinta datang begitu merajuk sukma<br />
entah kemana hendak kuhempaskan<br />
badai asmara yang kian bergolak<br />
kata–kata dan tulisan<br />
tak mampu mengungkap rasa<br />
ingin kupergi dan berlari<br />
jauh meninggalkan sebuah tirani<br />
tanpa sapaan dan basa-basi<br />
tubuh ini seakan tak mampu lagi bediri<br />
aku terjerat dalam perangkap cinta<br />
sungguh aku tak dapat menutup mata<br />
langkahku tertatih dan melata<br />
tak dapat lagi kuungkapkan<br />
sebuah makna dalam kata-kata<br />
	yang ada aku ingin selalu berada didekatnya<br />
	disisinya mendekapnya,memeluknya<br />
dalam kehangatan yang tak terukur<br />
kedalamannya dalam dadaku.<br />
 15 agustus 2004</p>
<p>	Salam sayang selalu..<br />
	Jika kau katakan<br />
	“kalau aku ada didekatmu, bolehkah aku bukan hakmu ?”<br />
	jawabku<br />
“kapankah aku pernah menuntut banyak hal darimu !”<br />
jika kau katakan<br />
“kalau aku ada disisimu, salahkah aku harus tetap jadi diriku ?”<br />
jawabku<br />
“kapankah aku pernah memaksakan kehendakku padamu !”<br />
soal milik dan kepemilikan kau hanya mengajukan kalimat retorik<br />
ia tak dapat diakui keabsahannya jika tidak terikat oleh tali pernikahan<br />
ia tak dapat terejawantahkan dalam bentuk apapun sebelum akad disahkan<br />
tidakkah aku telah memberikan banyak kebebasan padamu !<br />
renungkanlah.”<br />
Inilah tahun ketiga aku menjalani kisah ini semua seperti berjalan diatas roda yang berputar, kami semakin terlena dengan cumbu rayu mencoba mencari titik kenikmatan semu walau kami masih bisa menjaga keutuhan kehormatan kami entahlah kami selalu diburu rasa penasaran akan rasa itu tapi bagaimanapun kami coba tetap tak terengkuh entah bagaimana dengan dia aku tak tau, puaskah dia dengan apa yang kami lakukan aku tak tau, namun disela kebahagiaan yang kami rengkuh tetap saja kesedihan hadir diantara relung jiwa kami sebab kami tak akan pernah bisa untuk saling memiliki entah bagaimana dengan cinta ini, dengan rasa sayang ini ?<br />
Salahkah aku jika telah mencintainya ?<br />
Salahkah aku jika telah menyayanginya ?<br />
Inilah satu diantara beribu hal yang tak dapat kami jawab, dalam hal ini aku mencoba mencari jawabnya berbagai sumber kucoba mencari dan menelaahnya dalam dalam tapi taukah anda apa yang kudapat ?</p>
<p>Dari sini aku mencoba mencari dasar-dasar hukum untuk kisah cinta ini dapatkah dilanjutkan atau dihentikan adakah kebaikan didalamnya seandainya kami bersatu, dari berbagai sumber buku kucoba memahami dan kucoba bertanya pada orang-orang yang memiliki pengalaman yang cukup akan arti kehidupan ini bahkan ustad dan kyai pun tak luput dari incaranku, apa kata mereka ?<br />
Sebuah buku JALAN CINTA SANG SUFI  Jalaludin rumi banyak mengungkapkan tentang cinta beberapa kutipan dari buku itu diantaranya..<br />
Ya..Tuhan tunjukanlah pada kami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya yang tersembunyi..<br />
keesaan berada disisi lain dari segala gambaran dan keadaan<br />
tiada kemenduaan memasuki arena permainan kata-kata<br />
makna dalam bait hanya sembarang<br />
karna puisi bagai kain gendongan<br />
tak sepenuhnya dapat dipegang.<br />
	Jika kau kehilangan hati dalam jalan cinta<br />
	Datanglah padaku secepatnya<br />
Akulah benteng tak terkalahkan<br />
Akulah sayap-sayap kerinduan<br />
Akulah istana para pecinta<br />
Cinta..<br />
Memang bukan untuk dibicarakan tapi untuk dirasakan<br />
Tiada salahnya aku berbicara tentang cinta<br />
Walaupun rasa malu melingkupiku<br />
Ketika aku sampai pada cinta itu sendiri<br />
Ia tak terjangkau oleh kata-kata dan pendengaran<br />
	Inti cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan<br />
	Ia memiliki begitu banyak tamsilan<br />
Yang berada diseberang kata-kata<br />
Cinta dan percintaan hanya dapat diterangkan melalui cinta<br />
Manakala kau menjadi seperti aku, kau akan tau<br />
Ketika Dia memanggilmu<br />
Kau akan membaca kisahnya<br />
Jika cinta adalah dahaga yang sempurna<br />
Biarkan aku berbicara tentang air kehidupan<br />
Dunia bagaikan sebuah cermin<br />
Yang memantulkan kesempurnaan cinta<br />
Hingga engkau memahami kedahsyatan cinta<br />
Tataplah..cinta..<br />
	Dia yang tak memiliki warna cinta<br />
Tiada lain adalah kayu dan batu<br />
Setiap dada tanpa kekasih<br />
Adalah tubuh tanpa kepala<br />
Insan yang jauh dari perangkap cinta<br />
Adalah burung tanpa sayap<br />
Jika cinta dalam diri seseorang tidak menggetarkannya<br />
Ia tiada bedanya dengan keledai<br />
Jika kau bukan pecinta<br />
Jangan pandang hidupmu adalah hidup<br />
Kehidupan tanpa cinta tiada artinya<br />
Ia adalah air kehidupan<br />
Reguklah ia dengan hati dan jiwa<br />
Terbanglah kearah cinta<br />
Dengan sayap-sayap cinta<br />
	Seorang pecinta tidak menangis karna keadaannya yang menyedihkan<br />
	Tidak juga menggosok matanya karna sakit hatinya<br />
	Dia tidak menginginkan hari keberuntungan<br />
Tidak juga mencari malam yang menyenangkan<br />
Hatinya tertutup antara siang dan malam<br />
Bagai fajar..<br />
Malam adalah sahabat para pecinta<br />
Saksi bagi keluh kesah dan airmatanya<br />
Dalam tangis ia bagai salju<br />
Dalam tegak bagai gunung-gunung<br />
Dalam sujud bagai air<br />
Dalam kerendahan hati seperti debu jalanan<br />
Mungkinkah manusia akal mengetahui sakitnya hati karna kekasih..?<br />
	Kebijaksanaan Tuhan dalam titahnya<br />
Telah menjadikan kita sebagai para pecinta<br />
Satu dengan yang lainnya<br />
Takdir telah menetapkan segalanya berpasang-pasangan<br />
Menempatkan mereka didalam cinta<br />
Dengan pasangan masing-masing<br />
Dia berbicara manis dan mengalirkan kata-kata<br />
Pada bunga dan menjadikannya tertawa<br />
Dia menjadikannya sudut lembut pada kabut<br />
Dan membasahi matanya<br />
	Mungkinkah tangan dan kaki bergerak tanpa hasrat ?<br />
	Mungkinkah ranting dan dedaunan bergerak tanpa angin ?<br />
	Jika demikian apa yang kau tau tentang cintanya pada bunga !<br />
Bagi mata yang terang<br />
Cinta adalah keajaiban cahaya abadi<br />
Meski dalam wujud kasar ia adalah bentuk dan nafsu<br />
Jangan kau pilih kawan yang jahat diantara yang tidak jahat<br />
Karna kedekatan dengannya tiada lain<br />
Kecuali sesuatu yang terpinjam</p>
<p>Sungguh tiada pecinta meraih persatuan<br />
	Tanpa kekasih yang mencarinya<br />
	Manakala kau mengharapkan seorang pecinta<br />
Ketahuilah bahwa dia juga yang dicintai<br />
Hati seorang pecinta lebih besar dari singgasana Tuhan<br />
Kebesaran cinta diukur melalui apa yang dicintai<br />
Setiap pecinta bergantung pada keutamaan yang dicintai<br />
Ketika yang dicintai lebih lembut<br />
Maka sang pecinta lebih agung<br />
Manakala cahaya cinta<br />
Mencintai tubuh didalam hati ini<br />
Ketahuilah bahwa tiada cinta didalam hati itu.<br />
	Mungkinkah pengetahuan yang tak sempurna melahirkan cinta ini ?<br />
	Oh..pecinta lihatlah dengan seksama siapakah kekasihmu ?<br />
Jika cinta adalah seorang sahabat<br />
Maka dimanakah tanda persahabatannya<br />
Segalanya tiada lain adalah<br />
Wajah sahabat yang telah sirna dalam penglihatannya<br />
Jika aku menerangkan tentang cinta<br />
Tujuh purnama belumlah purna<br />
	Dikau yang mempesona<br />
Membakar jiwa-jiwa seribu pecinta<br />
Kau benar-benar segar,mempesona dan menawan<br />
Bagai akal dalam pikiranku<br />
Bagai anting-anting ditelingaku<br />
Ketika aku masuki kebun kaulah bakung<br />
Ketika aku menyelam kedalam lautan kaulah mutiara<br />
Ketika aku mendaki langit kaulah bintang<br />
Dalam tidurku kaulah mimpi<br />
Ketika terbangun kaulah kesadaran baruku<br />
	Mengapa aku harus meratap bagai malam tanpa siangnya<br />
	Karna aku tidak berada dalam kemenyatuan<br />
	Dengan wajahmu yang menyinari hatiku<br />
Pahitnya adalah manis bagi jiwaku<br />
Kukorbankan hidupku demi kawan<br />
Yang memberiku derita jiwa<br />
Gulungan hatiku meluaskan keabadian tanpa akhir<br />
Perpisahan dan ketelepasan dengannya begitu berat kurasa<br />
Terutama setelah berada dalam pelukanmu<br />
Pikirkanlah apakah lukisan<br />
Tak akan berpisah dari sang pelukis ?<br />
	Keindahan wajah-wajah bunga yang menjadikan hati<br />
Yang membara bagai bunga-bunga<br />
Itulah sumber segala godaan<br />
Yang berasal dari dagu dan pipi para pecinta yang menyala</p>
<p>Pikiran yang benar selalu membuka jalan<br />
Dan jalan yang benar berada dalam kemesraan-kemesraan<br />
Bersama seorang kekasih<br />
Seperti sebuah taman<br />
Gambaran wajah dikau yang datang<br />
Dan membawakan cerita-cerita<br />
Tentang bibir dikau yang manis bagai gula<br />
	Demi mempelajari gambaran wajah dikau<br />
	Aku harus menjadi tidak lebih dari sekadar sebuah tulisan<br />
Oh..kau yang memiliki wajah bagai bunga<br />
Dan rambut yang tergerai<br />
Hatiku bahagia manakala<br />
Aku berada dalam  kepedihan karnamu<br />
Jangan kau lihat kepedihan cinta adalah kepedihan !<br />
Ketika kau tuangkan kepedihan padaku<br />
Aku malu pada kelembutanmu<br />
Karna telah bertahun-tahun hatimu membatu<br />
Cobalah sekali waktu menjadi debu<br />
Jadilah debu hingga kau tumbuh<br />
Bagai bunga yang beraneka ragam<br />
Apa arti musim gugur ini ? nafas keangkuhanmu !<br />
Apa arti musim semi ini ? nafas pengakuanmu !<br />
	Ketika gambaran nafas dikau yang yang manis<br />
	Berhembus dari hati<br />
	Nyala membakar cakrawala dengan api cinta<br />
	Segala yang dicintai menguap dari hadapan kita<br />
Bagai imajinasi dan menempatkan<br />
Gambaran kekasih kita dihadapan mata<br />
Gambaranmu senantiasa berada didepan mataku<br />
Mimpi yang menakjubkan<br />
Yang kulihat disaat aku terjaga<br />
Aku telah melihat keindahanku dalam keindahanmu<br />
Aku semayamkan gambaran keindahan dikau dalam dadaku<br />
Jika engkau cintaku<br />
Haruskah memiliki bentuk dan lukisan<br />
Meski cinta mengatasi segala bentuk tapi<br />
Ia menempatkan diri dalam keindahan dirimu<br />
	Mengapa aku terus saja berbicara tentang persatuan denganmu<br />
	Bagaimana aku akan melukiskan keindahanmu !<br />
Setiap waktu kau beri aku beberapa alasan<br />
Kau begitu cemburu dan sulit menerima sesuatu<br />
Datanglah..!<br />
Karna engkaulah yang telah memberikan keindahan dan kemegahan<br />
Tapi jika seorang pecinta dalam kerinduannya<br />
Menganggap sebuah bentuk berasal dari engkau<br />
Samudra tak terjangkau<br />
	Suatu ketika engkau membakar tabir-tabir<br />
	Dilain waktu engkau tetap menyembunyikannya<br />
Pernyataan mempunyai sebuah mata<br />
Tapi kepentingan diri mengatasinya<br />
Kepentingan diri adalah tabir bagi mata hati<br />
Jika kau ingin melihat kawan sejatimu<br />
Dalam bayang-bayangnya<br />
Senantiasa tundukan hatimu..<br />
Tidak adakah seseorang yang menerima perbendaharaan<br />
Dari cahaya cinta<br />
Sehingga penglihatannya mampu menjangkau ujung terjauh<br />
Lalu..<br />
Kau akan tau<br />
Bahwa..<br />
Kawan yang baik dan setia<br />
Hanya berasal dari karunia-Nya<br />
	Jika aku telah melukai hatimu,maka jangan kau balut ia..<br />
	Jika aku telah merobek jubahmu,jangan kau tambal ia..<br />
Manakala kabut cintamu menurunkan hujan<br />
Mutiara yang tiada taranya<br />
Seribu bentuk yang indah akan tumbuh dari hati<br />
Bagaimanapun juga aku sedang menggambarkan kemurahan Tuhan<br />
	Oh..rembulanku cahaya lilinku<br />
	Sejak pertama kali aku melihatmu<br />
Dimanapun aku duduk adalah kesenangan bagiku<br />
Kemanapun aku pergi selalu berada diantara bunga-bunga<br />
Ketika pipi matahari menjauh dari wajah bumi<br />
Malam membentangkan kain hitam perpisahan<br />
Ketika aku jauh darimu<br />
Kuajari bumi agar menjadi gelap dan suram<br />
Ketika aku melihatmu<br />
Walau sesaat aku terangi langit biru<br />
	Oh..wajahmu bagai rembulan<br />
	Biarkan waktu demi waktu aku meratap selalu<br />
	Karna cintamu yang begitu mengesankan<br />
	Telah menjadi tabir bagiku<br />
Jika bukan karna cinta pada wajah dikau<br />
Untuk apa aku harus berkisaran<br />
Bagai langit yang dicari rembulan<br />
Betapa menakjubkan kelembutan<br />
Yang berasal dari api kekasih tanpa ikatan<br />
	Manakala cinta berkuasa dan menunjukan kemarahannya<br />
	Ia akan menjadikan segala yang indah buruk bagi mata<br />
Melalui cahya keagungan-Nya engkaulah rembulan<br />
Melalui kelembutan-Nya engkaulah taman<br />
Jangan bosan bersamaku karna aku benar-benar saksi yang indah<br />
Jika kau adalah rembulan persatuan<br />
Tunjukan padaku tanda-tanda persatuanmu<br />
	Jika kau ingin bebas dari perut dan bibir segala yang tak matang<br />
	Jadilah sepenuhnya mutiara Tapi pahit dipermukaan bagai samudra<br />
Kapan cinta pernah menyia-nyiakan ketabahan seseorang..?<br />
Kau dilahirkan dari kilauan kemegahan Tuhan<br />
Dan meraih warisan kebaikan dari bintang kegemilangan<br />
Oh..kawan jika kau seorang pecinta<br />
Jadilah seperti lilin larut sepanjang malam<br />
Membara dalam kesenangan hingga pagi menjelang<br />
Dia yang bagai cuaca beku dimusim panas<br />
Bukanlah seorang pecinta<br />
Ditengah musim panas<br />
Hati seorang pecinta membakar musim gugur<br />
	Wahai kawan jika kau memendam cinta yang ingin kau nyatakan<br />
	Maka ..<br />
	Teriaklah..Teriaklah<br />
Seperti seorang pecinta tapi<br />
Jika kau terbelenggu oleh nafsu<br />
Jangan menyatakan sesuatu pada cinta<br />
Bagaimana mungkin seorang pecinta menyatu dengan nafsu<br />
Lihatlah aku,jika lau melirik pada yang lain<br />
Kau tak akan sadar akan cinta sejati<br />
	Jangan bingung oleh kekerasanku<br />
	Dan jangan diam<br />
	Meski aku sungguh keras tapi<br />
	Seribu kelembutan tersimpan didalamnya.<br />
Oh..Tuhan jangan kau curi hati kami dari kami<br />
Kami bukanlah pencuri<br />
Kami adalah orang-orang kepercayaan<br />
Lihatlah kata-kata kami<br />
Harum seperti wangi bunga-bunga<br />
Kami adalah rumpun bunga<br />
Dari taman kesejatian<br />
Kami tiada lain adalah hamba cinta<br />
	Oh..cinta jika kau mencari kami<br />
Datanglah pada kubah biru<br />
Istana kami adalah sebuah benteng<br />
Yang memberi kami keamanan dari keamanan<br />
Meski mata akal memandangku seperti orang gila<br />
Aku memiliki banyak keindahan didalam lingkaran para pecinta<br />
	Ditanah datar ini<br />
Aku adalah burung-burung YANG MAHA PENGASIH<br />
Jangan kau coba temukan garis dan batasku<br />
Aku tanpa batas..</p>
<p>Katakan tentang dirimu<br />
Mutiara-mutiara makna yang aku rentangkan<br />
Diatas kalung pembicaraan<br />
Berasal dari lautanmu.<br />
	Ketika aku memasuki ruang hatiku<br />
Aku bertanya pada sebuah taman<br />
“oh taman yang mengagumkan !<br />
taman apakah dikau ?”<br />
ia menjawab<br />
“yang tidak pernah takut pada<br />
musim dingin maupun musim gugur !”<br />
lihatlah darah dalam bait-baitku bukan puisi<br />
karna mata dan hatiku<br />
sdang menuangkan darah cintamu<br />
ketika darah bercampur kuserahkan warna puisi<br />
sehingga warna pakaianku<br />
tak berwarna darah dan bukan darah berwarna<br />
	aku berbicara persatuan denganmu<br />
kelembutanmu berkata Ya..<br />
jangan lagi kau bertanya “ Mengapa “<br />
sebab itu tak layak<br />
jika bentuk adalah bentuk itu sendiri<br />
maka bertanyalah “ Mengapa “<br />
aku tidak mengucapkan kata-kata ini<br />
cintalah yang bicara,<br />
dalam hal ini aku adalah salah satu<br />
dari sekian manusia yang tak tau apapun<br />
	biar kusingkirkan persoalan-persoalan<br />
	dan mulai menyesali<br />
sepuluh kekejaman hati keindahan<br />
generasi-generasi datang silih berganti, air telah berubah wajah sedang bulan tetap perawan, air dalam gelombang digantikan oleh waktu, namun pantulan rembulan dan bintang-bintang tetap seperti dulu.. setiap cahaya memiliki api, setiap bunga mengandung duri, Engkaulah bunga tanpa duri,Engkaulah cahaya tanpa api..<br />
