cinta tanpa harapan atau harapan tanpa cinta ? 10 Desember 2009
Posted by iancomp in Uncategorized.trackback
Cinta tanpa Harapan atau Harapan Tanpa Cinta.
Apakah mudah bagi kita untuk mencintai dan dicintai?!!!!!!!
Apakah mudah bagi kita untuk mendapatkan cinta itu sendiri???
Apakah mudah bagi kita untuk meraih cinta sejati????
Apakah mudah bagi kita untuk mempertahankan cinta yang kita dapatkan??
Apakah mudah bagi kita untuk menjaga cinta yang kita raih??????
Apakah cinta memang tak rasional??
Apakah cinta membentuk kepribadian seseorang atau kepribadian yang melahirkan cinta itu sendiri??
Apakah cinta sejalan dengan garis nasib atau nasib yang menggariskan jalan cinta??
Apakah cinta dapat disebut cinta jika harus dihadapkan pada keberadaan perhiasan Dunia??
Apakah cinta juga merupakan bagian dari perhiasan dunia??
Atau perhiasan dunia adalah bagian dari cinta itu?
Apakah cinta memiliki sifat, watak dan kepibadian?
Apakah kehadiran cinta dalam diri seseorang memang harus datang dan pergi?
Apakah cinta memang selalu identik dengan rasa bahagia dan kecewa, suka dan duka, dan tawa dan segala hal yang sifatnya berpadanan!
Apakah cinta pada dasarnya hadir dari sebuah bentuk dan nafsu atau sebaliknya???!!.
BENARKAH CINTA MEMILIKI JIWA
Mengagumkan bukan hanya dengan satu titik ternyata mampu memberikan nuansa warna yang begitu beragam entah apa maksud dari semua itu benar-benar diluar dugaanku kalau saja semua berarti dengan begitu indah tentunya aku akan menanamkan berjuta kebaikan didalamnya hari itu adalah hari yang begitu berarti bagiku namun demikian tiada yang dapat memastikan untuk hari esok lusa dan yang akan datang
Benarkah cinta adalah segalanya dalam hidup ini ?
Benarkah cinta mampu mengalahkan segalanya dalam hidup ini ?
Sebuah kisah tentang asmara
Itulah cinta..ketika datang mendera
Janganlah cinta menjadi sumber segala
Sebab akal dan perasaan memegang makna.
Dari seringnya berkomunikasi, seringnya bertemu seringnya bercanda seringnya bersama rupanya telah membuahkan benih cinta dihati kami berdua entah sadar atau tidak hal itu terus berlangsung tanpa sepengetahuan atasan kami, bahkan teman-teman kami. Namun tak satupun dari kami yang berusaha mengungkapkan rasa cinta itu kami saling memendam rasa, ya.. cinta telah bersemi dihati ian setelah kepergian yang terpendam. rasa itu telah tumbuh dan bersemi lagi laksana bunga yang mekar merekah nan indah namun sadarkah ia dengan apa yang dirasakannya ?
Setelah dua tahun bekerja ian memberanikan diri membeli sebuah sepeda motor selain untuk mempermudah ketempat pengajian pun untuk pulang pergi kerja dan tak pelak lagi gadis itupun selalu menemani perjalanan pulang dan pergi kerja.
Enam bulan kemudian saat bulan puasa kami jalan berdua disebuah mall yang tak begitu terkenal, waktu itu tak ada hal yang istimewa semua laksana hanya sebatas sahabat biasa, bercanda tawa bersama disana aku sempat memisahkan diri dengannnya dengan alasan mencari sesuatu yang tak lazim untuknya meski terlihat ada sedikit nada kekecewaan dalam aura wajahnya tapi semua berjalan apa adanya.
Hari berlalu, entah mengapa saat itu hadir rasa kekhawatiran padanya dan rindupun menggebu-gebu untuk bertemu, semua kutahankan karna hadir direlung jiwa itu tak mungkin, rasa ini harus kutepis bagaimanapun itu tak boleh.
Lebaranpun berlalu tak lupa kata mohon maaf lahir dan batinpun terucap lewat pesan singkatnya, meski bayang kerinduan begitu memberangus jiwa namun apalah daya ia nun jauh disana dan untuk sementara waktu ini aku mencoba menepis bayang dirinya begitu banyak kegiatan yang aku lakukan, meski perasaan ini tetap terpatri padanya.
