jump to navigation

Untukmu Ibu 15 Desember 2009

Posted by iancomp in Uncategorized.
trackback

Hanya karna nila stitik rusak susu sebelanga !
Renyuh hati tatkala mendengar merah terbungkam pada satu jejak yang rengkah
Pecah berdentum memerah membuncah jelaga hati yang busuk
Sebusuk norma yang tak tersingkap
Parau sudah langkahku berjalan
Rupanya yang termaktub tak akan bisa bergulir
Kehampaan akan pertanyaan terjawab sudah
Gelimang darah nestapa mengalir merasuki relung sanubariku
Merangkak meniti jalan yang hanya tinggal setapak
Rupanya keharibaan diujung maut
Menampar sejarah yang tinggal nama
Aku tak ada
Aku tiada
Aku hanya sebuah nama usang yang tinggal kenangan
Seseorang yang meninggalkan jejak kearifan disudut lenguh
Seseorang yang meninggalkan jejak bijak diujung lidah
Patah sudah dahan ku bergantung
Tinggallah secercah menjarah kerongkonganku
Bumi tak lagi bersahaja
Tanah merah bukan lagi hal yang menakutkan
Serojaku helai demi helai lunglai
Meluluh lantakkan ragaku yang rapuh
Serapuh kebijakan seseorang yang bernama Ibu
Dimana kebijakan itu
Dimana kearifan itu
Dimana kelapangan dada itu
Dimana kesabaran itu
Dimana ketulusan itu
Dimana tempat kebahagiaan bersemayam didalam dada
Beritahu aku
Beritahu aku..
Hingga kini aku buta
Hingga kini aku tuli
Tiadalah mereka
Yang ada hanya berupa merah membakar murka
Sejumput yang tersisa bukan untukku
Tapi bekal bagi yang terpilih
Pantas saja..
Pantas..
Tiada jua pengabaran itu
Tiada lagi ketenangan itu
Sejak darah yang memerah melumuri jiwaku
Haram termaktub
Bagi jasadku yang kotor
Kian hitam melegam wajahku
Bagaikan arang
Tiada kasih sayang yang tercurah
Aku dan kekauanku
Telah menusuk tujuh igaku
Rengkah
Memapah langkahku yang tertatih
Aku tak tau
Satu kata, dua kata bahkan tiga kata
Telah meluluh lantakan dunia dan seisinya
Yang ditakdirkan adalah takdir
Tak akan mungkir
Nasib hanya petuah usang
Seusang klise masa silam
Saat kisah lama terpendam
Nasib hanya bisa diam
Firman hanya bisa diam
Tiada sebuahpun kalam
Yang mampu meredam kelam
Hanya malam dan suram
Yang tersisa merajam yang haram
Puputku berjibaku
Menghadirkan setitik butir airmata
Dibalik sakuku
Seuntai kamboja
Masih setia bersama
Kamboja yang tumbuh tak jauh dari sebuah gereja
Sayang ia tak tau makna kata bersama
Jika sampai mautku menjemput
ia tak jua mengerti
bara neraka menantiku
melumat habis jiwa ragaku
nafasku bukan hal yang istimewa
hanya selembar nyawa
yang membuat kecewa
mengapa jiwa yang harus merana
ironis..
sang penabur air harus menuai api
entah dimana titik itu
kutelusuri tiada jua ujungnya
entah dimana titik itu
kutelusuri tiada jua pangkalnya
haruskah semua berakhir
hanya karna aku tak tau..
maafkan aku..

Untukmu Ibu

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.