wahai kawan.. tataplah kerendahan bentangan bumi dan langit yang menjulang tinggi, tanpa kerendahan dan ketinggian, langit tak akan berkisaran, ia adalah bentuk lain dari waktu, sebagian siang sebagian malam, kadang baik suatu ketika derita.<br />
Karna dunia ini bagaikan sebuah mimpi, menutupi segala sesuatu seperti kabut yang menutupi bintang-bintang,ia tak pernah berusaha menyucikan hati dan merenungkan segala yang telah terjadi, dan menatap melalui celah misteri, melihat awal dan akhir dengan mata terbuka.<br />
Apakah yang lebih manis dari pada mengingat kawan sejati ?<br />
Ketika aku sebut namamu kebaikan menjelma,<br />
Tanpa kemenduaan tanpa kesangsian.<br />
Dia yang hanya memerankan cinta, tidak menuntut apapun !<br />
Oh..angin sampaikan salamku padanya hatiku begitu rindu padanya !<br />
	Taukah kau, bahwa menggelorakan salam akan merenggut para pecinta dari yang tercinta, cinta menjadikan roda langit berputar, cinta menjadikan bulan bergerak.<br />
Oh..kawan sejati menjadi seorang pecinta harus menelan dukanya..<br />
Dimanakah dukamu..!<br />
Diam dan kesabaran memerlukan kedewasaan !<br />
dimanakah kedewasaan !<br />
Dapatkah seseorang yang setengah hati meraih gairah cinta !<br />
Apalagi jika ia beku !<br />
Wajah-wajah bunga muncul dari taman,jika tiada taman darimana bunga-bunga !<br />
Tataplah wajah cinta agar kau mampu meraih sifat insan !<br />
Dia yang memiliki keangkuhan menyebabkan hatiku bergetar<br />
Apa yang akan terjadi padaku ketika dia datang padaku dengan cucuran airmata !<br />
Dia yang telah mengisi hati dan jiwaku dengan darah, akan seperti apakah dia manakala datang padaku dengan hajat !<br />
Sehingga jika kekerasan-kekerasan datang padamu dan engkau harus menawar takdir !<br />
jika demikian apakah cinta kepada teman tinggal merana !<br />
jika aku mengatakan kata-kata pahit padamu,itu hanya untuk menghilangkan segala kepahitan.<br />
Suatu ketika hatimu penuh dengan darah, karna pahitnya derita, engkau akan keluar dari segala yang pahit !<br />
seluruh dunia adalah hati yang menawan, tapi begitu mahal bagiku dalam kesenangan bahwa hanya sekali aku ingin menjadi hati yang menawan.<br />
Kini aku akan memberi tau padamu tanpa kata-kata dan dengan misteri-misteri masa lalu yang senantiasa baru,dengarkan..!<br />
Engkau letakkan jemari dibibirmu “ diam “<br />
Aku pasrah, tapi apa yang kau limpahkan padaku akan bicara..!<br />
Sampai kapan kau akan berjalan menuju tepi samudra dalam ketakutan !<br />
Reguklah air cintamu.dan minumlah dengan bahagia, tidurlah dengan nyenyak dengan kelembutan abadi !<br />
Oh,,hati dimanakh kelembutan hari manakala engkau limpahkan cahaya matahari dan menjadikan debu menari-nari !<br />
Kembalilah pada akar dari akar dirimu sendiri !<br />
JALALUDIN RUMI</p>
<p>JIMMY MARULI ALFIAN</p>
<p>PENGANTAR ILMU HUKUM</p>
<p>Kenapa aku turut dihukum dan diusir pergi<br />
Tak ada sidik jari dan barang bukti kejadian<br />
Belum lagi saksi yang membuat kita sangsi<br />
Akan mengubah ingatan menjadi igauan</p>
<p>Ah, Telah tiba masanya kalam sarat kata-kata</p>
<p>Sayang..kaulah yang mencuri buah larangan itu<br />
Disebuah padang yang dipagar lebat pepohonan<br />
Dan wajah sungai memantulkan keinginan<br />
Padahal rantangku penuh menu kesukaanmu</p>
<p>Sambal terasi, dan ikan julung<br />
Juga kemangi dan sayur kangkung<br />
Lihat, betapa nafkah yang tak berkait dengan gundah<br />
Nyatanya kau nakal suka menjarah</p>
<p>Mengaku saja..aku melihatmu sangat lasak<br />
Bergulingan, menangkap ular dengan pecicilan<br />
Katamu, kesetiaan ialah rasa haru akan kutukan<br />
Dan kutukan lekang kalau kau pandai melupakan</p>
<p>Tapi cintaku, aku kini fana<br />
Karna buahmu yang durjana</p>
<p>Ingatkah kau perasaan bosan akan kekesalan<br />
Lalu kau berkata dengan mulut paruh angsa<br />
“aku tak mau lagi dikolam<br />
padma dan kiambang tak ajar nyelam dikedalaman”</p>
<p>hah, bagaimana mungkin kau bisa nyinyir<br />
sedang disini pun kita numpang oleh takdir ?</p>
<p>itulah muasal kau menjadi binal, bermain kehutan<br />
mencuri bebuahan, padahal sebagai perempuan sulung<br />
tak pernah kuminta apapun padamu<br />
selain tatapan yang lekat sepanjang waktu</p>
<p>“omong kosong, kau yang banyak keinginan gadis !<br />
kalau saja kau tak cengeng dan centil menggoda<br />
tentunya kita masih mabuk cinta disyurga<br />
sambil berbalas pantun atau menebak manggis<br />
puah !</p>
<p>pantun ? menebak-nebak buah manggis ?<br />
kau yang selalu menjanji harapan padaku<br />
dengan kata-kata lebih manis dari buah apaapun<br />
dan suara yang membara tanpa ampun </p>
<p>“kaupun, betapa kudus tubuhmu yang bulus<br />
sehijau bayam, serentan daun salam, harumnya seledri<br />
aku bersendaawa dipinggul mulus<br />
dan sebagai laki-laki wajarkah membiarkanmu jadi basi ?”</p>
<p>“norak ! sekarang kita sebatang kara dipenjara<br />
tak adakah yang hendak membesuk sepanjang usia ?<br />
aku menyesal, syahwatmu tak bisa ditanggal<br />
 aku lapar, lambungku tak bisa diajar</p>
<p>oh, wahai sesiapa diluar sana<br />
adakah pembela bisa membebaskanku dari kata-kata ?<br />
lalu selekasnya memulangkanku kesyurga</p>
<p>dahan srikaya membisu karna angin lebih dulu beku<br />
Cuma kicau murai batu<br />
Dan anis merah disangkar bambu</p>
<p>Aku tetap yakin  kau yang bersalah<br />
Mengendap kepekarangan, mendekati pohon pengetahuan<br />
Mematahkan ranting dan mengoyak dedaunan<br />
Lalu mecuri buah-buahan</p>
<p>IMAJI BIDADARI</p>
<p>Kita berkenalan dibawah gerimis, ketika langit masih murung dan cakrawala serupa kedung yang tak terkira dalamnya, dikedung itu pula, kita bertemu, ketika kusebut namamu dengan hening rindu, tubuhmu bangkit dari ketiadaan, syahdu, bermadah, merupa dalam jelaga igaku yang patah.<br />
Hingga kubaptis dirimu sebagai bidadari yang diterjunkan awan lewat tangisnya, bidadari yang merebut waktuku kini, mengungsikan diri dan ingatanku kelampau, kisah-kisah yang terus membuatku risau, ketika kelelakianku menemukan lenguhmu parkir dipinggir kali, sambil menyampirkan selendang ke belukar, menyikat syahwatku sampai aku sekarat dan terbakar.<br />
“aku berkhianat dari kodrat, mencatat setiap gerak ingkar, aku tak bisa menyangkal segala kehadiran tubuh, tubuh silamku, aku tak bisa berpangku pada angan yang centang perenang bagai benang yang tak bertangkai dan tak bercelah-aku dibimbing lengan tak bersudah menuruni lebah dan meremas-remas bukit, aku disalib ditiang yang bernama alif, takdirku yang raib”<br />
	“kaupun terbang seusai perjanjian, akupun meratap dalam sejarahku yang terjarah, sungguhkah kehinaanku akan purna dalam kesaksian buana yang tak lagi bisa bersetia”<br />
	lewat retak doa-doa yang membuncah dalam kata-kata yang tak bisa disimpulkan lewat nada-nada, aku kembali ke kini, tapi gerimis terus mengurungku dengan daya-daya magis, mantra yang tak bisa ditebak maknanya, juga puisi yang mendaki sunyi ke ruang tak terpahami, aku diungsikan dari bumi suciku kelendir yang penuh perih, ke mimpiku yang membusuk,<br />
izinkan kusebut, kau peri khayalanku yang putih, meski kutau<br />
kau hadir dalam alir takdirku yang anyir<br />
kaupun hadir seiring mimpiku yang terpinggir dari arti cinta<br />
kau hadir ketika aku terantuk beribu kutukan dan terbanting ketitik nadir<br />
kau hadir ketika kerinduanku pupus oleh khianat.<br />
Kupuja kau dengan hening, juga bening air, yang terus menerus menggerus kesadaranku untuk menemu kedung-kedung baru, kedung yang kau usung didadamu, dicelah farjimu, di matamu, kedung yang tak henti mengurung sepi dan mimpiku untuk terus membubung, memetik harapan-harapan agung, seperti seorang pesakitan yang meletakkan harap untuk kebebasan semata.<br />
Tapi segalanya hanya khayalan, segalanya hanya gambar-gambar usang dari kenangan, segalanya telah demikian koyak untuk dijadikan jejak, segalanya seperti kata sudah disapih dari makna, segalanya tinggal puing-puing, tapi aku lebih sedih jika kehadiranmu membatu kewujud kaku, kehadiranmu menubuh dalam riuh tak teraih, aku lebih suka kau hadir dalam kefakiran imajiku, hadir dalam linangku yang tak henti memberi ruang pada sendang untuk bergumul dengan kerinduan-kerinduan setubuh&#8230;<br />
Memang kita telah berkenalan dibawah gerimis, tapi gerimis tak kunjung bertepis, dari riwayatku, tangis terus terangkai ditaman-tamanku mataair-air mata tak kunjung hentikan alirnya dan aku tersudut sudah untuk menunggu segala waktu istirah kita memang telah bertemu dibatas cakrawala, tetapi kita tak tau seberapa depa lagi kita bisa kembali jumpa.<br />
Setelah bertemu itu, kita memang telah terpisah, tapi desahmu masih demikian hangat dikalbu, apalagi cinta yang kubangun kini terancam rajam, hampir berserak dalam kehancuran hati desahmu masih saja melumat ingatanku untuk berkiblat ketungkumu sebentuk ilham yang tak pernah padam untuk memberi ruang bagi pencari api<br />
Bidadariku kembalilah temuilah aku dikedung yang sama sebab langitku kini semurung kata-kata yang terbata mencari tempatnya dalam sebuah wicara  “augh”.</p>
<p> MASHURI</p>
<p>	Banyak hal yang aku pelajari dari sini bagaimana menyikapi tentang makna cinta tentang kehidupan dan berbagia hal lainnya yang berhubungan dengan hakikat cinta, bukankah tiada sesuatupun yang hidup didunia ini tanpa cinta disisinya ?<br />
Suatu hari tiada kusangka ditengah perbincangan kami dia mengutarakan sesuatu hal yang diluar dugaanku, ya dia memberikan saran bahwa bagaimanapun telah kita pikirkan dan kita coba jalankan tetap saja kita tak menemukan jalan untuk kita bersatu mungkin alangkah jauh lebih baik jika kau mencari seseorang sebagai pendamping hidupmu carilah cinta yang lain, karna menurutku tiada kebaikan jika seandainya kita bersatu namun demikian aku akan tetap selalu berada disisimu menemanimu dan mendukungmu, sayang ..?<br />
entah bagaimana aku menjawabnya, berat rasa bibirku mengungkapkan kata-kata aku hanya bisa terdiam tiada jawaban dan kucoba mengalihkan pembicaraan kelain hal.<br />
Semingu kemudian dia masih mengungkapkan hal yang sama seakan penuh dengan keyakinan bahwa dia telah siap untuk aku tinggalkan,namun aku tetap sama tak ada jawaban yang dapat aku ungkapkan padanya.<br />
Seminggu kemudian dia masih mengungkapkan hal yang sama hanya dalam bentuk ironi yang berbeda, hal ini membuat aku emosi berat, sempat aku meyesali mengapa dulu kau meminta aku mencintaimu menyayangimu hingga pada akhirnya kau harus menyiksa perasaanku sampai sejauh ini, apakah kau sudah ada seseorang yang mendekatimu yang kau cintai selain aku hingga kau menyuruh aku untuk pindah kelain hati dan mencari cinta yang lain, apa makna cintamu padaku selama ini, jika memang kau sudah ada seseorang untuk kau cintai dan kau telah siap, baik aku siap meninggalkan kamu dan akan kucari cinta yang lain ! kau mengatakan<br />
tidak ada seorangpun dalam hatiku selain kamu dan aku hanya mencintaimu selama ini ?<br />
Aku tak mengerti sikapmu padaku membuat aku semakin bingung, aku seperti boneka cintamu yang bisa kau permainkan sekehendak hatimu yang bisa kau timang sayang dilain waktu kau buang bagai sampah yang tak berarti, suatu ketika saat kau rindu kau tangisi dan kau peluk erat dia dalam dekapanmu dilain waktu kau campakkan bagai sajak usang ? namun aku rela kau perlakukan seperti itu karna aku benar-benar mencintaimu.</p>
<p>MENJAGA<br />
Satu kata yang begitu mudah diuccapkan, namun begitu sulit untuk dilaksanakan dan tentunya tidak setiap insan  mampu untuk menjalankannya dan bahkan menaatinya.</p>
<p>MENJAGA<br />
Atau memelihara, merawat, melestarikan, dan masih banyak lagi sinonim yang menyatakan hal serupa.</p>
<p>Kau tau begitu mudah untuk diucapkan tapi mudahkah untuk dikerjakan ? Dilaksanakan ?</p>
<p>Membentuk sebuah perkaianan dalam Rumah Tangga cukup mudah namun mudahkah MENJAGA keutuhan Rumah Tangga itu sendiri?,</p>
<p>Mengatakan Cinta mudah tapi menjaga kelanggengan cinta itu sendiri mudahkah ?<br />
Apa yang dibutuhkan untuk itu semua adalah : Kesabaran, Ketabahan, Keuletan, saling pengertian, saling memberi dan menerima, keterbukaan, saling menyayangi dan mengasihi, saling menasehati, saling percaya, siap bertanggung jawab, siap menanggung segala derita, siap untuk disakiti, siap untuk dicerca, dicaci maki, siap mengghadapi segala tantangan hidup, siap untuk berkorban dan berjuang terlebih<br />
SIAP MENANGGUNG SEGALA RESIKO.<br />
Namun demikian, jika kita masih saja mempertanyakan tentang kelayakan, kepatutan, kebimbangan, apakah dapat kita menyandang gelar sebagai seseorang yang telah DEWASA!<br />
Seseorang yang memiliki harga diri harkat, martabat dan drajat yang tinggi baik dimata tiap insan dan di mata TUHAN, seseorang yang layak untuk diteladani, seseorang yang cakap untuk dicontoh suri tauladannya dalam kehidupan sehari-hari, apakah dapat dikatakan seseorang yang siap menantang tirani kehidupan!<br />
Untuk menghadapi semua itu apa yang diperlukan?<br />
Ketika kita mulai siap dengan semua itu maka kita dihadapkan pada beberapa hal, yaitu kita terbentur pada rasa yang dihadapkan pada hukum dan aturan TUHAN sementara nama baik citra keluarga dipertaruhkan dalam hukum dan aturan masyarakat, dan sudah tentu semua itu menjadi teramat pelik jika kita masih terbelenggu pada hakikat diri sendiri dengan kebimbangan yang dipertanyakan, dan bagaimana dengan kekerabatan pada hubungan pergaulan dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam persahabatan, yang dihadapkan pada citra diri dan keyakinan.Lalu bagaimana kita menyikapinya ?<br />
KETEGASAN dalam memberi keputusan dan siap menanggung segala resikonya.<br />
Sketsa tulisan dan kata-kata yang tertuju pada sebuah rasa dapatkah dipercaya jika harumya tidak tercium?</p>
<p>Cinta tak memberikan apa-apa kecuali keseluruhan dirinya…….<br />
Utuh………<br />
Penuh………<br />
Pun tak mengambil apa-apa kecuali dari dirinya sendiri<br />
Cinta tak memiliki ataupun dimiliki karena CINTA telah cukup untuk CINTA.</p>
<p>Dihari kasih dan sayang ingin kucurahkan hanya untukmu seorang tiada yang dapat kuberikan selain rasa kasih dan sayangku sebagai ungkapan rasa cintaku padamu, yang tulus dan suci dari hati dan jiwaku yang terdalam<br />
Sungguh rasa cintaku terus mengalir memenuhi palung hatiku,<br />
dari hari kehari rasa kasih sayangku semakin berkembang, aku tak tau apa yang dapat kulakukan untuk dapat mewakili rasa ini terhadapmu.<br />
Adalah ketika pagi engkau tersenyum, rasa cintaku semakin harum.<br />
Adalah ketika siang engkau terawa, tak terukur rasa bahagia dalam dada,<br />
Adalah ketika senja engkau bercanda, rasa sayangku kian merona,<br />
Adalah ketika malam engkau bercerita, membuat aku semakin terpesona<br />
Ketika malam merayap jalan, pelukanmu membeai harapan.<br />
Malam………<br />
buailah dia dengan impian terindahmu<br />
Bawalah ia kedalam saat-saat yang membahagiakan hatinya, biarkan ia mengarungi segala keindahannya agar cintanya kian merekah.<br />
Malam..<br />
Jangan kau gelapi gadisku dengan pekatmu<br />
Biarkan ia bersama cahaya yang memancar dari cintaku<br />
Penaku telah melukis indah dirimu dalam hatiku, diatas air yang kulukis diantara putihnya krah bajumu, uccapku berkata “ingin ku memiliki seutuhnya dirimu  bukan hanya sekedar lukisan yang layak untuk ditatap”<br />
aku tersenyum memandangmu “BENARKAH YANG KURASA”?? Aku hanya mampu berharap, aku tak tau harus berbuat apa pengetahuanku telah memalingkan semua harapanku, kuberandai jujur padamu hendak kunyatakan semua rasa yang hadir dijiwa dan betapa sulit kuberdusta tentang rasa ini AKU CINTA KAMU<br />
u my VALENTINES</p>
<p>Sekalipun aku telah bertemu denganmu<br />
Aku tetap merindukanmu<br />