Awal januari
Janji bertemu dengan sang buah hati
Tapi keadaan tak dapat memaksa diri
Sejenak sesal datang dibalik hati
Sebuah ironi datang menghampiri
Kesedihan merajuk dibalik senja
Saksi bisu hadir membelah sukma
Seribu prasangka hadir membuai jiwa
Ya dan tidak datang tak diterka
Alunan kata-kata yang mengusik kalbu
Satu kata “aku sangat rindu “
Begitu menyayat relung hatiku
Ingin kuhampiri dan bertemu
Tiadakah sesuatu yang dapat kujadikan
Sebagai penawar rindu
Aku bertanya pada keadaan !
Dulu kau yang mempertemukan
Kau juakah yang akan memisahkan
Burung kematian seakan menjawab pertanyaan
Selepas senja kuhampiri dengan sejuta kenangan
Pilu hati memberangus kesedihan
Tidak..bukan kesedihan tapi kebahagiaan
Bukan tak mampu membedakan
Antara kesedihan dan kebahagiaan
Karna satu permintaan
Telah terwujud begitu mengharukan
Bukan tak mampu membedakan
Sebab mata ini begitu menggoda perasaan
Percaya atau tidak jangan jadikan pertanyaan
Tidakkah selaksa kebersamaan adalah jawaban
Jangan tanya pada bukti cinta
Lihat apa yang ada pada sinar mata
Tidakkah aura cinta terpancar dari sana
Jika tidak kau berucap maka kau berdusta
Aku bertanya pada jejak-jejak perjalanan
Apa yang akan terucap dari bibir hari esok ?
Apa jawab dari masa depan dari apa yang telah terjadi terhadap diri seseorang ?
Kebijaksanaan macam apa yang akan diberikan ?
Akankah tirai kemurahan tersibak dengan luas ?
Apakah dua tangan, kesabaran dan keikhlasan dapat menggamit dua jiwa yang berbeda ?
Jalan mana yang harus ditempuh untuk menuju pada hakikat kebenaran ?
Apakah diam akan menjawab kerisauan dan kegelisahan hati ?
Apa kata sang hari dalam kerentangan siang dan malam ?
selepas itu kami mulai bercengkrama kembali menggeluti pekerjaan masing-masing seperti biasa pagi jalan berdua diatas roda dan pulang bersama kadang kala saat pulang kami mampir ketoko sekedar membeli sesuatu dan kadang kami makan bersama mencari makan malam bersama dan menghabiskan waktu bersama diberanda.
Setiap senja tiba aku duduk diberanda kost, kami bersenda gurau bersama bercerita tentang apa saja yang dapat membuat kami merasa bahagia,
Hanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu bersama
Dengan senyum dan tawa yang kian menggoda
Cerita pendek dengan tawa yang manja
Menghias hari-hari indah bersama
Menuai waktu kala senja telah tiba
Duduk kita berdua diberanda
Senyum manismu begitu menggoda jiwa
Dengan lembut dan manja kau bercerita
Gelak tawa menebarkan aroma asmara
Kebahagiaan saat bersama dengan mesra
Membuat kau selalu terlupa
Lapar dan dahaga sudah tak terasa
Keindahan saat bercerita melupakan segalanya
Ya..dunia seakan milik berdua
Meski kita tau kita berbeda
Semoga tiada dusta diantara kita
Semoga cinta menyatukan kita
Dalam singgasana kemegahannya
Ya.. aku merasakan getaran-getaran cinta hadir direlung jiwa namun bagaimanapun aku tak mungkin mengungkapkan rasa ini sebab aku tau itu tak mungkin terjalin diantara kami terlalu banyak perbedaan yang harus kami tepis.
Malam itu dia banyak bercerita tentang kekasihnya yang entah dimana tentang apa saja keluarganya, adik-adiknya, kisah tentang kehidupannya pahit manisnya telah dia ungkapkan semua, pengalamannya saat dia bekerja dilain tempat tentang kekasihnya saat dia masih kecil dan masih banyak lagi.
Malam itu dia mengirimkan sms yang sangat mengejutkan aku
“Taukah kau telah kukatakan pada dinding kamarku
sebagai saksi bisu
Telah kukatakan pada sang malam tentang tangisku
Telah kusampaikan pada angin tentang perasaanku padamu
BAHWA AKU MENCINTAIMU.”
