Syuruk 10 Desember 2009
Posted by iancomp in Uncategorized.trackback
Syuruk
Mautku sersa diujung kalbu yang menghampa dibatas cakrawala
Meradang mengusung keranda cinta yang hanya tinggal nama
Kekalutanku membiru dibatas garis nasib yang meragu
Kisahku hanya membalut aimata dan hawa nafsu
Jika masih ada satu gelintir mengapa masih saja kau mendengus
Jika masih tersisa sejumput mengapa kau terus merengek
Mendusta dibalik wajah yang kian merah oleh marah
Bukan tak mau menampik tapi kian menumpuk
Letak jalan tak tersusun rapi
Bagai kerah baju yang tak terurus
Petak demi petak kugapai
Kiranya bumiku tak bersahaja
Hitamnya membujur kaku diantara tulang leher
Mencampakan kenangan yang usang oleh waktu
Luluh melunglai menggapai lalai
Rasaku membiru diujung lenguh
Memburu rindu yang biru oleh malu
Rapat oleh keringat
Menyayat ruang yang tak bersekat
diam kian membatu
restu yang tak sampai
memapah jalanku yang terasa lunglai
hanyut dalam duka tak terkata
rusuh dalam dada yang luka
wahai yang terpidana
janganlah merana
duka yang ada jangan disiksa
tapi rasa yang memang harus ada
Jangan tidurkan harapanmu bersama bayang ilusiku
karna aku tak tersentuh
jangan tutup hatimu diatas harapanku
karna aku hanyalah warna jiwamu yang membayang diatas rasa hatimu
jangan satukan keinginanmu didalam keinginanku
karna langkahku tak tetap
jangan lagi kau titahkan darah cintamu disudut pasrahku
karna aku adalah puputmu
diambang gerbang, putih kata, tak terukur panjang jiwanya
sealur garis takdir mengukir jalur lurus ditiga iga yang patah
patutku tak lagi bersahaja
kini satu hariku hanya bernuansa diam.
Aku adalah sisi gelapmu
Jangan biarkan dirimu menyatu dengan diriku
aku adalah tubuh kasar bagimu
jangan jadikan aku sebagai wujudmu
karna aku adalah bentuk dan rupa yang akan sirna
jangan biarkn kehalusan jiwamu bersemayam dalam celah igaku yang rengkah
jangan jadikan aku cermin dirimu
karna aku akan merusak mata wujudmu
jangan biarkn dirimu tenggelam dalam imajiku
karna aku akan melenakanmu dalam buaian sisi gelapmu
diambang batas ketiadaan
dalam sepi aku menepi
dalam harap aku meratap
dalam doa aku menjura
telah aku bebaskan belenggu jiwaku yang telah menghitam legam
bagaikan seorang bocah berkulit hitam
kubebaskan bocah itu
dari belenggu yang terikat dilehernya
kusuruhnya menemui siapa saja yang telah memerintahnya
siapa saja yang telah bertekuk lutut dihadapannya
kusuruh untuk meminta tanggung jawabnya
atas apa yang telah dilakukannya terhadapnya
kusuruhnya pergi
untuk menghirup nafas kebebasannya
dia memberikan sebuah gulungan kertas usang
yang diambilnya dari sebuah makam
terlipat tak rapi
titipan untukku
dan lembaran-lembaran dalam lipatan itu
telah kubuka
lembaran usang
sebuah amanat
waktu hampir habis
tak ada waktu untuk bermain-main
akan aku pelajari ilmunya
dan sisanya kulimpahkan untuk beramal sholeh
bocah yang sama
kurenggut dari alam pikiranku
kusandarkan dibilik nafsuku yang kian menghitam
kubiarkan merajalela dalam sanubariku
menelusuri lekuk liku jiwa-jiwaku
tangis kepiluan
sejenak merendahkannya
selembar bulu mata berkata
“nak, disini bukan termpatmu,aku akan menjadi saksi bagimu !”
dengan seringai rendah,ia berkata
“selama jiwa ini ada dalam genggaman tanganku,tak akan kubiarkan
ia menguasaiku !”
“baiklah
kutunggu tangismu !”
Syurukku tak lagi menemani dalam pagi yang terasa hampa, begitu anyir dalam kesepian yang tak berteman pada dingin, dan sang fajar hanya termangu dalam senyum hambarnya, jangan sekali-kali kau bermain-main dengan kata hatimu sebab kau tak pernah tau kapan pintu langit akan terbuka, dan sedang terbuka.
Aku mulai bingung dengan jalan cerita yang sedang kujalani ini
Saat teduh Aku mengeluh Saat riuh Aku mengaduh Saat sepi aku menepi Saat tak disisi aku menyisi Mengais yang tak tersisa Menguik yang tak tertampik Patah memerah yang merah Bukan marah yang tertadah Tapi murah membelah hikmah
Tercurah pada dua kata yang terbanting dititik nadir
Selayaknya sang bayu yang menampar dikeramaian dinding alam memutar pada haluan yang tak lagi terkendali, padanan itu lepas sudah membuai istana malam dalam senyum yang terkulum, takdir menjunjung tinggi kuasa setitik makna kata yang terucap pada bibir pahit begitulah kesan yang tertinggal pada sejumput tanah yang merah merekah, hitam melegam tak pupus diterjang waktu yang terus memburu, aku yang terharu diam membisu tak lagi bersahaja dalam gelimang dosa masa lalu, terpasung dalam kehendak mata pualam yang begitu kejam, perlahan titik-titik mulai merambah didua pipi, sejurus menghantam dinding ari yang begitu rapuh ahh..rupanya bumi begitu merindukannya dan langitpun tak kuasa menahan tangisnya dan aku kelimpungan meniti hari esok antara ada dan tiada, antara dua yang harus terjalani bungkam mulutku, kelu lidahku dalam gejolak nafsu yang tak lagi bersetia pada diri dan jiwaku, aku yang begitu kentara, seakan membelah beribu-ribu bagian yang tercabik dalam satu kesatuan yang tercerai berai, nasib hanya mematung terus melangkah meninggalkan kisah yang usang seiring dentang waktu yang berlalu.