Bagaimana aku menjelaskan tentang perasaan ini<br />
Aku tak tau apa yang harus kulakukan<br />
Untuk dapat selalu disisimu<br />
Beribu-ribu alasan dan sebab<br />
Terus memenuhi ruang pikiranku<br />
Seakan telah habis terkuras semua alasan itu<br />
	Terlalu jauh kita menjalin hubungan<br />
	Terlalu dalam kita memendam rasa rindu<br />
	Ya..hari esok adalah milik kita<br />
	Dunia ada dalam genggaman tangan kita<br />
Setuju atau tidak tak perlu kau jawab<br />
Sebab hati dan perasaan tak akan berdusta<br />
Sejak saat ini diakhir pertemuan kami selalu berpelukan sebagai pelepas kerinduan dihati kami, bercumbu dan mencoba mencari titik kepuasan dan sejauh ini aku tak pernah mau untuk masuk kekamar kost nya kami hanya duduk diberanda dan terkadang hanya berada diruang tamu disanalah tempat kami memadu kasih selama ini tak ada yang tau kami melakukan semua itu selepas malam telah tiba,<br />
Namun bagaimanapun malam itulah malam pertama aku menitikkan butir airmata karna cinta, rasa penyesalan yang dibakar rasa penasaran terus membakar jiwaku sejak saat ini pula pikiranku mulai kacau aku tak dapat menguasai diri pelukan itu telah membuat aku terbelenggu pada diri dan tubuhnya pada cintanya,pada kasih sayangnya, benarkah ia mencintai dan menyayangiku sebagimana apa yang telah ia katakan padaku setahun yang lalu, haruskah semua berakhir dengan meninggalkan jejak berdarah didasar hati.<br />
Dengarlah ketika angin mengusik batang-batang padi<br />
Dengarlah senandung dibalik jendela<br />
Pejamkan matamu<br />
Pasti kau temukan yang kau rindu disana<br />
Wahai malam<br />
Jangan kau gelapi gadisku dengan pekatmu<br />
Biarkan dia bersama cahaya yang memancar dari cintaku<br />
Aku akan menjadi nakhodamu mengarungi lautan cinta<br />
Seperti kemilau purnama dimalam lima belas<br />
Seperti gelombang dilautan begitulah senyummu<br />
Sayang..! mari kita kejar yang telah lama kita tunggu<br />
Langkahkan kakimu hanya padaku<br />
Aku ingin mengecup keningmu bukan hanya dalam angan<br />
Berapa lama semua ini akan berakhir ?<br />
Dapatkah cinta memberikan kejujurannya ?<br />
Dapatkah cinta membuktikan kekuatannya dari apa yang telah termaktub setiap saat setiap waktu ?<br />
Aku tak dapat menjawabnya tapi inilah yang dapat kukatakan<br />
Aku tau aku membutuhkannya hingga seluruh bumi akan hancur dia akan tetap ada dalam hati dan jiwaku namanya akan terus mengalir bersama desiran darahku<br />
Dirinya akan tetap ada dalam diriku bersama disetiap detak jantungku.<br />
Selepas senja kuhampiri dengan diam<br />
Dengan langkah gontai wajah tertunduk malu<br />
Senyum terkulum tatapan nan sayu<br />
Begitu sendu menghias kalbu<br />
Selarik pelangi jiwa membersit jelas<br />
Dibawah bayang-bayang aura wajah<br />
Meleburkan bilur-bilur kerinduan<br />
Melepaskan hasrat dalam dada<br />
Nafas kian memburu<br />
Dalam dekap tak terharap<br />
Peluk cium dalam dekapan<br />
Penuh kehangatan dan semakin<br />
Manis dalam tenggorokan iblis<br />
	Haruskah kutinggalkan setelah dalam pelukan<br />
	Haruskah kubiarkan nafas aroma kerinduan<br />
	Haruskah kupergi meninggalkan isak tangis tak bertepis<br />
	Haruskah aku jeda membiaskan kesedihan tiada terkira<br />
Kata cinta dan sayang<br />
Benarkah segalanya tertuang<br />
Dari dasar hati..?<br />
kunanti walau tak pasti<br />
sebuah jawaban yang dapat menenangkan hati<br />
tidak sesuatupun..<br />
bukan sesuatupun..kiranya<br />
aku tak layak<br />
bermain-main dengan selendang Tuhan<br />
	Ya.. masih membayang jelas diaura wajahnya masih begitu jelas keraguan tentang apa yang ada dalam harapannya waktu itu, bahwa semua sangat mustahil untuk dijalankan sebagaimana sepasang kekasih,sejenak kukandaskan rasa itu, kutepis semua rasa itu dan akupun tak tau apa yang akan terjadi nanti !<br />
Tahun-tahun pertama aku rasakan inikah yang namanya cinta..!<br />
Setiap saat selalu ingin berada disisinya, setiap waktu selalu mencoba membangun ilusi bersama bayang dirinya mencoba berdialog tentang dunia dengan keindahannya dan bahkan khayalan-khayalan nakal selalu menghias diantara senda gurau.<br />
Makan tak enak tidurpun tak nyenyak jika tanpa kehadiran dirinya disisiku setiap waktu dibakar rasa cemburu yang kian menggunung dan terus bertanya tanpa tau jawabnya.<br />
Sesekali waktu dimalam hari ia memasak untuk kita makan berdua namun terkadang kami makan diluar, diantara senja kesenja berikutnya aku selalu berharap ia mau mengundangku untuk datang menemaninya bercerita berbagi rasa dan seakan-akan cerita itu tiada habis-habisnya dikisahkan, dan sungguh meskipun kerap kali kami bertemu muka dan bertutur sapa tiada jua jemu dan bosan menghantui jiwa kami dan bahkan kami selalu merindukan saat-saat bersama penuh dengan canda dan tawa.<br />
Seakan kami sudah tak mempedulikan segala batasan dan larangan namun hukum dan aturan dalam permainan cinta masih kami junjung tinggi inilah tahun pertama hubungan kami yang benar-benar dibuai cinta,ya..cinta yang sebenar-benarnya cinta suci.<br />
Dunia penuh dengan pilihan jangan sampai waktu yang sedikit kita habiskan bersama pilihan yang tak tepat.<br />
Rasa kepenatan telah memutar haluan<br />
Meski jantung berdebar dalam buaian<br />
Aku rela menjadi sehelai rambut keindahannya<br />
Yang senantiasa dibelai dalam pangkuannya<br />
Betapapun sempitnya jiwa karna lelah<br />
Lenyap segalanya ditelan senyum indah<br />
Betapapun besarnya rasa kecewa<br />
Sirna segalanya ditelan senyum indah<br />
	Boneka cinta..<br />
	Layakkah kukatakn demikian<br />
	Karna secercah cahya keagungan-Nya<br />
	Ia begitu mempesonakan mata khayalan<br />
	Dan besar harapan jatuh dipangkuan<br />
Ketika bunga tak lagi bermakna<br />
Ketika kata tak lagi berbahasa<br />
Ketika mimpi tak menjadi nyata<br />
Ketika luka sudah tak terasa<br />
	Apakah rupa yang telah menggetarkan dada<br />
	Apakah tutur sapa yang telah menyentuh jiwa<br />
	Apakah senyum yang menggoda tali atma<br />
	Ataukah keelokan dirinya yang membutakan mata<br />
Jangan jadikan aku buhul<br />
Ditengah bentangan tali kebersamaan<br />
Diantara kalian..<br />
Telah kering ladang yang kutanami<br />
Peluh sama sekali tak berarti<br />
Namun kucoba tetap berdiri<br />
Menantang sebuah tirani<br />
Jika dapat kutumpahkan butir airmata<br />
	Sungguh selamanya tak akan kubendung<br />
	Sebelum ketentraman jiwa hadir<br />
	Sebelum ketenangan batin hadir<br />
	Diantara belahan jiwa dan rasa<br />
Aku tak tau apa maksud semua ini<br />
Mengapa berlaku ditengah bara asmara<br />
Mengapa semua ini hadir membelah jiwa<br />
Diantara sesaknya nafas kerinduan<br />
	Lelah rasanya aku melangkah<br />
	Jika akhir dari perjalanan<br />
Hanya sebuah kesia-siaan<br />
Tiada terputus kata penyesalan<br />
	Layakkah aku berbicara tentang kesia-siaan<br />
	Mungkinkah hal itu ada dan benar-benar nyata<br />
	Bukankah segalanya ada hikmah<br />
	Meskipun lemah tertuju dalamnya duka<br />
Ingin rasanya kusingkap tabir<br />
Rahasia diri tentang masa depan<br />
Namun aku tak dapat lari<br />
Dari suratan takdir<br />
Resah menghalau dibilik jiwa<br />
Terbelengggu pada sikap yang manja<br />
Hasrat dalam dada semakin menggoda<br />
Serangkum rasa membiaskan rona cinta<br />
tatkala senja telah tiba<br />
ingin kuhampiri dengan sejuta rasa<br />
kusapa dengan manja dan menggoda<br />
namun rasa seakan telah berdusta<br />
ketika sang waktu telah menyapa<br />
mengingatkan aturan dalam permainan cinta<br />
tangan yang terlepas bagaikan derita<br />
menikam ditengah lubuk jiwa<br />
ingin rasanya kubawa ia pergi<br />
jauh dari segala aturan dan hukum yang berdiri<br />
tapi mengapa kau tanyakan tentang duri<br />
yang datang menghampiri<br />
dan menyiksa hati sanubari<br />
seakan sudah tak peduli<br />
dalam bayang mengunci diri<br />
terpaku diam terus menanti<br />
hasrat hendak memiliki<br />
dalam sejuta malam penuh ilusi<br />
mungkinkah segalanya terjadi<br />
dengan dasar cinta yang putih dan suci.<br />
	Betapapun aku merindukan hari-hari bahagia<br />
Bersama dirinya disisinya..didekatnya<br />
Hari-hari yang penuh tawa canda ria<br />
Akankah segalanya sirna ditelan masa<br />
Sebuah perasaan yang begitu asing<br />
Membersit jelas direlung kalbu<br />
Bagaikan pelangi jiwa yang membayang<br />
Dilangit-langit pikiran yang begitu kelabu<br />
	Sepasang mata telanjang<br />
Menatap rindu pada bibir tipis yang manis<br />
Bermain dengan api asmara<br />
Dan membakar segalanya<br />
Kecuali yang tercinta..<br />
Taman musim semi<br />
Seakan diam tak berseri<br />
Sebab cinta masih menjadi misteri<br />
Dibalik nama dan rahasia diri<br />
	Rasa sebuah mimpi kemana kau pergi<br />
Dapatkah kau ucapkan kata kembali<br />
Agar dapat kuhalau rasa sepi dihati<br />
Betapa kurindu pada hati nurani<br />
Agar dapat kurasakan indahnya cinta<br />
Dalam buaian nada asmara<br />
Bukan hanya sekedar cerita<br />
Tapi nyata rasa membuai jiwa.<br />
	Satu dasa warsa empat belas purnama<br />
Memendam cinta hanya tinggal nama<br />
Tiada kabar tiada berita darinya<br />
Lewat mimpi datang tak diterka<br />
Bimbang datang meradang merajuk sukma<br />
Dua jalan dihadapan mata<br />
Meminta harap dari sebuah makna<br />
Tak terukur dalamnya gundah gulana<br />
Adakah kata terlambat sudah<br />
Untuk meniti jalan dalam sejuta langkah<br />
Diam meratap dibilik hati tak bercelah<br />
Suka dan duka bersatu dibalik wajah<br />
Apakah sejuta langkah hanya lelah<br />
Karna gelas-gelas kerinduan telah pecah<br />
Meninggalkan sisa puing yang rengkah<br />
Dan terpatri diam pada kata bersalah<br />
Tangis bisu semakin memburu<br />
Karna hasrat semakin membiru<br />
Tak tertuju dalamnya rindu<br />
Yang menggelayut diujung kalbu<br />
Terbelenggu pada rasa malu<br />
Apakah nama meninggalkan sebuah makna<br />
Apakah arti meninggalkan sebuah rasa<br />
Ketika cinta dihadapkan dengan dunia<br />
Terhimpit diantara belahan jiwa dan rasa<br />
Kuharap masih ada waktu tersisa<br />
Kuharap masih ada jalan terbuka<br />
Untuk menggamit dua jiwa<br />
Dalam genggaman tangan cinta<br />
Dan memadu kasih seindah<br />
Ditaman nirwana.<br />
Aku adalah cermin diri<br />
Jangan kau pecahkan ia<br />
Aku adalah pilar-pilar rohani<br />
Jangan kau rebahkan ia<br />
Aku akan mencoba<br />
Setabah ombak mengikis karang<br />
Sebab cinta dan kasih sayang bukanlah suatu kebetulan<br />
Tapi rahmat dan karunia Tuhan.<br />
Setiap saat berusaha bertanya pada sang malam<br />
Ketika rasa kian terpendam<br />
Pasir putih boleh kau hampiri<br />
Birunya laut jadikan cermin diri<br />
Namun jangan selamanya diam berdiri<br />
Menantang kehidupan dalam ilusi<br />
Jika ingin menantang sebuah tirani<br />
Sudah cukupkah dalam diri kata berani<br />
Jangan hanya sekedar kenal tapi coba hampiri<br />
Kelak kau akan tau dan mengerti<br />
Jika kau sudah tau dan memahami<br />
Ambil dan simpan dalam laci bilik hati<br />
Yang kelak akan menjadi perbendaharaan diri<br />
Untuk bekal anak cucu dihari nanti<br />
Sebuah petuah yang datang tak terarah<br />
Menghimpit relung jiwa yang terasa lelah<br />
Haruskah kata kalah terucap dibalik lidah<br />
Salahkah jika aku katakan aku mengalah<br />
	Aku mengalah bukan berarti aku kalah<br />
	Salahkah jika pernyataanku cukup sudah<br />
	Jika kau katakan aku lengah<br />
	Aku akan tertawa<br />
	Sebab kaulah yang membuat ulah<br />
Bukan sesuatu yang layak untuk kau katakan<br />
Jika kata hati tak dapat kau ungkapkan<br />
Jika kejujuran tak dapat kau sematkan<br />
Bukan sesuatu yang layak untuk kau ucapkan<br />
	Bukan sesuatu yang layak untuk kau katakan<br />
	Jika hati dan jiwa tidak berpadanan<br />
	Jika serangkum senyum membiaskan kesedihan<br />
	Jika harapan dan keadaan tak sejalan<br />
Apa yang layak untuk kau ucapkan<br />
Meskipun sakit baiknya kau ungkapkan<br />
Meskipun derita menyapu perasaan<br />
Bila diakhir perjalanan<br />
Ketenangan jatuh dipangkuan<br />
	Apa yang layak untuk kau ungkapkan<br />
	Adalah demi masa depan<br />
	Adalah demi sebuah harapan<br />
	Adalah untuk satu kebaikan<br />
Bukan tak sanggup, bukan tak mampu<br />
Hanya rasa takut dan malu<br />
Yang terus merajuk kalbu<br />
Hanya diam memendam sendu<br />
Bukan tak sanggup, bukan tak mampu<br />
Apa artinya jika sendu menghias kalbu<br />
Jika senyum terkulum kau lemparkan padaku<br />
Demi masa depanmu,jujurlah padaku<br />
Itulah satu yang kupinta darimu..<br />
Bukan sesuatu yang layak untuk dibaca<br />
Jika tak tau tertuju dalamnya sebuah kata<br />
Semakin banyak terbaca semakin dalam<br />
Bimbang meradang merajuk sukma<br />
	Jangan lihat apa yang tertulis<br />
	Tapi lihat akan senyum manis<br />
	Sungguh bahagia tiada bertepis<br />
	Dan sayangpun tak akan terkikis<br />
Bukan sesuatu yang layak untuk dibaca<br />
Jika dada harus terluka<br />
Jika harus berlinang airmata<br />
Jika kesedihan hadir merajuk jiwa<br />
Dan terlihat jelas diroman muka<br />
	Bertanyalah jika kau tak tau<br />
Jangan sematkan malu diujung kalbu<br />
Jangan selalu diam membisu<br />
Jika diakhir kata sendu menghias kalbu<br />
Ketidak puasan.<br />
Mungkin sempat hadir menggoda perasaan<br />
Karna tak sepadan pada apa yang telah diberikan<br />
Jangan katakan sesuatu tak beralasan<br />
Jika harapan hanya tinggal kenangan<br />
	Jika demikian..<br />
	Jangan sematkan kata perpisahan dan penyesalan<br />
	Karna masih ada sebuah jalan<br />
	Untuk meniti sebuah harapan<br />
Lautan kasih..<br />
Akankah kiranya kau membawaku kesana<br />
Samudra cinta..<br />
Akankah gelombangnya menghempas pantai hatiku<br />
Danau kasih sayang..<br />
Akankah setenang kasihmu yang<br />
Menghampar luas dibelantara alam perasaanku<br />
Tidakkah hujan airmata telah membasahi<br />
Keringnya daratan jiwaku<br />
Hingga tumbuh seribu bunga-bunga<br />
Ditaman hatiku<br />
Badai cintamu telah memporak-porandakan<br />
Alam fikiran dan perasaanku<br />
Sungguh aku tak sanggup untuk mengungkap makna “ diam “ sebab didalamnya masih menjadi sebuah misteri, tak ubahnya seperti hari esok yang tak dapat ditentukan menurut akal dan logika, tak kuasa menolak, tak kuasa menerima, Ya.. dan Tidak, masih menjadi satu namun bukan berarti bimbang dan ragu, hanya takut.. rasa takut yang tak beralasan entah keputusan apa yang dapat kita ambil, karna selaksa kerinduan terus membayang<br />
Karna cinta dan sayang telah tertuang begitu dalam, karna pelukan dan ciuman yang diberikan begitu merajuk sukma, dan tak pernah berhenti untuk meminta agar terus bersama selamanya..!<br />
Tak sedetikpun kuinginkan<br />
Dari bentangan harapan yang kuhamparkan dihadapanmu<br />
Karna tak selamanya jawaban yang kita terima adalah jawaban yang kita inginkan<br />
Setiap saat rasa cinta dan kasih sayang<br />
Selalu naik turun bagai tenggorokan iblis<br />
Bercumbu dengan kehambaran,namun tak pernah ada kata puas<br />
Selendang iblis telah terlampir dibahu<br />
Dan serunainya memekakkan liang telinga<br />
Gambaran iblis betina hadir dipelupuk mata begitu menggetarkan dada<br />
Dan bibir manisnya semakin menggoda<br />
Sehelai rambut apinya nampak indah<br />
Begitu halus tertatap dimata terbuka<br />
Dan sepasang matanya menusuk lubuk hatiku<br />
Setiap saat mencari bayangan pelukan kenikmatan<br />
Mencari setitik kebahagiaan dan kenikmatan semu<br />
Berlari tak sampai mengejar bayang-bayang keindahan<br />
Karna serangkum senyum hadir dibalik wajahnya yang memerah<br />
Apa yang kuharapkan dari pelukannya ?<br />
Apa yang kudapatkan dari keelokan dirinya ?<br />
Hanya kehampaan yang senatiasa hadir direlung jiwa<br />
Sebab hasrat tak mengenal kata cukup sudah<br />
Kemana aku harus mencuci diri<br />