Kata-katanya sangat menusuk hatiku ada perasaan bahagia namun ada sesuatu yang entah bagaimana tak dapat aku ungkapkan baik dengan kata-kata, warna tulisan maupun dalam sebuah bentuk, aku kebingungan untuk menjawabnya aku terus berfikir dan berfikir cinta macam apa ini, selama ini aku tak pernah berani menyentuhnya, apalagi memeluknya saat jalan bersamapun aku tak berani untuk merangkul tangannya. tiba-tiba dia nyatakan cinta dia yang kuanggap sebagai sebuah kemustahilan untuk dapat kurengkuh ternyata memberikan peluang bagiku untuk mendekatinya lebih jauh.
Malam itu aku tak menjawabnya, aku biarkan berlalu seperti tak pernah ada dan tak pernah terungkap kata-kata itu, hanya sebuah candaan layaknya senda gurau yang dilontarkan sehari-hari.
Keesokan harinya kuhampiri seperti biasa, terlihat jelas diroman muka ada warna bahagia terpancar diwajahnya, seperti ada beban yang terlepas dari pundaknya, aku tak tau yang jelas dia merasa malu bertemu denganku pagi itu.
Waktu terus berlalu tanpa jawaban apa-apa dariku, tak terasa seminggu telah lewat dan malam itu dia mengirimkan pesan singkatnya,
“Apakah angin tak menyampaikan padamu tentang apa yang aku ungkapakan padamu bahwa aku benar-benar mencintaimu ? aku menyayangimu ?”
Kembali aku dirundung bingung, dalam hatiku bergumam aku tak mungkin mendustakan diriku sendiri bahwa sebenarnya akupun mencintaimu, menyayangimu, namun apakah cinta kita kelak mampu menjadi nyata sebagaimana wajarnya sepasang muda-mudi dalam mencari pasangan hidupnya, bukankah aku pernah menyampaikan padamu bahwa aku mencari seseorang untuk kujadikan pendamping hidupku, sebagai istriku satu untuk selamanya sekali seumur hidupku, jika denganmu aku harus menjalin cinta bukankah hanya kesia-siaan belaka menghabiskan waktu tanpa tujuan cita-cita cinta yang pada akhirnya kelak kita harus berpisah meninggalkan jejak luka yang tertoreh didada ?
dalam kebingungan aku sempat mengungkapkan pada seseorang yang kuanggap seperti saudaraku sendiri, ya.. aku ceritakan semua dan dia memberikan saran untuk mencoba menjalin hubungan dengannya, pun dia juga tau tentang keadaan gadis itu.
Ya.. akhirnya aku menerima cintanya kukatakan padanya
Akupun mencintaimu.. menyayangimu.. akupun tak mungkin mendustakan hati dan diriku sendiri, bahwa aku mencintaimu.
Setelah ini kuanggap dia sebagai kekasihku, meski terkadang sikapnya tak menunjukan aku sebagai kekasihnya, entah mengapa aku tak tau !
Meski ia telah menyatakan cintanya kami tak ubahnya seperti sahabat dekat
Aku tak pernah berani untuk menyentuhnya, apalagi memeluknya saat jalan bersamapun aku tak berani untuk merangkul tangannya aku membatasi diri untuk hal yang satu itu.
Suatu hari ia ingin memeriksakan matanya yang terasa ada yang tak beres dirumah sakit aini kuningan dan kebetulan aku libur hari itu karna tidak ada orderan dan dia pun minta izin untuk cek up kerumah sakit akhirnya kami berdua pergi kesana padahal aku tidak memiliki sim c ya.. bersamanya kulalui tanpa rasa takut sedikitpun apapun rintangan yang ada dihadapanku aku sudah tak peduli bersamanya hidupku terasa lebih berarti karna aku merasa dibutuhkan dipedulikn dan diperhatikan.
Sepulangnya kami singgah ditempat kost kantor didaerah karet untuk men-cek pekerjaan penuggu wartel sebagai bagian dari tugasnya, selepas itu kami mampir untuk makan siang meski waktu itu sudah sore ya.. akhirnya kami makan bubur ayam sambil melepas lelah dan penat dari panasnya mentari yang membakar kulit kami, tak lama kami pulang kuantar dia dikost dan aku langsung pulang tak mampir karna akupun merasa lelah.