Aku katakan hal ini bukan berarti aku takut pada hal yang bernama hidup tapi aku takut pada hidupku yang kelak bukan yang sekarang, aku terbelenggu pada sebuah kalimat yang terucap begitu tulus dan jutaan saksi yang tak terpungkiri
“aku mencintainya karna aku mencintai-Mu”
Namun kini aku berani menentangnya, berani menantangnya !
Tongkatkupun sekan memaki dan terus membenci, mengutuk sebab dari sebuah keputusan akan satu pilihan yang kasep, deru debu hanya bisa tersenyum dan laskarpun hanya berdiri dibelakang garis meski berbaris-baris tapi tak menepis terjarah sudah bekalku satu persatu raib helai demi helai runtuh begitu banyak yang tak tertanggungkan, aku yang begitu halus mulai tampak kusam dan kasar tak lagi harum tapi amis pahit yang menebar, aku rasa ya..aku rasa jika taufik dan hidayah tercurah dan dua jalan menjadi satu nasib akan tersenyum kembali padaku.
Saat teduhku mulai merajuk kuhamparkan jalan itu dihadapannya kutabur dua jejak yang tak berbilang maknanya hingga ujung jariku menunjuk pada satu tempat yang tak pernah terbersit sebelumnya baik dalam hati maupun alam khayal manusia sejati dalam pengarungannya menuju bahtera sejahtera, kucungkil seujung jari kaki hanya untuk menyelamatkan diri dari kekhilafan dan mara bahaya, namun hanya sebatas syarat tak jua terpanggil nama itu dalam dunia yang parallel.
Batas itu bernama syuruk terjal alamnya hanya bernuansa teduh berpasir tiada angin tiada cuaca panas maupun dingin mentari hanya bersinar sebatas angan tiada malam yang datang, kandas dibatas waktu itu, tiada cinta yang dapat kukenal maupun yang dapat kukenang, semua hanya sebuah nama usang yang terbuang dalam dunia khayal, ah..pintu yang lama kunanti telah menampak dikejauhan dibatas jalan itu seutas tali menjuntai menuju pelimbahan terompahku terlepas tiada bekal dipundakku, sehelai kafan yang menghantarku pada tempat itu tak lebih dari selapis kain pembungkus raga, itupun sudah mulai usang dan kusam, sepasukan mulai datang silih berganti meninggalkan deru debu yang membekas ditapak jejaknya, hafal sudah ingatku akan siapa yang datang, sang utusan memberikan sebilah pedang begitu panjang dan tajam, dan berat pula namun entah kemana warangkanya aku tak tau, tujuh jalan dihadapanku membuai ingatku pada satu hal yang bernama cinta, masihkah..! disini semua itu tak berlaku, hanya pucuk kamboja yang terselip disakuku yang masih setia menemaniku menjadi teman seiring perjalananku, satu purnama mengingatkanku pada serentet peristiwa yang memakan welas asih yang tak terbilang nilainya, kupiahku masih melekat dikepalaku terselip disana satu pucuk surat bertuliskan tinta hitam pesan dari maha guru
” Jaga baik-baik tempat ini, jangan sampai kosong “
Sempat kulepas kupiahku hingga terlupa amanat itu, aku yang terlena dibuai saat-saat indah ahh..lupakan itu disini semua itu sudah kasep, kututup dan kutengadahkan wajahku kearah langit ah.sepertinya tak tembus..sejenak aku terbius dalam warna langit yang membiru.sebiru hatiku saat kehilangan jubahku.
Kuhantarkan putih itu menuju haribaannya dengan mata tertutup kuayunkan langkah lelahku sedikit haru biru menerpa bumi hatiku, perlahan kuturunkan dengan khidmat tujuh bola hitam sebagai penyangga agar tercium aroma asal kehidupan kulantunkan senandung pengantar dan tujuh lapis penutup kuhadangkan dan perlahan asal kembali keasal, kuhantarkan lantunan kata-kata suci sebagai akhir dari perjalanan lepas sudah tanggung jawabku, kulalui semua dengan penuh tanda Tanya besar yang terus menguak dan seakan tak ada habisnya dia mengalir memenuhi ruang hatiku !
Seketika kudengar ia berteriak memanggil namaku, aku tersentak bagaimana mungkin, dengan telanjang dada ia menghampiriku dengan linangan airmata aku takjub sejenak, ada apa gerangan aku bertanya-tanya ? sekejap itu pula ia menghilang sirna bak ditelan bumi, perlahan kukatupkan dua mataku yang mulai sayu oleh kantuk pagi itu tak menatap padaku, hanya mencibir tak rela, hembusan nafasnya mengunyah sejarah sebatas usia dijenjang lehernya yang terlihat patah, patah..bagaikan sebongkah arang yang tak kenal makna sayang, aku haturkan sejumput maut yang mulai merambah jasad namun perangai tak mampu membiaskan rona warna jiwanya yang kian kentara memayungi lentik bulu matanya.
Harum namanya menjadi buah bibir yang menebar aroma wewangian yang menghias liang telinga dalam kebanggaan, tak lagi menjadi panutan, mematri diam saat berjuta tanya dilayangkan sejenak aku kelimpungan apa yang harus aku jawab.
Pantang termaktub untuk menepisnya hingga jalan keridhoan terbuka untuk membalut luka hati yang tiada terperi.
Komentar»
No comments yet — be the first.