Kemana kucurahkan hasrat yang kian menggila<br />
Tiada tempat untuk mengadu<br />
Tiadakah kesempatan datang untuk menawar rindu ?<br />
	Betapapun kerasnya alunan musik<br />
	Sudah tak mampu lagi mengusik<br />
	Hati dan perasaan tentangnya yang berisik<br />
	Karna buah cinta dan kasih sayang telah terpetik<br />
Telah kurasakan manisnya cinta..<br />
Telah kurasakan indahnya kala bersama..<br />
Telah kurasakan kasih sayang yang tertuang<br />
Namun aku tak kuasa menolak kata bimbang<br />
	Kurun waktu ..<br />
	Masih tetap membisu..<br />
	Ia tak mengenal kata malu<br />
	Haruskah segalanya akan berlalu<br />
Meninggalkan rasa rindu yang menyayat kalbu<br />
Sedang hasrat sungguh tak tau malu<br />
Kala berpisah tak henti merajuk sendu<br />
Dan terus berteriak “ aku rindu “<br />
Dan memaksa untuk bertemu<br />
	Apa yang dapat kau harapkan dari kasihnya<br />
Apa yang dapat kau raih dari keelokan dirinya<br />
Apa yang dapat kau genggam dari senyum manisnya<br />
Apa yang jatuh dipangkuanmu dari kecantikannya<br />
Hingga hasratmu kian memberangus<br />
Meskipun bertemu rindu tak akan pupus<br />
Ingatlah karna hasrat akan selalu haus<br />
Dan ia hanya mengenal kata harus..<br />
	Seribu satu malam<br />
	Lantai bulan dalam segenap perjalanan<br />
Dibelakang kursi-kursi pengadilan<br />
Menarik benang diempat penjuru alam<br />
Terbang melesat tak kenal ruang dan tempat<br />
Terikat seutas benang putih empat arah<br />
Lepas membentang antara bumi dan bulan<br />
Semakin erat buhul yang mengikat<br />
Terhimpit diantara tujuh langit<br />
	Dapat kulihat namun tak kuasa bergerak<br />
Dapat kurasa namun tak dapat mengelak<br />
Mulut terkatup lidah terasa kelu<br />
Antara ada dan tiada<br />
Nyata namun bagaikan tabir mimpi<br />
Sejenak aku pergi tak tau tujuan<br />
Dalam tidur bukan mimpi<br />
Bukan ilusi bukan pula imajinasi<br />
Seakan tak percaya namun itulah yang terjadi<br />
	Bukan kuingkari,karna segalanya masih misteri<br />
	Bukan aku tak percaya pada makna<br />
	Aku memerlukan sebuah bahasa akan kata-kata<br />
Bahwa yang terjadi semata-mata<br />
Karna rahmat Illahi<br />
Dan bukan permainan illusi atau imajinasi<br />
Yang didasarkan keinginan hati dan tuntunan iblis<br />
Tentang sebuah kehadiran<br />
Keberadaan kita untuk apa dan siapa<br />
Apa hakikat dari keberadaan kita<br />
Dan apa makna yang kita jalani<br />
	Kepentingan, keperluan, dan kebutuhan<br />
	Sejauh mana berada dalam genggaman<br />
	Dan seberapa kita mampu meraih impian<br />
	Dan apakah soal perasaan memegang peranan<br />
Jika kau tau maka tunjuki padaku<br />
Dimana bersemayam rasa bahagia dan kecewa<br />
Dibagian mana dari hati kita<br />
Dibagian mana dari jiwa kita<br />
	Tentang kau<br />
	Apa makna dari keberadaan kau dan aku<br />
Apakah kau ada untuk aku,dan aku ada untuk kau<br />
Apakah kehadiranku karna kehadiranmu<br />
Atau kehadiranmu karna kehadiranku<br />
Apakah keberadaan telah mengatasi sebuah keberadaan<br />
Apa maksudnya ?<br />
Tentang aku<br />
Jika aku berdiri diatas kemahadirianku<br />
Apa yang kau tau tentang aku dan ke-aku-an-ku<br />
Jika aku adalah aku,dimanakah bersemayam ke-aku-an-ku<br />
Hingga aku tau dimana ke-aku-an-ku<br />
Tentang kita<br />
Jika kau dan aku ada untuk bersatu<br />
Dimanakah tanda persatuan itu<br />
Dimanakah bukti dan ciri tanda kebersatuan itu<br />
Jika aku dan kau ada untuk berpisah<br />
Mengapa haarus ada pertemuan dan<br />
Sesal diakhir perjalanan.<br />
Bukan sesuatu yang layak untuk kau baca<br />
Tapi lihatlah apa yang dapat ditatap oleh mata<br />
Dan apa yang tercantum dari sekulum senyum<br />
Serta makna dari sebuah kata..<br />
	Ya dan tidak benar dan salah<br />
	Apakah sebuah jawaban<br />
	Ucapkanlah apa yang menjadi harapan<br />
	Ungkapkanlah apa yang menjdi keinginan<br />
	Agar aku tau dan dapat kuberikan<br />
Betapapun sulitnya mengungkapkan perasaan<br />
Bukan berarti tak mampu dilakukan<br />
Jika ada keinginan dan kemauan<br />
Masih ada jalan untuk meniti sebuah harapan<br />
Seumpama malam<br />
begitulah kata sang pujangga<br />
seumpama purnama<br />
begitulah kata sang penyair<br />
menerpa begitu halus bumi hatiku<br />
sejenak mempesonakan panorama jiwaku<br />
hanya dalam semalam<br />
ironis..<br />
jika tidak..<br />
mengapa diawali..<br />
jika ya..<br />
mengapa diakhiri..<br />
ya..kini kusendiri lagi..<br />
mengulangi perjalanan yang sama<br />
melangkah diatas lingkaran yang sama<br />
aku pulang..<br />
membawa sekeranjang dosa dan nestapa..<br />
membawa lautan derai airmata..<br />
lusuh dan kumuh..<br />
dengan jiwa yang kotor dan kasar..<br />
aku pulang..<br />
membawa buah tangan kekecewaan..<br />
membawa kisah sedih cerita cinta..<br />
selarik penyesalan atas kesia-sian..<br />
menggema diruang hatiku<br />
membatin yang tiada terungkap<br />
jalan seakan buntu bagiku<br />
sesuatu yang tersisa bukan lagi permata<br />
hanya seonggok tanah merah<br />
yang meliput jagat raya<br />
pucuk itu tak lagi berbunga<br />
pucuk itu tak lagi tumbuh<br />
pucuk itu tak lagi teduh<br />
pucuk itu kini telah layu<br />
aku pulang<br />
masih adakah setetes air kehidupan<br />
masih adakah untuk kutatap<br />
masih adakah untuk kukecap<br />
masih adakah yang tersisa untukku<br />
meski hanya butiran debu<br />
aku pulang<br />
bukan ilmu yang kubawa<br />
bukan harta yang kubawa<br />
yang kubawa<br />
serangkum malu<br />
dalam saku baju<br />
yang kubawa<br />
setumpuk hina<br />
dalam saku celana<br />
aku pulang<br />
kuharap masih diterima<br />
kuharap pintu masih terbuka<br />
meski tidak dengan senyum gembira<br />
dengan airmata<br />
aku rela..<br />
aku lelah<br />
jalan itu telah mendustakan aku<br />
jalan itu telah mengkhianati aku<br />
jalan itu telah membuat aku terlena<br />
jalan itu telah membuat aku buta<br />
jalan itu telah membuat aku tuli<br />
hanya berteman bayang-bayang sepi<br />
yang tak dapat dimiliki<br />
yang tak dapat diraih<br />
aku lelah<br />
meniti hari mengejar bayang ilusi<br />
meniti waktu yang tak lagi lugu<br />
selamat malam.<br />
	RASA<br />
Gerimis mengundang hasrat yang berkelindan dalam dinginnya malam<br />
melarutkan kenangan yang pudar oleh canda tawa<br />
sedang disisi kami hanya derau kalimat basa-basi<br />
memapah jalan yang lunglai termakan cacing hati<br />
	menapak diudara basah<br />
sebasah pipimu oleh airmata<br />
menyayat luka dalam dada<br />
sedalam sebuah kata pasrah<br />
	kala senja datang menggoda<br />
	menebar senyum seindah seroja<br />
	sejenak kubertanya dalam dada<br />
	apa maksud senyumnya yang mengoda<br />
mengepal tangan dalam langkah<br />
yang berwarna merah darah<br />
semerah wajahnya disaat murka<br />
yang tak dapat diseka<br />
	kurun waktu tinggalah sejarah<br />
	bentuk dan rupa hanya secercah<br />
	terantuk dijalan yang salah<br />
	bukan kalah tapi mengalah<br />
pantas saja kau berkata cukup sudah<br />
dibayang wajahmu tersirat lelah<br />
bukan takut kalah tetapi<br />
terantuk dijalan yang salah<br />
	kini kumengerti apa yang kau cari<br />
	semua hanya sebuah basa-basi<br />
	untuk mencari jati diri<br />
	menuju kalam illahi<br />
aku berkata satukan hati<br />
kau katakan walau tak pasti<br />
berapa lama aku harus menanti<br />
menanti pagi yang semakin basi<br />
	parau suara yang terlantun<br />
	bak bait dan rima pada sebuah pantun<br />
	datar saja puisi yang kususun<br />
	sedatar sikapmu yang tak santun<br />
kemana jalan yang hendak kutitih<br />
karna tubuh semakin ringkih<br />
terbalut lelah dan letih<br />
dan jiwapun tak lagi putih<br />
tak seputih sebuah kasih<br />
	ragu dan malu mulai menyayat kalbu<br />
	sebiru hari saat bersamamu<br />
	seharu rasa saat disisimu<br />
	meski tak tertuju dalamnya rindu<br />
separuh waktu saat bersamamu<br />
separuh nafas saat disisimu<br />
selaksa manja saat berbagi rasa<br />
semanja senja saat dibuai sang surya<br />
	kini tibalah waktunya<br />
	memaparkan harapan pada satu rasa<br />
	membentangkan tangan<br />
	menumbuhkan kenangan<br />
banyak sudah yang terbaca<br />
banyak sudah yang terluka<br />
banyak sudah yang tertera<br />
banyak sudah yang terlena<br />
	apa yang akan terjadi<br />
	pada hari yang akan berganti<br />
	pada kisah yang belum tercuci<br />
	pada jalan yang belum terlewati<br />
aku tak tau..Ya..aku tak tau..!<br />
kemana kuharus menanggung rindu<br />
yang semakin mengharu biru<br />
masihkah aku dihatimu !<br />
	masihkah ada cintamu padaku !<br />
	masihkah ada sayangmu padaku !<br />
	masihkah kau peduli padaku !<br />
	masihkah aku dihatimu !<br />
sungguhpun demikian<br />
bukanlah pernyataan atau pertanyaan<br />
hanya ungkapan jiwa yang terdalam<br />
hanya ungkapan rasa yang terpendam<br />
	padanya kuhamparkan impian dan harapan<br />
	padanya kugantungkan cita-cita dan masa depan<br />
	padanya semangat hidup kusematkan<br />
	padanya jalan hidup kubentangkan<br />
salahkah apa yang kukatakan<br />
salahkah apa yang kuimpikan<br />
salahkah apa yang kuucapkan<br />
salahkah aku !<br />
	hitamkah jalan ini ataukah merah<br />
	bukankah warnamu adalah warnaku<br />
	bukankah cintamu adalah cintaku<br />
	bukankah sayangmu adalah sayangku<br />
	bukankah hatimu adalah hatiku<br />
	bukankah apa yang kau rasa adalah yang kurasa<br />
	bukankah apa yang kau lihat adalah yang kulihat<br />
	bukankah apa yang kau katakan adalah yang kukatakan<br />
	bukankah kisahmu adalah kisahku<br />
	bukankah kenanganmu adalah kenanganku<br />
 	bukankah jalanmu adalah jalanku<br />
	bukankah dirimu adalah diriku<br />
	bukankah demikian ?<br />
jika tidak kau katakan maka kuucapkan<br />
selamat jalan untukmu<br />
jika tidak kau ucapkan maka kukatakan<br />
selamat jalan untukmu<br />
	semoga berbahagia.<br />
	selamat malam.<br />
	Sejenak aku berlari menjauh dari bayang dirimu berlari-dan berlari entah sampai kapan aku tak tau kucoba menepis semua hal yang berbau mistis amis dan anyir sepi menghalau jiwa kuyakin suatu saat akan ada hal yang membuat aku melupakanmu meski saat ini belum kutemui cara itu, maaf jika aku harus menanamkan rasa kebencian dalam dada ini semua kulakukan karna kau yang meminta aku untuk melakukan semua itu, setidaknya inilah satu-satunya cara untuk aku dapat menepis semua rasa ini yang terus menghantui jiwaku beragam rasa baik kekecewaan kekalutan kekesalan semua menyatu dalam dada entahlah mengapa kau membuat aku harus seperti itu baik buruknya sudah dapat kau rasakan pahit manisnya sudah kau kecap entah mengapa kau katakan aku begitu kejam pada dirimu aku tak tau padahal bukankah kau yang meminta aku untuk melakukan semua itu terhadapmu semua sudah kuturuti permintaanmu sampai aku menganggap begitu bodohnya aku begitu tololnya aku harus menuruti segala keinginanmu aku seperti budakmu seperti budak hawa nafsumu hingga kini aku terbelenggu pada hasrat yang kau buat pada hasrat yang kau lampiaskan padaku,dan kini kau tinggalkan aku dalam kehausan dalam kelaparan ditengah padang pasir yang tandus dan gersang, tanpa bekal sedikitpun yang kau tinggalkan untukku, kau bawa pergi semua dan kau biarkan aku sendiri ditengah sepi.<br />
Aku berharap semoga masih ada sebentuk awan yang akan menaungiku menuju haribaan-NYA.<br />
	Rasa rinduku yang begitu dalam telah tawar dengan sikapnya yang acuh sungguh mengecewakan,tak kusangka kemunafikan telah bersemayam dihatinya.. bertahun tahun telah kuberikan segalanya tapi inikah balasannya..?<br />
Bukan kumenyesali sebuah pertemuan tapi yang membuat kecewa akhir sebuah perjalanan, benarkah kita telah didustakan hati dan perasaan kita sendiri ? saat inilah aku mulai muak dengan hubunganku.. aku diam dengan hubunganku.<br />
Sebuah agenda tentang catatan masa silam, hitam dan putih, merah dan biru mewarnai lembaran-lembaran kertas putih jiwa-jiwa insan yang hidup dan dihidupkan, insan yang bernafas dan berjalan dipunggung bumi yang menjejakan langkahnya diatas tali harapan tanpa tau tujuan.<br />
	Topi hitam diatas kepala yang membelah dada langit, putaran-putaran roda bumi pembungkus raga, tali-tali pusar menjerat urat nadi, menghapus setitik noda darah dalam gersangnya nafas perjalanan, paraunya laksana halilintar yang menghujam bumi, membakar rimba belantara dalam satu malam.<br />
	Jeruji besi ditengah keremangan bulan sabit, membiaskan birunya bilur-bilur cakrawala, pernik bintang gemintang meronakan dan menghias angkasa raya, merahnya dataran jejak-jejak pengembara melukiskan petuah yang tersebar didelapan penjuru arah panggung peradaban, beralaskan lampit pandan begitu hijau dengan aroma yang menggugah rasa, beningnya bercorak imitasi dengan warna yang pudar, halusnya melebihi putih diatas putih, rangkumannya tertitah disetiap helai dedaunan, lingkaran-lingkaran buta yang berdiri tegak diseutas tali jiwa, menancapkan ujung lidah pada rusuk hati dan mencoba melafazkan siratan alam kedalam fikiran.<br />
	Simpan saja segala rasa tentangnya..<br />
	Simpan saja segala hal tentangnya..<br />
	Simpan saja segala kisah tentangnya..<br />
	Simpan saja segala kata-kata tentangnya..<br />
	Simpan saja dengan baik-baik.<br />
Tolong kembalikan rasa mimpiku..!<br />
Tolong kembalikan hati nuraniku..!<br />
Aku rindu diriku yang dulu..<br />
Kembalikan kesejatian diriku..<br />
	Kau hadir ditengah kerentangan jalan yang berbeda<br />
	Menusuk kaki-kaki angkuh dalam sejuta langkah<br />
	Semakin erat dan panjang tali harapan<br />
	Namun apakah hanya seutas benang<br />
Kau hadir membelah jiwa ditengah badai asmara<br />
Apakah kehadiranmu hanya sebuah topeng belaka<br />
Yang bersembunyi dibalik wajah tak berdosa<br />
Sungguh bertentangan<br />
	Bukan ketidak adilan<br />
	Karna sebuah permintaan<br />
	Telah memutuskan tali harapan<br />
Seketika aku jatuh sakit<br />
Karna aku tak tau kemana akan kutuangkan<br />
Gelimang darah dalam dada<br />
Merah jiwaku tak tertawar<br />
	Seketika aku jatuh sakit<br />
Karna pilar-pilar rohani telah retak<br />
Sejarah lama yang terulang kembali<br />
Sungguh tak dinyana kata yang diucap<br />
Dan terucap.<br />
Makam putih nisan hitam<br />
Terpaku didalam tanah tak bertuan<br />
Meluruhkan pesona alam<br />
Dalam kelamnya sang malam<br />
Merajahkan sebuah janji<br />
Yang terpatri pada rantai hari<br />
Semakin rapat dalam selaksa duka<br />
Sungguh tak dapat diseka<br />
Karna luka semakin terkuak dan terbuka.<br />
	Tanah merah ..<br />
	Selamanya tak akan berubah<br />
	Meski diakhir kata hadir pasrah<br />
	Bukan berarti pengakuan kalah<br />
Tanah merah..<br />
Saksi sebuah sejarah<br />
Akan perjalanan berjuta langkah<br />
Kuharap masih ada kata “kembalilah”<br />
	Tanah merah..<br />
	Bagaimana aku harus menjemur marah<br />
	Karna mentari tak kenal kata lelah<br />
	Dan rembulan merengek membuat ulah<br />
Tanah merah..<br />
Kau saksi sebuah kisah<br />
Apakah aku bersalah<br />
Jika aku katakan cukup sudah<br />
Karna bukti cinta telah tertitah..<br />
	Tembok ratapan<br />
Melukiskan berjuta kenangan<br />
Penuh dengan warna keindahan dan kesedihan<br />
Namun hanya sebatas sketsa pensil dan tulisan</p>
<p>Tembok ratapan<br />
Batasan antara kesedihan dan kegembiraan<br />
Berdiri diantara balahan jiwa dan rasa tiap insan<br />
Bukan tak mungkin untuk dihancurkan<br />
	Dinding kasmaran<br />
Begitu kuat tak tergoyahkan<br />
Mskipun badai topan melanda perasaan<br />
Kasihnya meruahkan cahya kebahagiaan<br />
Dinding kasmaran<br />
Kau hadir ditengah dua perbedaan<br />
Membelah diantara dua peradaban<br />
Dapatkah kau kuhancurkan<br />
Sketsa-sketsa gambaran keindahan<br />
	Meluruhkan tulisan-tulisan tangan<br />
	Sungguhpun demikian gambaran kesedihan<br />
	Adalah bukti kesempurnaan<br />