Ya.. hari itu selesai sudah meninggalkan jejak yang tak dapat kulupakan berdua bersama mencoba menyatukan satu prinsip dalam suka duka satu penanggungan, tapi apakah semua itu akan berlaku bagi kami ?
Kecantikan memang menyejukan dan menyenangkan hati
Namun sekaligus memberikan kesedihan yang tiada habis-habisnya
Sehelai rambut keindahannya yang jatuh dipangkuanku
Telah mengusutkan tali pikiranku
Warna-warna cinta yang begitu elok
Dalam sebuah lukisan-lukisan keindahan
Lantunan kata-kata yang begitu jelas
Terucap penuh dengan keyakinan
Begitu lirih terdengar diliang telinga
Namun menusuk relung jiwa
Luntur segalanya..
Luruh segalanya..
Dihempas butiran airmata
yang jatuh berderai membasahi pipi
seakan luluh lantak hati dan jiwaku
luruh pandanganku ditelan airmatanya
ia yang telah merenggut hati dan jiwaku dengan darah
dengan tipu daya laksana bulan sabit
ia tidak menghendaki keelokan diriku
setiap aku datang dengan sejuta rindu
ia selalu memberikan seribu alasan
aku diam dengan hubunganku ini.
Apa arti tangis bisumu !
Jujur kuberkata dalam sejuta Tanya..!
Ditengah selaksa tawa dan canda
Ranting dan dedaunan ikut berdansa
Angin bersorak gembira
senyum terkulum hadir dicelah bibir sang mentari
Ditengah kelamnya malam
Aku tenggelam dibawah temaram
Cahya bulan yang terasa suram
Langkahku terhenti
Dua jalan dihadapkan hati
Aku tak sanggup memilih
Mana yang akan kupilih
Meski darah terasa mendidih
Walau jiwa ini terasa perih
Menyayat relung kalbu yang pedih
Aku terasa kaku
Aku ragu dan malu
Aku tak tau ..
Dari sini aku kadang kebingungan menghadapi sikapnya padaku terkadang dia acuh padaku, terkadang tak mempedulikan kehadiranku dan yang lebih menyakitkan ketika dia meminta aku datang menemaninya sikapnya sangat mengecewakan aku seolah dia tak mepedulikan kehadiranku entah apa yang membuatnya berlaku seperti itu dan sering kali ironi demi ironi terlempar dari bibirnya yang membuat aku tertunduk malu yang membuat sejuta Tanya kembali merasuk jiwa.
Biarlah kan kupendam sejuta rasa
Yang menggelora bak ombak samudra
Akan kupendam seiring dengan buaian nada
Dengan canda dan tawa bocah-bocah jenaka
Akan kujadikan malam nan sepi
sebagai teman sejati
kan kubiarkan angin yang menerpa diri
sebagai penghalau rasa sepi dihati
kemana akan kubawa diri
gejolak amarah yang menjadi-jadi
aku merasa kehilangan jati diri
aku terhempas badai emosi
tak sanggup kurebahkan diri
ditengah kelembutan hati
jalan terjal akan kutiti
demi sebuah harga diri
apalah arti diri datang menghampiri
jika sapaan tak jua diberi
ingin rasanya aku segera berlari
melangkah jauh tanpa basa-basi
aku biarkan segalanya mengalun seperti angin mengalir seperti air dan aku tetap tabah apapun yang dia lakukan terhadapku apapun yang dia perbuat terhadapku aku terima dengan keikhlasan hati karna aku benar-benar mencintainya menyayanginya, dan tak terasa semua berlalu begitu saja meski didalam dada ini masih terpendam beribu pertanyaan
laju kita berdua diatas roda
menyusuri sepanjang sisi kota
hanyut dalam dekapan asmara
yang terasa hangat membuai jiwa
sesekali kau berceita
senyum dan tawa menghias
diantara ramainya kota
perlahan kulaju siroda dua
karna kutau kau terasa lelah
setelah sekian lama melangkah
jangan pernah kau katakan
cukup sudah..
sebab kau adalah..
sebab kau telah..
sebab kaulah..