Layakkah jika kukatakan sempurna<br />
Karna segala yang buruk begitu indah dimata<br />
Tidak kau keliru sayang..!<br />
Karna kasihnya hanya seutas benang<br />
Sungguh tak sepadan..tak sepadan<br />
Kadang perasaan meminta keadilan<br />
Karna keadaan memberikan kebersamaan<br />
Hingga butir airmata meminta jawaban<br />
Sepadankah yang terjadi jika dibalik halusnya kata-kata harus dibalas dengan kekecewaan, rasanya seperti menarik paku baja dari kedua pipiku, seperti tembok raksasa yang menghantam dadaku begitu sesak, nafasku seakan terhenti mengalun, seakan terbendung desir darahku yang mengalir.<br />
Hai..bodoh..!<br />
Bagaimana mungkin dapat kau rengkuh ketentraman dan ketenangan jika jiwamu masih begitu lusuh dan kotor !<br />
Bagaimana mungkin mereka akan datang jika hatimu masih terbalut dendam dan nestapa.<br />
Singsingkan lengan bajumu, ini bukan saatnya meratap duka, hari esok masih panjang lanjutkan perjalanan yang masih tersisa, ayunkan langkahmu penuh kepastian, tinggalkan kisah cintamu bagai sajak usang !<br />
Masih terlalu banyak segala sesuatunya yang menantimu, menanti keputrusan darimu, masih banyak yang harus dikerjakan, masih banyak hal yang lebih penting dari pada hanya sekedar sebuah cinta semu.<br />
Dan jika kau ingin meninggalkan semua yang berbau keduniawian, kau tau kemana kau harus melangkah.<br />
	Andai kau mengerti dan faham akan sebuah jawaban, tak perlu lagi kuungkap sebuah tabir dibalik selarik sinar matamu..<br />
Apalah artinya sebuah kata jika tak menyiratkan makna, dan siratan senyum yang tak perlu lagi kukatakan.<br />
Apalah artinya perjuangan dan pengorbanan jika semua haruslah terjadi, aku tak akan menampik apa yang telah kudapat, jangan mencoba untuk saling menyalahkan, dan saling membenci, karna tak sepadan dengan apa yang didapat, hati yang ternoda dapat kubersihkan kembali dan kini aku hanya tinggal menjalani.<br />
Sekulum senyum dalam genggaman melambaikan aroma dalam sejuta diam menyusun kisah dalam catatan langkah-langkah semu, menyamarkan rasa dalam gurauan, memaparkan canda dalam hiasan kata-kata, menekuk wajah dalam kebimbangan, melantunkan cerita dalam simfoni irama malam, melafazkan harapan dalam ratapan kepiluan, menghitung hari dalam buaian kenangan, merunut jalan dalam rona rasa pada batas awal dan akhir kehidupan, membiaskan rona aura penyesalan dalam ungkapan deraian airmata, binar canda dan tawa menjadi buih dalam lautan kesedihan, pilar-pilar keagungan cinta menjadi hambar dalam tangis bisu, buluh perindu perlahan runtuh mencerca kalbu, semakin pudar diterjang batas kerapuhan diri, begitu manis dalam senyuman tapi pahit dikatakan, hanya berawal dari sebuah senyuman menorehkan akhir dalam tangisan penuh dengan penyesalan.</p>
<p>Aku selalu berharap dan meminta<br />
Tak ada dusta diantara kita<br />
Dan saling terbuka<br />
Tapi mengapa kau masih saja menutup mata<br />
Dan berusaha menjaga jarak antara kita<br />
Kutanamkan rasa percaya<br />
Tapi inikah yang kau punya..<br />
	Entah hal apa yang menggoda perasaan<br />
	Hingga alam fikiranmu Tak berketetapan<br />
	Serangkum rasa ragu telah menyapa jiwa<br />
	Atau kau takut pada rasa kecewa..!<br />
Kau takut..! apa yang kau takutkan ..!<br />
Kau malu..! apa yang membuat kau dipermalukan..!<br />
Kau kecewa..! hal apa yang membuatmu dikecewakan..!<br />
Kau bimbang..! apa yang membuatmu tak berketetapan..!</p>
<p>Jika kita takut pada kata akhir<br />
Mengapa justru kita awali<br />
	Jika telah terlansir getir fakir<br />
	Tak perlu lagi kita sesali<br />
Aku tersenyum sejenak dalam kepura-puraan yang terbungkus sopan santun sepintas jalan dalam bayang kelabu, kuhamparkan harapan pada seutas benang, meski aku tau begitu rapuh setidaknya aku pernah menambatkannya untuk sesuatu yang sama sekali tak dapat aku pahami arti kehadirannya. Satu lain hal yang tak dapat kutepis menjadi selimut diri dalam dinginnya senyum penembus tatapan mata penuh makna yang tersimpan dalam gelak canda tawa yang begitu sinis termaktub.<br />
Mencoba menjawab lewat sikap dan tingkah laku tanpa kata-kata, sedikit tersirat dalam mengungkap dendam yang berbalas dengan memutar kejadian hanya untuk mengungkap kata, mencoba untuk menarik jari bersama meski harus menutup malu, mencoba menyatu dalam seyuman meski harus tertunduk dalam kepedihan, mencoba menjaga perasaan meski harus mengorbankan perasaan sendiri.<br />
Aku tak berhak menentukan setiap kehendakku padanya karna aku bukanlah siapa-siapa baginya, bagaimanapun aku tetaplah aku, dan dia tetaplah dia, dan aku juga tak dapat menentukan makna dari makna kita untuk aku maupun untuk dia, karna segalanya serba terbatas, terbelenggu pada berbagai perbedaan yang begitu tajam, hanya sebatas sudut pandang sebagai seorang insan yang tak memiliki hati, benar atau tidak tak akan terjawab.<br />
Namun bagaimanapun, hanya sesaat ketika kita merasakannya sebagai apa adanya, seakan sia-sia apa yang telah dirasakan pada waktu yang bersamaan<br />
lepas dari semua itu akan kembali pada perwatakan dan kepribadian diri sendiri.<br />
Aku tersenyum ketika membaca tulisan-tulisan rapuh yang tertera dihadapanku, sejurus kemudian butiran halus menerpa dadaku melambaikan kesan dalam haru biru yang menusuk kalbu, meski begitu lirih dan pedih, pucuknya secerah mentari pagi, langkahnya selembut rembulan malam, bagaikan bara api dalam genggaman, beningnya embun meretas padang pasir, terserap musnah dalam pangkuan, raib dalam dekapan, sirna dalam senyuman, melarut dalam pelukan, pupus dalam harap tak berdetak.<br />
Simfoni alam menampilkan rasa pesona sang malam,<br />
Suryalaya..perangkum kenikmatan dalam bayang kelabu, begitu tinggi harus terbayar, bukan dengan harga diri atau kehormatan, bukan dengan pengorbanan atau perjuangan, keikhlasan tanpa keinginan, keridhoan tanpa cita-cita, ketenangan tanpa diri, ketentraman tanpa niat, keluhuran tanpa tujuan, suci dalam langkah, murni dalam ketundukan.<br />
Suatu malam<br />
Sesudah lewat bulan mati<br />
Yang susut padamu aku sumringah kembali<br />
Datanglah kepada ian<br />
Bawakan untuknya sekantung asa<br />
Dari rinduku<br />
Sehelai rumput yang bersujud<br />
Setelah lelah menanggungku<br />
Ia tak suci<br />
Tapi ditangisnya aku turut tersedu<br />
Dan dibisik bisunya segala suara<br />
Adalah nyanyian kepadaku<br />
Didalam ranselnya bekalmu kuisi<br />
Dipejam matanya<br />
Jalan-jalanmu akan kusuluh kuterangi<br />
Bawalah ini<br />
Kamu diutus<br />
Kutinggalkan diriku<br />
Kumasuki sebuah pintu sempit<br />
Disisi sayap yang akan membawaku<br />
Aku terangkat<br />
Tidak..! aku hanya melihat diriku luluh<br />
Kedalam sebuah talang cahaya<br />
Ruang mengirab<br />
Aku tak tau lagi siapakah yang ada didalam<br />
Siapakah yang tengah menunggu diluar sana<br />
Kutub ini dingin dan mati<br />
Tapi aku mendengar degup dimana-mana<br />
Bunyi nafas, gelembung darah, air tulang,<br />
Berpadu dalam satu koor yang senyap<br />
Yang tak terukur kata-kata<br />
Tak terukur waktu<br />
Tapi mengikatku dalam satu garis lurus<br />
Dijantung perjalananku<br />
Aku letih sekali ketika mendapatkan diriku kembali<br />
Sebentang samudra<br />
Burung-burung menunda buih dibatasnya<br />
Tak ada matahari<br />
Ada hanya sebatang geretan kayu<br />
Yang juga letih menunda sisa api<br />
Dan siur angin melemah<br />
Dikedap itu juga segala amsal tentang asal<br />
Menjelma layar yang segera akan musnah<br />
Tinggal nir saja<br />
Sebuah kuil tiram<br />
Dimana diri hanya jejak yang hapus<br />
Terkukus air garam<br />
Sementara itu<br />
Tanah terlanjur busuk<br />
Tamu-tamu tak dikenal menyusup<br />
Setiap malam<br />
Setiap orang harus membuang seikat kayu api<br />
Kedalam hatinya<br />
Dan menyulutnya dini hari<br />
Ini adalah musim<br />
Dimana setiap orang harus pasrah memendam mata padi<br />
Yang terluka dibatangnya<br />
Disebuah tahun yang patah<br />
Jejak-jejak menggembung<br />
Serupa kubangan lumpur<br />
Semak-semak menitik darah<br />
Koak gagak dan pekik murai melarung<br />
Dikisi-kisi daun gugur<br />
Amis sekali..!<br />
Tapi tanah terlanjur busuk<br />
Dilorong yang mereka temui<br />
Orang-orang tak pernah ingin mendapat petunjuk<br />
Mereka bahkan tak pernah keluar<br />
Aku terangkan padamu tentang ian<br />
Kamu kira dia menari<br />
Bukan !<br />
dia begitu karna dia tidak mempunyai pijakan<br />
padahal ia sangat berat<br />
dan baju yang ia kenakan<br />
tidak punya badan untuk melekat<br />
kamu kira dia apa !<br />
dia hanya seekor jaran rongsokan<br />
kulit kering yang dipacu<br />
diatas nafsu dan lamunan<br />
ia kira ia keutara<br />
padahal ia keselatan<br />
ia kira ia memberi cinta<br />
padahal yang dibawanya itu<br />
penyakit dan kematian<br />
begitu pula sielang laut, sigayung tua, sirambut jarum<br />
sipalasik, sitinggam api<br />
mereka ini mambang<br />
bayangan kosong dari seutas benang<br />
yang sangat panjang<br />
benang ghaib penciptaan<br />
tapi kamu telah mengasuh mereka<br />
membuat mereka ada dalam ketiadaan mereka<br />
seolah kamu ini tuhan<br />
dari segala yang bernyawa<br />
tidak..sayang..!<br />
kamu ini hanya segumpal darah yang marah<br />
direlung kasihmu seorang lelaki terkunci<br />
hanya karna dia pernah berbuat salah<br />
janganlah begitu<br />
keluarlah sebuah maaf telah menantimu<br />
seperti sepasang matahari<br />
dibalik awan basah<br />
tak diceritakan ada perang<br />
aku meminang..<br />
akan begitulah ian itu, sayangku<br />
terimalah..<br />
airmata tak pernah cukup<br />
kematian bukan satu-satunya jalan<br />
untuk sampai keakar hidup<br />
sudahi semadimu<br />
kita sudah malam<br />
tak perlu lagi membuat sesaji dari sekam<br />
tak perlu lagi api<br />
maka beginilah..hadijahku<br />
aku meminangmu<br />
aku buatkan lagi untukmu seorang ibu<br />
dari nafasku<br />
sawah ladang yang luas<br />
hutan-hutan dari beburung<br />
yang terbang lepas<br />
bila kelak bayi kita lahir<br />
yatim tanpa diriku<br />
atau piatu tanpa dirimu<br />
sebuah kitab akan menjaganya<br />
seorang ayah !<br />
seorang ibu !<br />
dari kasih kita.<br />
RIKI DHAMPARAN PUTRA</p>
<p>Selarik cahaya untuk melintasi jalan<br />
Dipagar duka realita<br />
Merasuk jauh..hambar<br />
Terpasung dalam kata<br />
Adalah waktu syuruk<br />
Termangu diam membisu<br />
Adalah saat senja datang menggoda<br />
Meraup suka menggamit gita cinta<br />
Adalah ketika tiba sang rembulan<br />
Membentangkan tangan dalam kolam harapan<br />
Sejenak kulukis sebuah gambar musykil<br />
Pada raut wajahnya yang mulai kerut<br />
Dengan usia yang mulai senja<br />
Kuhitung helai demi helai rambutnya<br />
Yang sedikit banyak telah memutih<br />
Tiada jua jawaban itu<br />
Yang terharap..<br />
Yang diharap..<br />
Hanya dalam buaian mimpi indah siang hari<br />
Yang sempat terbeli<br />
Walau hanya sekejap mata<br />
	Tersimpan rapi dipagar runcing sembilu<br />
Kerikil lengang panas membakar hati<br />
Terpanggang asmara semu<br />
Memburu bayang cinta siang hari<br />
Bagaikan menapak dikerikil tajam<br />
Sakit sudah biasa tapi<br />
Rasa kian menggelora<br />
Memapah kisah pada kata pasrah<br />
Menghampiri diri menghalau hari<br />
Sebulat sinar matanya<br />
Sekuning hatinya<br />
Sebiru hasratnya<br />
Sehitam kebenciannya<br />
Sehijau asmaranya<br />
Dan kini..<br />
Tinggalah putih menanti hari<br />
Dalam sejuta rasa yang tak pasti<br />
Sejuta harap yang tak terberi<br />
	Kuning mentari membakar indah bumi hati terpasung pada makna diam, membenci tiap suku kata yang terucap pada bibir manisnya, tapi menebar wangi amis pahit dalam dada.<br />
Asmaramu..<br />
Asmaraku..<br />
Asmara kita..<br />
Terbelenggu pada dendam kisah kasih dua jiwa yang dibuai cinta semu dan kini tiada jua kepedulian itu, tiada jua perhatian itu, seakan kebencian melebihi batas cinta, seakan kekecewaan menutupi setangkup kebahagiaan yang pernah terengkuh bersama, mengapa kau biaskan cahaya cinta dalam dadaku lalu kau padamkan pula.<br />
Selaksa bait puisi dalam peran tak terpikat pada satu untaian judul yang kaku oleh makna langkah tumpul, kini cara itu hanya isapan jempol semata, yang penuh tanda tanya berwarna merah, sampaikan warna itu dihadapanku dan cobalah menuangkan warna yang sama lalu torehkan satu garis putih disisinya, kemudian jangan biarkan berlalu tanpa meninggalkan satu titik renda keemasan pada putih kerah bajunya, dan ucapkan selamat malam.</p>
<p>Hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah bila kau bertemu dengan seseorang lalu kau jatuh cinta dan pada akhirnya kau menyadari bahwa dia bukan jodohmu dan kau telah menyia-nyiakan bertahun-tahun waktumu untuk sesorang yang tak layak. Dan jika sampai saat inipun tak layak atau bahkan sampai sepuluh tahun lagipun tetap tak layak maka biarkan ia pergi dan lupakan.<br />
Cinta menyakitkan bila kita putuskan hubungan dengan seseorang tapi lebih sakit lagi bila seseorang yang memutuskan hubungan dengan kita,tapi cinta lebih menyakitkan bila orang yang kita cintai sama sekali tak mengetahui perasaan kita terhadapnya, hatimu patah melihat orang yang kita cintai berbhagia dengan orang lain, tapi ternyata jauh lebih sakit lagi ketika kita mengetahui bahwa yang kita cintai ternyata tak berbahagia bersama kita,dan lebih menderita lagi ketika kita tau yang kita cintai ternyata tak menaruh harapan apa-apa pada kita.<br />
Berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut apapun,bersiaplah untuk terluka dan menderita tapi jangan simpan sakitmu..! sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya,akan mengiris sedalam kau biarkan tantangannya, bukanlah bagaimana bisa mengatasinya,melainkan apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dan hikmah.<br />
Lupakan semua peristiwa itu,kita harus tetap tegak menyongsong hari depan, kesedihan tak seharusnya diakhiri dengan berputus asa, dunia luar masih sangat begitu indah justru saat seperti inilah kita harus menunjukan keberanian untuk hidup tanpa harus merasa kehilangan,dan yakinlah bahwa suatu saat kita dapat menikmati hidup dalam arti yang sebenarnya,jangan malu mengakui kekalahan, pasrah bukan berarti harus menyerah dengan merusak diri sendiri, jika kita terperangkap suatu kesalahan yang tak mungkin lagi untuk diatasi,lepaskan beban itu !<br />
Dalam hidup orang harus berani melakukan kata hati,memiliki keyakinan dan harus bijaksana,kita harus berani memperjuangkan hak diri sendiri dulu sebelum membela hak orang lain,meskipun banyak yang hilang dari diri kita jangan pernah menyurutkan keberanian untuk hidup lebih baik.<br />
	Belum tentu  !<br />
Dia yang kita fikirkan belum tentu dia memikirkan kita<br />
Dia yang kita sayang belum tentu dia menyayangi kita<br />
Dia yang kita cinta belum tentu dia menyintai kita<br />
Dia yang kita harapkan belum tentu dia mengharapkan kita<br />
Dia yang kita pedulikan belum tentu dia mempedulikan kita<br />
Dia yang kita perhatikan belum tentu dia memperhatikan kita<br />
Dia yang ada dihati kita belum tentu kita ada dihatinya<br />
Dia yang menjadi bagian dari hidup kita belum tentu kita menjadi bagian dari hidupnya<br />
Dia yang mampu membakar semangat hidup kita belum tentu keberadaan kita adalah semangat hidupnya<br />
Dia yang laksana nafas bagi kehidupan kita belum tentu kita adalah nafas bagi kehidupannya<br />
Dia yang begitu berarti buat kita belum tentu kita berarti baginya<br />
Dia yang kita anggap laksana nyawa bagi kita belum tentu kita adalah nyawa baginya<br />
Dia yang begitu istimewa bagi kita belum tentu kita adalah sesuatu yang istimewa baginya<br />
Kita yang selalau berusaha membuat dia tersenyum dan tertawa belum tentu dia mau berusaha membuat kita tersenyum dan tertawa<br />