Selepas semua yang telah terjadi dan berlalu seakan tak pernah terjadi apa-apa terhadap hubungan kami berdua semakin banyak problem yang kami hadapi dan mampu untuk kami lewati maka semakin bertambah pula cinta kasih sayang diantara kami berdua
Dua puluh November dua ribu tiga
mungkin sebuah kenangan yang tak akan terlupa
dipenghujung saat bulan puasa
seperti biasa kita melangkah berdua
melepas segala duka
sejenak kurasa begitu mesra
ketika kau genggam jemari lekat bersama
kau tersenyum ditengah keramaian kota
rasa bahagia menyeruak direlung jiwa
entah mengapa kau hadir membuai jiwa
dan tak lupa sebuah boneka
kuhadiahkan untukmu jua
tatkala saat berbuka tiba
sejenak kulepaskan rasa dahaga
berdua disebuah meja
ditengah keramaian orang berpesta
sejenak mengalun lagu asmara
menambah kemesraan kisah berdua
janganlah kiranya
kau padamkan bara asmara
tatkala hangat mulai membuai jiwa
lihatlah tatkala jalan
dihempas khayal sejuta impian
dirapuhkan dada langit
terkungkung diperut bumi
diri bersimbah peluh nestapa
wajah-wajah yang tak kenal nama
tergerakkan hati yang keras membaja
berharap langkah lemparkan senyuman
terbelenggu rembulan sinarkan mentari
bayang-bayang semu terasa kaku
diujung satu kata malu..
mengapa..mengapa !
setelah kau berikan jawaban Ya..!
jangan lagi kau bertanya
mengapa..!
sebab itu tak layak..
sebab itu tak pantas..
Senyum awal dari segalanya, percakapan dan pertemuan, senda gurau, langkah bersama telah menghapuskan segala perbedaan, benih-benih cinta dan sayang telah perlahan tumbuh dihati kami, buih-buih harapan mulai bersemi, tapi siapa yang tau jika kelak hanya berada dalam lingkaran buta dan semu.
Kisah yang sangat menakjubkan begitu manis dan indah tentang sebuah kebenaran dan kejujuran. saat pertama dia tersenyum ia memberikan arti dari hampanya dunia hati, memberikan pilihan bahwa tak ada lagi cinta, tak ada lagi waktu.
Sabtu pagi setelah dua tahun hubungan kami berjalan dia hendak pulang kerumahnya aku antar dia mencari bis untuk ditumpanginya sebelum itu kami mampir untuk sarapan pagi, bubur ayam ditempat kami biasa makan, sambil bercerita dia mengungkapkan perasaannya yang terdalam aku hanya tercengang mendengarnya
“Apakah kamu tidak tau atau tidak merasakan apa yang aku rasakan terhadapmu selama ini ? dua tahun aku memendam rasa ini ian, dua tahun aku kau biarkan tersiksa menanggung beban rasa ini, setiap kamu datang padaku aku begitu bahagia dengan kehadiranmu disisiku, dan setiap kamu melangkah pulang dari sisiku dan kau biarkan aku begitu saja rasanya seperti aku kehilangan kamu setiap sebelum kamu pulang kau sentuh pundakku aku merasakan kebahagiaan yang begitu dalam dan terkadang dengan tanganmu kau sentuh tanganku aku benar-benar merasa bahagia, dan mengapa selama dua tahun ini kamu tidak pernah memberikan aku sebuah pelukan, dua tahun aku memendam rindu yang teramat sangat padamu ian, selama itu pula entah berapa banyak airmata yang mengalir membasahi pipiku apakah kamu tidak menyadari hal itu atau kah kamu memang tak mencintaiku dan tak menyayangiku ?”
Saat itu aku tak menyangka dia akan mengatakan hal itu padaku dan saat itu rasanya jika saja tidak ditempat umum airmataku akan jatuh dan akan kupeluk dia saat itu juga, namun aku biarkan segalanya aku berikan dia sapu tanganku untuk menyeka airmatanya aku tak berani menyentuhnya dan aku tak menjawab apa-apa hanya diam bibirku tak mampu bicara lidahku terasa kelu dalam dadaku ada getaran hebat sedahsyat gelombang samudra yang menghempas batu karang aku tahan semua rasa ini aku tepis semua rasa itu sementara ia masih terisak menangis aku coba alihkan perhatian dan pembicaraan, darisini aku benar-benar tak mengerti apa makna cinta itu sebenarnya ?
Ya.. dia menangis untuk sebuah pelukan karna rindu, cinta dan sayang benarkah ?
Benarkah sebuah pelukan adalah bukti cinta itu ?