Kita yang jujur padanya belum tentu dia jujur pada kita<br />
Kita yang merasa bebas saat disisinya belum tentu dia merasa bebas bersama kita<br />
Kita yang terbuka dengannya belum tentu dia terbuka dengan kita<br />
Kita yang sopan terhadapnya belum tentu dia sopan terhadap kita<br />
Kita yang begitu menghargai dia belum tentu dia menghargai kita<br />
Kita yang begitu menghormati dia belum tentu dia menghormati kita<br />
Kita yang selalau berusaha membuat dia senang dan bahagia belum tentu dia mau berusaha mebuat kita senang dan bahagia<br />
Kita yang selalu menyanjung dan memuji dia belum tentu dia mau untuk menyanjung dan memuji kita<br />
Kita yang menaruh kepercayaan padanya belum tentu diapun mempercayai kita<br />
Kita yang bisa memahami dan mengerti dia belum tentu dia bisa memahami dan mengerti kita<br />
Kita yang merasa bahagia dan damai saat bersamanya belum tentu dia bahagia dan damai bersama kita<br />
Kita yang selalu ceria saat bersamanya belum tentu dia ceria dan penuh suka bersama kita<br />
Kita yang datang padanya dengan harapan dan cita-cita belum tentu dia datang membawakan harapan pada kita<br />
Kita yang merasa bangga bersanding dengannya belum tentu diapun bangga bersanding dengan kita<br />
Kita yang setia padanya belum tentu dia setia pada kita.<br />
Sadarilah ! inilah dunia.</p>
<p>Malam telah larut nak..!<br />
Lihtlah diatas sana.. menanti hadirmu..! seseorang yang yang memiliki ragam warna hati pada sayap-sayap jiwanya, terbang dengan kemegahan rahmat dan karunia-Nya, perjalanan diluar dunia diluar alam, diluar daging dan kata-kata, tidakkah kau lihat seutas tali langit telah menghampirimu, raihlah ia dan pergilah.. pergilah..!<br />
Hampiri takdirmu.. hampiri suratan nasibmu.. hampiri kenyataan diri.. hampiri kalam dirimu.. hampirilah..!<br />
Datanglah sebagai insan..<br />
Datanglah sebagai makhluk..<br />
Datanglah sebagai manusia..<br />
Datanglah dengan ridho dan diridhoi<br />
	Bawakan cahaya iman<br />
Bawakan dengan putihnya hati<br />
Bawakan dengan sucinya jiwa<br />
Bawakan dengan ketundukan<br />
Bawakan jubah kebesaran dan kemegahanmu<br />
Dihadapannya menjuralah.. menjuralah..!<br />
Lihatlah kehidupan dibawah sana, mereka yang centang perenang, satu kebanggaan mereka tertutup oleh ambisi, nafsu dan keserakahan, ingatkah kau, siapakah kau !<br />
Kau telah memasuki kerajaan atas langit, kau telah menerobos dunia bawah, kau telah melewati konstelasi tujuh alam dalam satu malam, bukankah sama dengan melakukan perjalanan jutaan tahun.<br />
	Bukankah telah kuberikan kau kemegahan kebesaran, keagungan diatas makhluk lain, kuberikan kau derajat yang tinggi diatas makhluk yang lain, kuberikan kau kelebihan yang tak dimiliki oleh satu makhlukpun didunia ini hingga dunia dan seisinya berada dalam genggamanmu, bukankah telah kutundukan semua itu untukmu ?<br />
	Tapi kau telah dirapuhkan oleh satu bentuk dan satu nafsu, kau telah jatuh kelumpur kehinaan, oleh satu nafas, kau telah terjerumus kedalam kenistaan oleh satu kata manis, kau gadaikan semua keagunganmu hanya untuk sebuah ambisi dan satu hasrat, setelah kau gagal.. kau sesali.. kau ratapi.. kau meraung.. kau tangisi kebodohanmu dan bahkan kau sesali kebaikan yang telah kau curahkan.<br />
Lihatlah iblis tertawa terbahak-bahak, setanpun tersenyum puas atas kemenangannya terhadap dirimu, atas kelengahanmu..!<br />
Kau tidurkan dirimu, diri yang satu terhadap diri yang lain.. bangunlah..!<br />
Saatnya mencuci diri..!<br />
Saatnya membasuh muka..!<br />
Saatnya menutup telinga..!<br />
Saatnya membatasi langkah..!<br />
Saatnya mengurung hasrat..!<br />
Saatnya bercermin diri..!<br />
Saatnya bersalin diri..!<br />
Saatnya menutup diri..!<br />
Saatnya menutup pintu hati..!<br />
Saatnya menutup mata akalmu.. !<br />
Nak..!<br />
Begitu banyak kisah yang belum terjadi, dan tentunya akan terjadi, semua telah menjadi satu ketetapan yang tak akan berubah ataupun diganti.<br />
Nak..!<br />
Semua kisah dalam perjalanan kehidupan ini akan berulang, tak ubahnya seperti sebuah roda pedati, kadang diatas kadang dibawah..!<br />
Nak..!<br />
Perjuangan dan pengorbanan sudah pasti dituntut, bagi mereka yang hidup dan dihidupkan, dari satu generasi kegenerasi berikutnya.<br />
Satu hal yang patut kau garis bawahi, bahwa Tuhan hanya memberikan dua jalan satu jalan menuju kebaikan dan lainnya menuju kesesatan seperti telah kau ketahui jalan kebaikan akan memberikan kau ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, kedamaian dan bukankah syurga adalah tujuan akhirnya, sedangkan jalan kesesatan hanya memberikan kau pada hal yang merugikanmu, dan bukankah nerakalah tujuan akhirnya.<br />
Dan ingatlah dua jalan itu sepenuhnya kita yang harus menentukan akan langkah kita dijalan mana akan kita tempuh, kitalah yang menentukan jalan kita sendiri bukan Tuhan.<br />
Para nabi, alim ulama, orang-orang baik dan bijak mereka hanya membantu mengarahkan kejalan yang benar, dan pada akhirnya kitalah yang akan menorehkan garis nasib kita sendiri, bukan siapa-siapa, sanak saudara, orang tua tidak berhak menentukan hidup kita.<br />
	Namun demikian hendaklah kita memegang teguh pada kekuasaan dan kehendak Tuhan, Dia memegang teguh hak prerogatif atas tiap makhluknya, dan sudah sepatutnya kita menyandarkan harapan pada-Nya. dan ingatlah kesadaran-kesadaran seperti ini terkadang memerlukan pemahaman yang tidak lazim dan tingkat kesadaranpun harus disadari kehadirannya, diri yang satu menjadi bagian dari diri yang lain, dan berusahalah untuk mengenalnya lebih jauh, jika kau mengenal dirimu maka kau mengenal siapa Tuhanmu.<br />
Tundukan kepalamu atau kau akan menyesal seumur hidupmu tanpa mendapatkan apa-apa dengan kehampaan, dengan ratapan dan tangisan yang tak ada habis-habisnya kau ratapi dan kau sesali.<br />
Lihatlah pusaka yang tergantung dilangit ketujuh, lemparkan bonekamu bagai sampah yang tak berguna, putar haluan arahkan hanya pada Yang satu, jangan palingkan wajahmu ingat.. bukankah ia telah merobek jubahmu.. jangan kau tambal agar kau tau apa yang telah dilakukannya terhadapmu, terhadap hati dan jiwamu, perasaanmu..!<br />
Kau laki-laki jangan sematkan anting-anting ditelingamu, kau bukan perempuan..!<br />
Jangan biarkan dirimu tenggelam, larut.. hanyut melayang-layang dalam nikmat dosa berwajah kasih sayang sebelum akhirnya  kau terpuruk tumbang sebagai pecundang.<br />
Lihatlah masih banyak keindahan yang lebih menjanjikan, dengan kebahagiaan yang tak dapat kau lukiskan dengan apapun..<br />
Dunia ini bukan tempatmu..!<br />
Dunia ini bukan asalmu..!<br />
Dunia ini bukan takdrmu..!<br />
Dunia ini bukan untukmu..!<br />
Dunia ini bukan harapanmu..!<br />
Dunia ini hanya permainan..!<br />
Dunia ini hanya kefanaan..!<br />
	Disanalah duniamu..!<br />
	Dunia itu adalah asalmu..!<br />
	Dunia itu adalah takdirmu..!<br />
Pergilah..dan hampirilah..!<br />
Tinggalkan dunia ini,tiada kebaikan didalamnya.<br />
Tinggalkan ia..!<br />
Pada-Nya keputusan kupasrahkan<br />
Pada-Nya tali harapan kutambatkan<br />
Pada-Nya cita-cita cinta kusimpuhkan<br />
Pada-Nya jiwa raga kutitipkan<br />
Pada-Nya tangis bisu kuderaikan<br />
Pada-Nya perlindungan kuserahkan<br />
Pada-Nya kubersimpuh dan memohon ampunan.<br />
	Dosa dan fitrah<br />
Apa yang kau tau tentang dosa ?<br />
Sesuatu yang apabila terungkap akan membuat kita merasa malu dan takut untuk mengakuinya lalu berusaha untuk menutupi dan menyembunyikannya itukah dosa menurutmu !<br />
Pada saat kau berdusta merasa bersalahkah kau ?<br />
Pada saat kau melihat sesuatu yang membakar nafsumu merasa bersalahkah kau ?<br />
Pada saat kau mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain, sadar dan merasa bersalahkah kau ?<br />
Lalu bagaimana bila kesalahan demi kesalahan yang kita lakukan sudah menjadi suatu kebiasaan dan tak lagi menggugah hati kita untuk kembali kepada fitrah kita sebagai insan ?<br />
Kemanapun kita mencari kesenangan, hasrat tetaplah hasrat tak dapat dihempas oleh badai dan gelombang, berpaling itu mudah tapi tak melupakan dan percayalah pada sebuah kejujuran, ketika permainan berakhir jangan meyakini bahwa dunia tak akan berubah kembali lanjutkan perjalanan hidup dari sebuah dunia yang paralel.<br />
Ketika usai perjalanan dan sayap telah terlipat<br />
Menghembuskan nafas kepuasan dan terbayang segala apa yag telah berlalu.<br />
Senyum tawa dan airmata<br />
Menjadi satu dibawah roman muka<br />
Seribu penyesalan seribu kepuasan<br />
Bercampur dibalik wajah yang memerah<br />
Berharap keabadian datang<br />
Ditengah rasa kebahagiaan<br />
Bukan malu dihadapan insan<br />
Tapi malu dihadapan sang Tuan..<br />
Bukan menawar takdir<br />
Tapi setitik jawaban dari perjalanan<br />
Mencari batas antara kebodohan dan kebaikan.<br />
	Kau kira dia apa !<br />
	Dia hanya seekor jaran rongsokan<br />
Yang dipacu nafsu dan lamunan<br />
Dia kira telah memberi cinta<br />
Padahal yang diberikannya<br />
Adalah penyakit dan kematian<br />
Apa yang tampak hanya saturasi dalam pasir tak berlapis<br />
Dikaki langit perawan-perawan menunjukan dada-dada perak<br />
Berkasut mimpi,.<br />
Sementara kaki sang langit menjejak dada samudra<br />
Hingga terpekik gelombang datar<br />
Sejenak ilalang tersenyum dipunggung bumi<br />
Melantunkan senandung rindu<br />
Air kehidupan turun dengan deras<br />
Langit menangis rembulan bersedih<br />
Bintang redup<br />
Mentari bersembunyi menahan malu<br />
Tatkala melihat kotornya comberan hati<br />
Kerap berusaha mencari sepasang tangan-tangan suci<br />
Untuk membersihkannya<br />
Dalam kekalutan dan ratapan<br />
Selarik pelangi hadir ditengah relung jiwa<br />
Dibalik puing-puing kehancuran hati<br />
Tali pengikat jiwa membawakan senyum<br />
Penebar maut<br />
Dan angin membawa kabar berita<br />
Sang camar mendekat dianjungan kapal<br />
Jangan halau mereka, biarkan..<br />
Biarkan mereka datang membawa kehidupan<br />
Jangan usir mereka<br />
Jangan biarkan lidahmu bermain ditengah lautan<br />
Hempaskan pada dada bidang jiwa-jiwa sejati<br />
Karna waktunya telah tiba.<br />
Bandara telah meretakan harapan<br />
Yang bertiup pada akhir sebuah musim<br />
Aku biarkan kenyataan menjauh dari pelukanku<br />
Sementara tangis bisuku telah menafsirkan luka<br />
Dalam dekapanmu yang kemarau<br />
Aku tak paham, mungkin kau lupa untuk menangis<br />
Aku tak pernah menyesali<br />
Apa yang telah menjadi suatu keputusan<br />
Segala rupa yang teringat, hati dan perasaan<br />
Terkungkum dibawah sandaran pangkuan bumi<br />
Aku tak memilih rupa atau hati yang berada<br />
Dihadapanku untuk kubuai<br />
Namun kumerasa ragu akan rupa dan hati itu sendiri<br />
Mengapa kau bertanya<br />
Apakah kau mengerti akan sebuah jawaban.<br />
Ketika rebahku diantara bibir gelas yang kau reguk<br />
Aku merasa asing akan air yang kuminum<br />
Aku merasa sauhku terdampar ditepi sungai nan lalu<br />
Aku merasa asing akan keberadaanku<br />
Aku tak tau apa yang hendak kulakukan<br />
Kau yang mengajarkan aku cinta<br />
Dan kau juga yang mengajarkan aku rindu<br />
Aku coba membuka tabir akan kasih sayang<br />
Hanya untukmu..ya..hanya untukmu..!<br />
Kau telah membuatku melupakan dunia yang kugenggam<br />
Aku tak mampu berkata<br />
Apa yang dapat kulakukan untuk dapat membahagiakanmu<br />
Namun aku tak tau akan hatimu yang sesungguhnya<br />
Mengapa aku merasa ragu dan bimbang<br />
Dan kini keraguanku<br />
Berada disisi kuku-kuku yang kugenggam<br />
Tolong berikan aku jawaban<br />
Atas semua resahku..?<br />
Sekalipun aku telah bertemu denganmu, namun aku tetap merindukanmu entah bagaimana aku menjelaskan tentang semua ini, aku tak tau apa yang harus aku lakukan untuk selalu didekatmu.<br />
Terlalu jauh kita menjalin hubungan, terlalu dalam kita menjalin rindu, beribu-ribu alasan terus memenuhi ruang fikiranku, rasanya telah habis terkuras seluruh alasan dan sebab, ya.. hari esok adalah hari kita.. dunia ada dalam genggaman tangan-tangan suci kita, setuju atau tidak tak perlu kau jawab, sebab hati dan perasaan tak akan berdusta.<br />
	Sekantung asa segenggam rasa terselip disaku baju<br />
Tak ada yang tau, namun senyum simpul yang menyeringai<br />
Membuka makna rona wajah<br />
Menyingkap tabir selarik sinar mata<br />
Menguak rahasia diri<br />
Yang tertutup tutur sapa nan lugu<br />
Namun penuh lantunan lagu nan merdu<br />
Sembilan sukma, satu jiwa, satu tubuh, satu nafsu<br />
Terangkum ditengah hati dan fikiran<br />
Rusak luluh lantak tak tersisa<br />
Kini.. apa yang dapat kulakukan<br />
Apa yang dapat kubanggakan<br />
Apa yang dapat kukagumi<br />
Padanya..<br />
Darinya..<br />
Satu bait memberikan nuansa sendu<br />
Namun malu sang fajar<br />
Meronakan gelap alam semesta<br />
Tanpa ragu, kerah bajunya terlipat diujung dagu<br />
	Mengikat resah dalam paraunya perjalanan<br />
	Membayang rancu dalam kebimbangan<br />
	Karna satu garis lurus mewujud dibawah telapak tangan<br />
	Membiru roman mula<br />
	Membias sikap dalam baris tiga buah bintang<br />
Begitu tajam dalam langkah<br />
Mencucuk jari pada batas kelangkaan judul<br />
Menjejak lipatan putih akan rupa tak nyata<br />
Kesan-kesan yang terukir<br />
Melaju diam..merujuk kisah..<br />
Meronakan hati dalam senyum yang berputar<br />
Dibawah dagu penafsir luka<br />
Dalamnya telinga, penembus haru<br />
Pada derap pelantun irama sendu<br />
Menghias pada bilur-bilur goresan takdir<br />
Begitu ringkih pada sikap yang manja<br />
	Cambuk kenangan merejam dada<br />
Menampar jiwa-jiwa tak kentara<br />
Menantang batasan garis nasib<br />
Rona wajah dalam keluhuran budi<br />
Tertutup tabir emosi sesaat<br />
Tameng yang meretas alur<br />
Terbentur pada bentuk dan nafsu<br />
Yang tersimpan dalam dada<br />
Sulur sang fajar bagaikan bara neraka<br />
Menghujam nalar dalam fikiran picik<br />
Menghantam dalam getaran jiwa-jiwa halus<br />
Begitu rapat menghimpit tubuh<br />
Kaku dan beku..<br />
Tak kuasa mengingat<br />
Sehelai rambut keindahan yang menjerat kalbu<br />
Raib dalam genggaman.<br />
	Uhruz..uhruz..!<br />
Keluarlah wahai mutiara hati<br />
Biaskan cahayamu, disegenap penjuru rusuk<br />
Reguk sejenak..<br />
Rengkuh sekejap..<br />
Jalan itu hanya berputar pada lingkaran buta<br />
Putuskan tali fikiran<br />
Lepaskan buhul pada tiang penyangga kaki langit<br />
Eratkan menjadi satu untaian yang tak terhitung<br />
Perlahan jangan kau biarkan<br />
Tapi ikat dalam pusara gelombang laut<br />
Lihatlah ujungnya..<br />
Kemana kepala itu menghadap<br />
Jika ia tertunduk teriaklah..!<br />
Teriaklah..!<br />
Bahanakan suara penyeru<br />
Berserulah dengan lantang<br />
Sertakan kalam dirimu<br />
Menuju lambung langit yang terbuka<br />
Hamparkan permadani yang tertera pada tujuh lapis diri<br />
Sapukan dadamu dengan airmata<br />
Cuci hatimu dengan ketulusan tanpa harapan<br />
Tegakkan jiwamu dalam dekapan sang Penata alam<br />
Kini..<br />
Rebahku dalam ketenangan<br />
Rebahku dalam ketentraman<br />
Rebahku dalam keridhoan<br />
Aku ingin pulang..!</p>
<p>Cinta dalam kemasan diberikan dan dijual dengan harga yang mutlak tak dapat ditawar, terbungkus begitu rapi dengan warna, rasa dan aroma yang menggiurkan dengan label yang menjanjikan, dengan ciri dan khas yang begitu mendetail penuh kelebihan yang mengagumkan, tak dapat dicicip dan jika sudah terbeli pantang untuk ditukar.<br />
Demi Tuhan wahai teruna-teruni, apakah cinta adalah sesuatu yang layak untuk diperjual belikan..? apakah cinta adalah sesuatu yang memiliki harga mutlak untuk ditawar dan saling menawar..?<br />
	Inikah yang disebut dengan fenomena..?<br />