Benarkah sebuah pelukan adalah tanda cinta dan sayang
Dari sinilah awal yang membuat aku terhempas pada dirinya yang membuat cinta itu menjadi ternoda yang membuat cintaku padanya tak lagi suci, yang membuat semua berubah bukan lagi cinta sejati dan bukan lagi rasa sayang yang tertuang.
Aku biarkan kenyataan ini berlalu, sejenak aku lupakan keinginannya dan kuaanggap semua adalah sesuatu yang tak penting untuk dibahas, suatu ketika ia kembali kekost, dan secara kebetulan handphoneku sedang rusak dan aku memberi tau dia agar bila membutuhkan aku hubungi saudaraku, sore itu entah mengapa aku begitu rindu padanya rasa yang kian menggebu yang mengatakan berkali-kali bahwa dia membutuhkan aku tapi kabar dari saudaraku tak kunjung datang, maka aku nekat menghampirinya malam itu, dan anehnya dia telah menunggu aku sejenak setelah dia mengirimkan kabar agar aku datang untuknya namun saudaraku menjawab bahwa aku tidak ada hingga dia terheran-heran seakan ada satu kekuatan batin diantara kami untuk mempertemukan kami malam itu, dia bercerita tentang kekasihnya sewaktu dia kecil dan kemarin waktu dia pulang dia mendapat kabar bahwa kekasihnya yang dulu ingin menjenguknya dan dia juga mengatakan jika dia benar-benar datang kejakarta akan dipeluknya erat-erat, aku terhenyak mendengarnya dan aku tak dapat berbuat apa-apa karna memang kami berbeda dan diantara kami harus merelakan kepergian satu sama lain jika memang takdir memisahkan kami berdua untuk satu kebaikan, dan aku rela demi kebahagiaannya, inilah pertama kali aku merasakan gejolak dalam dadaku yang begitu dahsyat ingin marah tapi entah mengapa aku tak bisa, emosi menjadi-jadi tapi untuk apa, aku tertunduk diam,.. diam membisu seribu bahasa begitupun dengan dia tanpa kusadari dia menyandarkan kepalanya dibahuku isak tangispun menggema diliang telingaku kuseka airmata yang berleleh ditepi matanya, sudahlah jika kau masih mencintainya hampirilah dia, raihlah cita-citamu demi kebahagiaanmu, aku rela.
Perlahan aku berdiri dan kupeluk ia erat dan semakin erat kurasakan getar darahku mengalir deras, detak jantungku semakin kencang bergema nafasku tak beraturan kucoba menahan semua rasa, tak kusangka dia merapatkan bibirnya padaku ya. kami bercumbu perlahan tapi pasti, tak lama kulepaskan dan kukatakan maaf.. dan langsung aku hendak pamit untuk pulang kukenakan kacamataku, kututup mulutku dengan sapu tangan kuhampiri motorku hendak berlalu, namun dia menghampiriku dan memeluk tubuhku kembali serta merta menarik sapu tangan penutup mulutku untuk kedua kalinya kami bercumbu, ya.. malam itu hanya rembulan dan sang malam yang menjadi saksi bisu atas apa yang telah kami lakukan, setelah puas dia berkata “maafkan aku sayang dan tolong jangan anggap aku adalah perempuan murahan aku lakukan semua ini atas dasar rasa cintaku padamu, rasa sayangku padamu !”kukatakan padanya “tidak sayang aku tak akan menganggapmu demikian aku mau karna akupun mencintai dan menyayangimu dengan setulus hatiku, percayalah “!
Kutinggalkan ia dengan senyum penuh kepuasan, kerinduan yang terpendam selama dua tahun seakan telah terbayar, terpancar jelas diaura wajahnya senyum kepuasan itu senyum yang tak lagi terkulum, bahagia sejenak memberangus jiwa.
Dihening malam ini
Resah rintik gerimis datang
Menghanyutkan sinar rembulan
Buram kaca jendela
Seburam waktu yang berlalu
Sedang aku masih menunggu
Ungkapan rasa dari keinginan baikku
Untuk bersama menempuh hidup baru
Tak usah kau ingat
Bayangan gelap kernyataan diri
Tanpa sutradara..relakan..
Lihatlah tangan menghapus noda-noda kehidupan
Dirimu dihadapanku tetaplah utuh
Demi keinginan baikku
Untuk bersama menempuh jalan hidup
Kuingin selalu berada didekatmu
Sepanjang hidupku membawamu..