Kau keliru kawan.. cinta memerlukan pengorbanan, dimana perjuanganmu. dimana kedewasaanmu, dimana matamu..? apakah dunia telah membutakan kedua matamu ? dimana hatimu..? kau katakan cinta dan sayang dari lubuk hatimu..!<br />
Pantaskah kau katakan itu..!<br />
Layakkah kau ucapkan itu..!<br />
Dimana kejujuranmu jika cintamu sebatas itu..!<br />
	Hari ini.. apa yang ada dibenakmu wahai anak muda..!<br />
	Apa yang ada dalam hatimu hai anak muda..!<br />
	Apa yang ada dalam jiwa-jiwa kusutmu..!<br />
Apa yang kau rencanakan untuk sebuah hari, untuk sebuah malam, dan apa yang lebih baik dari pada dada seorang anak muda, wahai anak muda..!<br />
aku bertanya bukan untuk ditanya..!<br />
apakah setiap pernyataan adalah pertanyaan..! atau<br />
Apakah setiap pertanyaan adalah pernyataan..!<br />
jika hari telah berlalu apa yang telah kau dapatkan.!<br />
Jika malam telah berlalu apa yang kau dapatkan..!<br />
Ketika senja telah tiba apa yang kau lepaskan..!<br />
Ketika pagi telah tiba apa yang kau takutkan..!<br />
Hari demi hari terlewati tanpa sapaan dan tanpa basa-basi<br />
Hari demi hari hanya mematri diam membisu<br />
Lihatlah diatas sana mentari begitu senang dan bangganya membakar hari meskipun terkadang tertutup awan hitam, dari hari kehari tak ubahnya seperti bocah yang mengayuh roda-roda kehidupan, tak pernahkah kau berfikir hal apa yang bisa menjadikan sebuah hari menjadi begitu istimewa ditengah kejenuhan dan kepenatan rutinitas !<br />
Apa yang bisa menjadikan hari begitu membanggakan ditengah kesibukan !<br />
Apa yang bisa menjadikan hari begitu menyedihkan !<br />
Apa yang menjadikan hari penuh dengan penyesalan !<br />
Bagaimana kau akan menggambarkan lautan yang menangis ?<br />
Dengan apa kau dapat melukiskan rembulan yang menangis ?<br />
Dengan warna apa kau dapat menorehkan aroma rasa ?<br />
coba kau perhatikan apa warna kentutmu wahai anak muda ?<br />
bening diatas bening atau bening didalam bening ?<br />
kau tak dapat melihatnya, tapi dia ada dan dapat kau rasakan bukan ?<br />
	Kini saatnya menarik diri dari kehampaan<br />
Turunlah, tunjukan dadamu !<br />
Turunlah, tunjukan dirimu..!<br />
Turunlah, tunjukan hatimu..!<br />
Turunlah, tunjukan jiwamu..!<br />
ketika kau angkat kepalamu jangn lupa pembaringan tanah merah<br />
Ketika kau genggam tanganmu jangan lupa tempat kau berpijak.</p>
<p>6 juni 2006<br />
seminggu yang lalu aku datang bertandang dan seperti biasa aku berbicara panjang lebar tentu saja masih seputar masalah kami berdua tentang masa depan kami namun tetap tak menemukan jalan keluarnya selepas kami saling memeluk dan bercumbu aku duduk diserambi disisinya, sempat aku ajukan pertanyaan<br />
“jika suatu saat kelak kau dijodohkan orang tuamu dengan seseorang apakah kau akan menerimanya ?”<br />
“Ya.. aku pasti menerimanya, dan aku akan menikah dengannya ? karna kita tau tak ada kebaikan untuk kita berdua jika kelak kita bersatu !”<br />
”Ya.. kau benar ! terimalah dia dan jangan kamu pedulikan aku, aku rela demi kebahagiaanmu..!<br />
“bukan begitu sayang, aku harus memikirkan juga masa depan dan keluargaku aku ingin aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku dan keluargaku !”<br />
”karna itulah, demi kebahagiaanmu, demi kebahagiaan orangtua dan keluargamu, aku minta kamu lupakan aku, mulai dari saat ini, dan hari ini adalah hari terakhir kita bisa bertemu, dan aku minta kamu untuk tidak berhubungan lagi dengan aku, tidak menelpon aku, tidak sms, dan tidak berusaha untuk mencoba mencari kabar tentang kita masing-masing !”<br />
“tidak ian, aku tidak bisa tanpamu aku tak mau !”<br />
sambil memeluk dan berurai airmata kau ucapkan itu, dengan lantang dan tegas<br />
“aku tanya sekali lagi, kamu mau hubungan kita berakhir sampai disini dengan semua ketentuannya ?”<br />
”tidak.. sayang aku tidak bisa, aku tidak mau berpisah denganmu..!”<br />
“lalu aku harus bagaimana aku lamar kamu, kamu tidak mau, aku akhiri kamu tidak mau, sampai aku relakan harus seperti inipun kamu tidak mau aku harus bagaimana lis..?<br />
apa aku harus membiarkanmu dan menyaksikanmu menikah dengan orang lain sementara aku tetap berada disisimu, dan akan kau jadikan aku sebagai apa, sementara kau telah bersuami aku takut aku tak sanggup menahan semua gejolak rasa dihati ini, bukankah kamu sudah tau bagaimana aku pernah dikecewakan sebelum ini, sebelum hal itu terulang lagi lebih baik aku pergi, sebelum kejadian itu akan menyayat hatiku jauh lebih baik jika aku pergi darimu, lebih baik sakit sekarang daripada nanti aku lebih menderita menyaksikan kau bersanding dengan orang lain, sadarkah kau !”<br />
”tapi aku benar-benar tidak bisa ian !”<br />
”baik kalau begitu, kita coba untuk tak saling bertemu satu sama lain tak saling menyapa, tak saling berkomunikasi, sekalipun itu hanya sebuah sms, kita coba selama satu bulan kedepan, kamu setuju ? dan harus setuju ?”<br />
“baik ian.. jika itu kehendakmu, kita coba..!<br />
Enam juni aku merasakan, benar-benar kehilanganmu bagaimanapun aku deraikan airmata ini tak mampu mengusir kekecewaaan dalam dada, kucoba untuk tak putus asa dalam menentukan sikapku, kucoba menerima kenyataan pahit yang akan segera terjadi, sakit dalam dada ini begitu menyayat kalbuku untuk sejenak aku membencinya, ya bukan membenci dirinya tapi aku benci akan sifat-sifatnya. </p>
<p>Senin 16 oktober 2006<br />
Hari ini aku bertekad untuk tak menemuinya ya,, aku kecewa..<br />
Kemana langkahku berjalan selalu meninggalkan jejak berdarah merah<br />
Jalan itu serupa potret tua hitam putih yang dalam keusangannya selalu menampilkan kenangan yang tak pernah pudar. terkadang semua mengecewakan karna tak selamanya jawaban yang kita terima adalah jawaban yang kita inginkan.<br />
Kecuali jika kita bertanya pada Tuhan tak akan ada jawaban yang mengecewakan.<br />
	Dia selalu mengatakan “cintaku penuh untukmu” berkali kali seakan dalam maknanya menampilkan keraguan yang mendalam pada cintaku, aku tak tau sementara dia masih saja berusaha untuk menduakan cintaku entah apa makna cintanya padaku akan kuceritakan kisah ini selepas aku merasa mampu untuk mengisahkannya karna saat ini aku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini, bahkan sampai saat ini 17 oktober 2006 aku masih merasa terdampar atas perlakuaannya padaku..</p>
<p>Kosong tepi jalan saat kau memilih taman yang lebih teduh dari diriku<br />
Menggigil batu-batu<br />
Debu-debu kaku<br />
Darah berkhianat<br />
Mata candu<br />
Hari berkanvas gelap<br />
Horison pecah<br />
Menumpahkan tanah, api dan warna abu-abu<br />
Menjamah warna<br />
Membayang rebah<br />
berdiri disitu<br />
Tak terusik<br />
Tak sampai tangan<br />
Tinggal tubuh dingin mengisak<br />
Bukankah langit telah robek waktu itu<br />
Kau memetik doa dari tampuk yang lantas layu<br />
Dadaku tak cukup mengangkasa menanggung dunia<br />
Namamu menggeletar syair-syair rindu<br />
Kuusap dinding kosong<br />
Kosong seutuh wajahmu<br />
Kuseka kecewa berleleh ditepi mata<br />
Berlari tak sampai menunggu<br />
Tak kunjung datang<br />
Dimanakah wajahmu<br />
Aku terbenam dilaguna jasad menggembung<br />
Sejarah selalu saja menorehkan darah dan airmata sementara<br />
Sejarah luka selalu berderak dan bersipongah pada kisah yang dikuburkan<br />
Entah dimana serpihan itu kini ditumpangkan.<br />
Tapi masih kubungkukkan kepala<br />
Sebagai isyarat luka yang tetap membekas pada wajahku<br />
Tapi masih kucari secelah retak dalam diriku<br />
Tempat aksara membeku terkunci.</p>
<p>Sajak itu tak lagi seindah dulu<br />
Kisah itu tak lagi seindah dulu<br />
Rasa itu tak lagi seindah dulu<br />
Jingga hari ini tak sejingga hari itu<br />
Tidakkah mentari hari ini adalah mentari hari itu ?<br />
Lalu apanya yang berubah ?<br />
Warna dirimu..<br />
Warna cintamu..<br />
Warna kasihmu..<br />
Warna sayangmu..<br />
Warna sikapmu..<br />
Warna matamu..<br />
Warna wajahmu..<br />
Tak seperti yang kukenal dulu<br />
Begitu indah seindah cinta kasihmu<br />
Yang tercurah padaku waktu itu<br />
Tapi kini semua telah berubah<br />
Dan mungkin akan segera berlalu.</p>
<p>Suatu ketika kau katakan..<br />
“ian, aku haus..!<br />
“kau haus sayang ! kamu mau minum apa, teh manis jus atau susu atau kopi atau barangkali ada yang lain ?<br />
“aku mau minum teh manis !”<br />
maka secepat mungkin aku berlari membeli gula dan teh, dan secepat kilat aku kembali lalu kurebus air dengan sabar aku tunggu hingga mendidih, sementara aku siapkan gula dan teh dalam gelas besar, setelah air mendidih aku tuangkan setengah air panas aku aduk hinga merata lalu aku tuangkan setengah air dingin agar lekas dapat kau minum dengan hangat, puaskah kau aku tak tau !<br />
suatu ketika kau katakan<br />
“ian, aku lapar !”<br />
”kamu lapar sayang ! kamu mau makan apa !<br />
“aku mau makan mie !”<br />
secepat kilat aku pergi membeli mie dan telur dan secepat itu pula aku kembali merebus air, aku tunggu dengan sabar hingga air mendidih, lalu aku tuangkan telur dan mie hingga matang, aku siapkan bumbunya lalu aku hidangkan untukmu seorang hanya untukmu, puaskah kau, aku tak tau !<br />
suatu ketika kau katakan<br />
“ian, aku sakit !<br />
“kamu sakit apa sayang ! ayo kita kedokter dan berobat !<br />
secepat kilat kuantar kau kedokter aku tak peduli ada apa halangan kelak dijalan<br />
puaskah kau, aku tak tau !<br />
suatu ketika kau katakan<br />
“ian, aku haus !<br />
“kamu haus sayang, kamu mau minum apa !<br />
“aku mau minum jus alpukat !”<br />
secepat kilat aku pergi mencari alpukat lalu aku hidangkan untukmu, hanya untukmu, puaskah kau, aku tak tau !<br />
dilain waktu kau katakan dengan nada yang tinggi<br />
“IAN, AKU HAUS !”<br />
“apa kamu haus, apakah selama ini aku tak pernah memberi kamu minum !<br />
apakah selama ini kamu tak pernah puas dengan apa yang aku hidangkan untukmu !<br />
lalu apa jawabmu, kau katakan<br />
“minum yang kau berikan terlalu kental dan manis untukku, makanan yang kau hidangkan untukku terlalu asin dilidahku, terlalu pahit !”<br />
mengapa baru kau katakan semua itu sekarang, mengapa tidak dari saat aku hidangkan untukmu hingga aku tau apa yang kurang, mengapa kau tak jujur padaku selama ini!<br />
Kau tutupi segala kekuranganku kau sembunyikan segala kelemahanku selama ini<br />
apa maksudmu aku tak mengerti.<br />
	Taukah kau setiap kali aku datang padamu sering kali kau buat aku menetakkan rasa hatiku yang memaksa aku untuk menarik nafas panjang, suatu ketika kau katakan cintamu penuh untukku betapa kau sayang padaku, betapa kata-kata itu sangat membuat aku bahagia namun disela kata-kata itu kau katakan juga agar aku pergi darimu untuk mencari hati yang lain untuk mencari cinta yang lain, betapa kata-kata itu menyiksa hatiku suatu ketika kau robek jubah kerinduanku dilain waktu kau tambal dan kau jahit ia, lalu kau robek lagi kemudian kau jahit lagi entah sudah berapa kali kau robek dan kau jahit apakah tidak pernah kau bayangkan yang kau lakukan itu adalah hati dan jiwaku bukan bahan atau kain, hati dan jiwaku bukanlah sesuatu yang bisa kau robek dan kau tambal sulam sekehendak hatimu, aku ini, apa bagimu ?<br />
	Aku tau apa yang terbaik untukku, aku tau apa yang terbaik untukmu dan aku tau apa yang terbaik untuk kita, apakah selama ini aku membelenggu kamu untuk mengekang kebebasan kamu bergaul ? apakah selama ini aku melarang kamu untuk meraih kebahagiaanmu ? apakah selama ini aku memaksakan kehendakku padamu ? bukankah kau kuberikan kebebasan untuk memilih yang terbaik untukmu, aku persilahkan ! dan aku rela untuk kebahagiaan hidupmu !<br />
Entah mengapa aku tak mengerti sikap dan kelakuanmu padaku membuat aku tak bisa berbuat apa-apa, membuat aku tertunduk malu, membuat aku semakin terhina !<br />
Kau rengkuh harga diriku, kehormatanku, kau robek jubah keagunganku, sementara aku masih menjaga baik harga diri dan kehormatanmu dan setelah aku berikan semua yang kupunya padamu lalu kini kau suruh aku mencari cinta yang lain, pernahkah kau bayangkan ?<br />
Aku harus bagaimana ?<br />
Kau suruh aku untuk disiplin<br />
Tapi kau mengajarkan yang lain<br />
Kau suruh aku untuk bersabar<br />
Tapi sikap dan kelakuanmu semakin datar<br />
Aku harus bagaimana ?<br />
Kau suruh aku mencoba untuk mengerti<br />
Tapi sikap dan tingkahmu semakin tak kumengerti<br />
Kau suruh aku untuk bijaksana<br />
Tapi kau membuat aku semakin terhina<br />
Aku harus bagaimana ?<br />
Kau suruh aku untuk tabah<br />
Tapi kau membuat aku semakin lelah<br />
Kau suruh aku untuk diam<br />
Tapi kau sendiri berlaku tak tentram<br />
Kau ini bagaimana ?<br />
Kau suruh aku untuk pergi<br />
Dilain waktu kau bilang sepi<br />
Kau ini bagaimmana ?<br />
Kau suruh aku untuk tidak kelain hati<br />
Tapi kau sendiri membuka pintu hati<br />
Kau ini bagimana ?<br />
Kau suruh aku membuatmu bahagia<br />
Tapi kau membuat hatiku terluka<br />
Kau suruh aku menepati janji<br />
Tapi kau mengingkari janji<br />
Aku harus bagaimana ?<br />
Kau suruh aku tetap setia<br />
Tapi kau buat api cemburu membakar jiwa<br />
Kau suruh aku memberikan apa yang kupunya<br />
Tapi kau tak memberikn apa yang kupinta<br />
Kau ini bagaimana ?<br />
Suatu ketika kau katakan Ya..<br />
Dilain waktu kau katakan Tidak<br />
Suatu ketika kau minta aku untuk pergi<br />
Dilain waktu kau undang aku untuk datang<br />
Aku harus bagaimana ?<br />
Suatu ketika kau ingin agar aku melupakanmu<br />
Dilain waktu kau katakan kau rindu<br />
Suatu ketika kau minta aku untuk datang<br />
Dilain waktu kau membuat aku semakin terbuang<br />
Kau ini bagaimana ?<br />
Suatu ketika kau ingin agar aku membagi kasih sayang<br />
Dilain waktu kau buat aku semakin bimbang<br />
Suatu ketika kau ingin agar aku memberi perhatian<br />
Dilain waktu kau buiat aku terasingkan<br />
Aku harus bagaimana ?<br />
Suatu ketika kau katakan hatimu penuh krinduan<br />
Dilain waktu kau buat aku diacuhkan<br />
Suatu ketika kau buat aku untuk mengalah<br />
Dilain waktu kau katakan aku salah<br />
Kau ini bagaimana ?<br />
Suatu ketika rasa rindu membuat dadamu terasa terbelah<br />
Dilain waktu kau katakan cukup sudah<br />
Kau sering kali membuat ulah<br />
Kau suruh aku untuk diam aku akan diam..<br />
Kau suruh aku untuk pergi,aku akan pergi..<br />
Masih ingatkah kau..ketika..<br />
Aku bawakan bunga kau bilang hati<br />
Aku bawakan resah kau bilang hanya<br />
Aku bawakan mimpi kau bilang meski<br />
Aku bawakan bangga kau bilang madu<br />
Aku bawakan mayat kau bilang hampir<br />
Aku bawakan air kau bilang laut<br />
Aku bawakan asal kau bilang sesal<br />
Aku bawakan diri kau bilang bukti<br />
Aku bawakan diam kau bilang sakit<br />
Aku bawakan senyum kau bilang terkulum<br />
Aku bawakan langkah kau bilang lelah<br />
Aku bawakan janji kau bilang kejam<br />
Aku bawakan manis kau bilang menangis<br />
Dan tanpa apa-apa.<br />
aku tak tau harus bagaimana lagi terhadapmu !<br />
	kau laksana bayangan bagiku ada dan nyata tapi tak dapat kuraih terlihat dan nampak jelas dimata begitu indah tapi tak dapat terjangkau tangan, bertahun-tahun kucoba meraihmu tapi apalah dayaku kau tetap tak terengkuh, sementara begitu banyak orang mentertawakan atas apa yang kulakukan selama dua tahun terakhir ya, aku terus disibukkan mengejar bayang dirimu, betapa bodohnya aku.<br />
Hari ini sekelam waktu itu yang terus diburu kekecewaan terhadap dirimu aku tak tau mengapa terasa begitu menyiksa hatiku membayangkan kau ada dipelukan orang lain membayangkan kau bercumbu dengan orang lain rasa hatiku begitu tersayat-sayat sembilu entah mungkin kau senang melakukan semua itu sebagai isyarat luka hatimu terhadapku tiada mengapa aku rela demi cinta aku berkorban, untuk kebahagiaanmu namun jangan kiranya kau terima dia sebagai balas dendam atau keterpaksaan atas kekecewaanmu terhadapku, mungkin aku tak bisa melakukan hal yang sama seperti apa yang kau lakukan terhadapku karna rasanya begitu menyakitkan aku tak akan bisa menari-nari diatas penderitaan orang lain, aku tak mau menerima cinta seseorang jika dia telah memiliki seseorang yang mencintainya, telah aku rasakan bagaimana rasanya jika seseorang yang kita cintai jatuh kepangkuan orang lain, ya.. menyakitkan penuh kekecewaan dalam dada, seakan terjadi pengkhianatan cinta, aku tak mau apa yang kurasakan akan terjadi pada orang lain belum tentu mereka bisa menahan gejolak rasa itu semoga kebaikan senantiasa menaungi diantara kita.</p>
<p>Minggu 15 oktober 2006<br />
	Seminggu sebelum akhir bulan puasa kita jalan bersama seperti tahun-tahun yang lalu sepotong baju dan celana panjang bekal hari itu namun siang itu kedatanganku seperti tak diharapkan karna kami sama-sama lelah menjelang sore baru kami melangkah tak lama kami belanja sebelum adzan maghrib berkumandang kami tiba dikost, dan berbuka bersama meski bahagia namun ada sesuatu yang terasa kurang entah apa kami tak tau,selepas sholat magrib kami mulai berbincang-bincang tentang apa saja, tapi malam itu kami tak melakukan apa-apa tak saling bercumbu dan memeluk, aku biarkan semua berlalu sehari kemudian kami saling mengutarakan perasaan hati masing-masing, ada satu hal yang mengganggu suasana hatiku aku sempat membaca pesan singkat dari hpnya dari seseorang yang menaruh hati padanya dan ia membalas pesan itu dengan memberi harapan padanya dan tentu rasa hatiku begitu kacau tatkala membaca semua itu bagimanapun aku harus mencoba menerima kenyataan ini demi kebahagiaan dia.<br />
	Selama satu minggu ini aku berjanji pada diriku sendiri, jika sampai hari jumat nanti dia tidak memberi kabar untukku atau meminta aku untuk datang padanya maka aku bertekad untuk datang lagi padanya selamanya.. menjelang detik-deatik terakhir tak kusangka ketika hampir aku putus asa menunggu kabar darinya dan ketika kepasrahan hadir diruang jiwaku tak kusangka dia mengirimkan pesan singkatnya untuk meminta aku datang seketika kebahagiaan meruah dalam dadaku namun bagaimanapun aku tak dapat menyembunyikan kebingunganku malam itu aku datang padanya dengan diam..<br />
Dan akhirnya kami mulai bercengkrama kembali bercanda dan bersenda gurau seperti biasa dan malam itupun kami bercumbu dan saling memeluk dan tak kusangka dia melakukan sesuatu yang berbeda membuat aku terlena dalam amuk rasa yang menggelora, sejurus kemudian aku pulang dan sempat kami berbincang sampai jauh malam sambil melepas lelah, selesai sudah malam itu dengan berjuta rasa yang menggelora dalam dada penuh rasa penasaran dan hasrat yang terpendam tak terlampiaskan dan kami berjanji esok untuk pergi lagi.<br />
	Keeoskan harinya jam setengah satu aku datang padahal jam sebelas dia sudah meminta aku untuk dating, namun cuaca tak bersahabat panas terik membuat kami menunda perjalanan, selepas ashar kami melangkah ketempat empat tahun lalu bernostalgia sepasang sepatu sebagai bekal hari itu dan kami pulang tepat sebelum maghrib dan berbuka bersama seperti biasa dia memasak mie untukku dan selepas itu kami kembali bersenda gurau tak lupa aku selalu memijit pergelangan kakinya yang terasa lelah hal seperti itu seakan sudah biasa bagiku,dan seperti biasa malam itu kami saling memeluk dan bercumbu namun kali ini dia meninggalkan beban rasa didadaku tak sampai kepuasan hadir dia sudah melepaskan pelukanku ahh.rasanya seperti memendam emosi yang tak dapat kutahankan kepaqla seakan penuh sesak dan dada ini terasa terhimpit langit dan bumi begitu sesak rasanya kucoba kembali menerimanya kepahitan rasa itu sampai-sampai tembok aku pukul tiga kali benar-benar tak terasa sakit.<br />
Sepatu yang kubeli dia memberiku separuh harga,<br />
Tanpa kami sadari apa yang telah kami lakukan sepertinya kami sedang diajarkan bagaimana suka dukanya hidup berumah tangga,hidup bersama dengan segala rasa yang menjadi satu bahagia dan kecewa, dan hari ini </p>
<p>22 oktober 2006 dia memintaku untuk datang kembali ya.. kado lebaran dan salam untuk ibuku, darinya.. terucap dari bibir manisnya yang tipis.<br />
Terima kasih sayang.<br />
Sebutir pasir dalam genggaman menjadi peluruh rasa dalam kenyataan perangkum pilu dalam kenangan, surut terpaku penuh ragu dalam kiasan halus tak bertepi, mengayun cerita jauh terlempar sudut pandang, hanya untuk satu tujuan, satu maksud, satu makna, satu niat, begitu panjang terurai untuk sepenggal kata yang terasa pahit, demi satu asa untuk menjaga hati dan perasaan,catatan singkat tentangnya menunjukan sebuah bukti.. mungkin suatu saat akan ada waktunya dimana semua menuju pada satu ketentuan dan ketetapan yang sudah digariskan.<br />
Entah bagaimana cara agar aku dapat mengerti akan semua sikapmu kucoba dan kucoba lagi tapi semakin kujajaki semakin aku tak mengerti terlalu jauh kita menjalin hubungan hingga semua rasa menjadi satu dalam dada ini, dari hari kehari ada saja dari sikapmu yang membuat aku terhentak menetakkan rasa dan memaksa aku untuk menarik nafas panjang, seakan-akan kau hendak menarik aku lebih jauh kedalam kehidupanmu namun dilain waktu kau paksa aku untuk pergi meninggalkanmu, kucoba untuk menerima kenyataan pahit ini dalam kebimbangan dalam keraguan sama seperti apa yang kau rasa terhadapku.<br />
Aku merasa semua kebaikan, perjuangan dan pengorbananku yang aku curahkan tiada arti sama sekali, karna menurutku  kau terbelenggu atas semua itu, kau mencintaiku atas dasar semua kebaikan, dan segala apa yang aku curahkan untukmu dan rasa cinta itu hadir bukan dari lubuk hatimu,rasa cinta itu hadir karna kau merasa terpaksa atas semua yang telah aku berikan untukmu, dan timbul rasa bersalah karna kau yang, memulai pertama kali untuk kita saling mencintai, dan saling menyayangi dan terlebih lagi ketika kau pula yang meminta untuk memelukmu, yang mendambakan belaian kasih sayangku hinga semua kini terlanjur kita lakukan.<br />
bagaimana mungkin minyak dalam satu wadah mampu mencapai dasar jika kau tuangkan air kedalamnya, ribuan galon minyakpun jika dituangkan tetap akan bisa menyentuh dasar wadah itu.<br />
Bagaimanapun kau katakan cinta dan sayang itu sudah tak berarti lagi, mengapa ?<br />
Karna dasar hadirnya rasa cinta itu tidak murni karna rasa sayang tapi karna rasa takut dan rasa bersalah, karna kau yang mengawali kisah perjalanan ini, hingga perasaan cinta dan sayang itu terlahir dari rasa keterpaksaan untuk mencintai dan menyayangi.<br />
Seorang pecinta tak akan pernah mencari siapa yang mengawali kisah dan tak akan mencari siapa yang bersalah.<br />
Dia disebut seorang pecinta karna ketulusan hatinya dalam mencintai dan menyayangi terhadap kekasihnya, dan berusaha menyatakan cinta itu dalam warna rasa, sikap dan perbuatan sehari-hari, baik dalam bentuk perhatian maupun kepedulian.<br />
Dan karna sebab inilah kau terbelenggu padaku dan tak bisa mengambil keputusan apapun, dan bahkan kau sudah menolak tujuh laki-laki yang pernah menaruh perhatian padamu, hanya karna rasa itu ? kau korbankan masa depanmu, cita-citamu, kebahagiaanmu, harapanmu, kedamaianmmu, dan bahkan kebahagiaan keluargamu,<br />
masih ingat siapa saja mereka ?<br />
Benar atau tidak aku tak tau, siapalah aku bagimu lis..?<br />
aku bukan siapa-siapa yang mampu memberikan kebahagiaan padamu, yang bisa mencerahkan masa depanmu, aku bukanlah orang yang kau harapkan bukan orang yang kau impi-impikan selama ini, bukankah kau pernah mengatakannya padaku ! aku tidak berhak untuk mendapatkan cintamu,aku bukan orang yang tepat untuk mendampingimu aku tidak memiliki apa-apa yang bisa aku banggakan untuk kehidupan ini, sedangkan kau berhak mendapat yang jauh lebih baik dariku.<br />
	Dari sini aku mulai mengerti mengapa kau terkadang memberikan ironi-ironi halus yang memaksa aku untuk pergi darimu dan mencari cinta yang lain, entahlah apa aku bisa, aku tak tau, rasa dalam hati ini mulai terasa hambar, dan seakan rasa cinta dan sayangku sudah habis terkuras dan tercurah untukmu, aku tak tau apakah masih ada sisa-sisa cinta dalam dadaku yang dapat aku berikan pada orang lain !<br />
	Bagaimana bisa aku mencintai orang lain sementara bayang wajahmu selalu hadir dipelupuk mataku, seakan kau menghalangi hingga tiada gairah untuk menjalin tali cinta dengan yang lain, segala kisah, segala kenangan, dan semua yang telah kita lakukan, membuat aku tak kuasa untuk bergerak.<br />
Aku hanya bisa diam dalam ketundukan, pasrah menerima apapun yang akan terjadi padaku dengan segala kepahitannya.<br />
	Mengapa lis..!<br />
Aku tidak bisa dan tidak mungkin menyalahkanmu dalam hal ini !<br />
Aku tidak bisa memaksakan kehendak pada siapapun sekalipun dia orang yang kucintai !<br />
Aku tidak bisa dan tidak mungkin menyudutkanmu atas semua yang telah berlaku pada kita ?<br />
karna aku juga merasa bersalah atas apa yang telah terjadi<br />
aku tau kau mencintaiku<br />
Aku tau kau menyayangiku<br />
Dan kaupun tau bahwa aku mencintaimu<br />
Dan kaupun tau bahwa aku menyayangimu<br />
Jangan pernah memaksa aku untuk mencintai orang lain karna aku tak pernah memaksamu untuk mencintai orang lain.<br />
Janagan pernah memaksa aku untuk menyayangi orang lain karna aku tak pernah memaksamu untuk menyayangi orang lain.<br />
Aku tau apa yang terbaik untukku, untukmu, dan untuk kita.<br />
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan untuk dapat membahagiakanmu karna selama ini kehadiranku hanya membuatmu meneteskan butir airmata.<br />
Hanya membuat luka dalam hatimu, dan selalu membuatmu bersedih.<br />
Maafkan aku !<br />
maafkan atas rasa cintaku padamu<br />
maafkan atas rasa sayangku padamu<br />
maafkan atas rinduku selama ini padamu</p>
<p>14 november 2006</p>
<p>beberapa dialog tentang aku dengannya hanya melalui pesan singkatnya dia sampaikan tentang perasaan hatinya yang mendalam terhadapku<br />
“Dalam pelukanmu semalam aku merasakan kasih sayangmu yang sangat tulus, pelukan seperti itu sudah lama tak kamu berikan dan kamu tau ian.. aku sudah sangat lama merindukan itu.<br />
Ian.. apakah hari-hari terakhir ini ada sesorang yang mencintaimu seperti aku mencintaimu?<br />
Sorry ya ian sudah hampir subuh aku sms kamu karna aku ga bisa tidur dari semalam, entah kenapa dengan mata, jiwa dan pikiranku<br />
Hanya 1, semua kebaikanmu dan semua yang ada padamu membuatku BAHAGIA DAN SEDIH, memang kamu tak akan mengerti ian&#8230;<br />
selamat tidur yah bermimpilah yang indah malam ini &#8216;diantara ian&#8217;<br />
“bahagia dan kecewa sudah menjadi bagian dari sisi kisah kita aku<br />
tak tau sisi yang mana yang sedang aku rasakan tapi sepertinya dua-duanya sedang aku rasakan, bagaimanapun aku pernah didustakan oleh perasaanku sendri.<br />
Ah ian aku jadi ingin sekali sakit gigi sekarang, hanya dalam 24 jam dari semalam jam 11 sampai sekarang 2 hal pertanyaanku yg belum ku tanyakan sudah kamu jawab dengan sangat jelas, tapi seperti yang pernah aku katakan bahwa aku sangat bahagia jika kamu bahagia walaupun mungkin bahagia yang sangat menyakitkan. Selamat siang ya&#8230; gimana disketmu ga ada masalah kan. Aku ingin ngeprint photonya.<br />
maaf ya ian.. ga ada apa-apa tadi aku coba ke cm berkali-kali, aku hanya memikirkanmu terus..<br />
“Pagi sayang.. Aku masih penasaran tentang kapan kamu mengucapkan cinta keaku apakah sebelum atau sesudah aku curahkan perhatian dan segala kebaikanku padamu tapi setidaknya kamu nyatakan cinta keaku setelah jauh kita sering bersama kan ? lis.. jika aku lamar kamu kira-kira dimana akad nikah pertama kali dimesjid atau digereja ?<br />
Tapi apa kamu mau kita menikah dan berumah tangga ?<br />
“benar ian, aku baru beranikan diri mengatakan cinta setelah aku lihat dan rasakan bahwa kamu menyayangi aku setelah 1 tahun lebih aku memendam rasa dan aku berani karna aku tak sanggup lagi menahan semua ini aku tahu dari catatan di diaryku.<br />
tentang pernikahan dan berumah tangga denganmu, aku sangat ingin, tapi aku pusing ian memikirkan semuanya. jika melli mengajakmu bertemu, bertemulah siapa tau ini hal yang baik bagimu..!<br />
tujuan hidup yang kedua adalah cinta<br />
kata orang cinta tak akan mati, dan kurasakan cintamu padaku suci orang yang pernah mencintai seperti itu akan mengerti.<br />
cinta akan pergi meninggalkan dunianya<br />
Tapi didunia manapun dia berada kelak kau akan bertemu dengannya, dan jawaban apa yang akan kau berikan padanya ?<br />
Apa kau tak ingin berbuat baik, agar kau terhormat dimatanya, agar dia dapat berkata “ kau mencintai sampai sejauh ini yang tak pernah dicintai orang lain, aku bangga padamu..ian !”<br />
kamu tau sayang..!<br />
apakah kamu lupa akan suatu hal bahwa aku pernah mengatakan padamu aku pernah melamarmu dua kali, dan dua kali itu pula kau tak memberikan jawaban apa-apa, kau hanya diam dengan deraian airmata yang mengalir dipipimu, dan jika kelak aku melamarmu untuk yang ketiga kalinya maka itu adalah keputusan yang terakhir untuk hubungan kita mau bersatu maka bersatulah, atau jika kau tak memberikan keputusan apa-apa maka berakhirlah hubungan kita cukup sampai disini.<br />
Dan hari ini sabtu 18 november 2006 kau mengatakan dengan sangat jelas dan gamblang bahwa kau menolak mentah-mentah lamaranku, ya.. lamaran untuk yang ketiga kalinya dan kau justru  menyerahkan aku pada cinta yang lain, maka inilah akhir dari kisah kita, akhir dari semua kisah dan kenangan yang terjalin,<br />
cinta ini telah membuktikan kekuatannya pada diri kita, dan benar apa katamu dulu<br />
bahwa cinta bukanlah apa-apa dalam kehidupan ini, hidup tak hanya sekedar untuk sesuatu yang bernama cinta.<br />
Cinta tak dapat membeli sebuah harga diri, rasa sayang tak dapat membeli sebuah kehormatan, rasa rindu tak dapat membeli kedudukan tinggi,<br />
Demi cintaku mungkin aku akan kehilangan cara hidup dan mungkin aku akan mendiamkan hidupku.<br />
maafkan aku jika aku harus pergi dari kehidupanmu karna kaulah yang meminta aku untuk pergi darimu.<br />
Selamat jalan.<br />
Semoga kau berbahagia.<br />
Semoga kau menemukan orang yang benar-benar kau cintai<br />
Semoga kau temukan kebahagiaanmu.</p>
<p>JAKARTA, 18 NOVEMBER 2006</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iancomp.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iancomp.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iancomp.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iancomp.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iancomp.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iancomp.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iancomp.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iancomp.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iancomp.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iancomp.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iancomp.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iancomp.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iancomp.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iancomp.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iancomp.wordpress.com&amp;blog=10893049&amp;post=3&amp;subd=iancomp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iancomp.wordpress.com/2009/12/10/cinta-tanpa-harapan-atau-harapan-tanpa-cinta-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-mencintai-dan-dicintai-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-mendapatkan-cinta-itu-sendiri-apakah-mudah-bagi-kita-untuk-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdcbc80b731afffa07eaaa0f83ff465d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iancomp</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