Kepuncak bahagia..
Nikmati mentari
Mendekapmu dibawah cahya rembulan.
Dia telah mengisi hatiku penuh dengan cinta
Dia membuat seluruh hidupku menjadi lebih baik
Dia telah mengisi jiwaku dengan segala hal yang indah
Dia telah memenuhi ruang pikiranku dengan bayang dirinya penuh khayalan liar
Kemanapun aku pergi bayang dirinya selalu bersamaku
Siapakah yang ingin kesepian..!
Keesokan harinya sebut saja namanya anton kekasih semasa kecilnya akan datang namun dia tak tau tempat kost ini dan akhirnya janji bertemu disuatu tempat apa yang terjadi sungguh diluar dugaannya rupanya anton telah berubah dalam pandangan matanya tak seperti apa yang ada dalam harapannya dalam benaknya, entah apa sebabnya aku juga tak mengerti
“seharusnya aku seneng lihat abang datang tapi ini aku tak tau, selama ini abang tak pernah memberi kabar ke aku jadi, ah.. aku tak tau ?
“kenapa lis..? apa ada yang berubah dari diriku, kenapa lis ?
dan hari itu berlalu sampai mereka tak jadi datang ketempat itu dan mereka kembali tapi dalam hatinya ia merasa tak enak hati karna kedatangan anton disertai pamannya yang sudah cukup umur, karna perasaan inilah akhirnya ia menyusul kedaerah yang terbilang rawan, ya.. tanjung priok ia rela mengambil resiko itu untuk memohon maaf atas sikapnya yang kurang sopan, dan masih sama seakan anton menjadi seseorang yang tak baik dalam pandangannya, selepas itu ia kembali pulang, senja itu ia meminta aku untuk datang dan ia menceritakan semua kejadian hari itu dengan nada kecewa dan selalu airmata mengalir disudut pipinya setelah ia berkisah, dan kembali kubiarkan ia memeluk tubuhku dengan erat dan kubiarkan ia menangis didadaku, dalam pelukanku.
“Taukah kau apa yang kurasakan pada saat kau pergi menghampirinya ? aku serasa akan kehilanganmu, kehilangan cintaku ? kamu tau rasanya ? sesak nafasku, sesak dadaku untuk mencoba menerima kenyataan ini duniaku seakan hampa tanpa dirimu !
Semoga hari esok kita masih dapat bersama lagi seperti hari-hari yang telah lalu dan biarkan apa yang terjadi hari ini sebagai pelajaran berharga untukmu, camkan itu..!”
Rasa kecewa dalam dadaku masih membiru, terbayang jelas akan kata-katanya dia mencintaiku, menyayangiku tapi mengapa masih membuka hati pada kekasihnya yang dulu, sungguh aku tak mengerti apa makna cinta itu baginya !
Semakin lama kisah cintaku dengannya
Seperti memasuki sebuah dunia baru
Perasaan yang masih menjadi sebuah misteri
Yang tak terungkapkan
Apa yang dapat ia berikan
Hanya pelukan dan ciuman
Ya..hanya itu..hanya itu..
Namun makna hanya itulah
Yang membuat aku
Tersiksa lahir dan batin
Siang dan malam tiada henti
Kerinduan ini semakin dalam padanya
Sungguh aku tak dapat menghindrinya
Setiap saat bayang wajahnya hadir dipelupuk mata
Kata-katanya nan lembut selalu mendesah
Diliang telingaku
Ingin rasanya kututup kedua mata
Ingin rasanya kututup kedua telinga
Bagaimanapun telah kulakukan
Tetap tak terelakan
Jika hanya itu cintakah ia..
Sayangkah ia..sungguh tiada terkata
Kebimbangan dalam jiwa
Siapakah aku baginya
Siapakah aku dihadapannya
Jawablah dengan kata-kata
Yang berasal dari lubuk sukma
Meskipun sesak terasa ungkapkanlah..
Agar tenang jiwaku..
Agar tentram hatiku..
Hasrat tak terjerat semakin dalam terpendam
Lantunan lagu asmara begitu indah terdengar
Meluruhkan hati dan jiwa dalam bayang kerinduan
Begitu menyejukan relung kalbu
Setiap saat bayang wajahnya
Memenuhi ruang pikiranku
Hati dan jiwaku terjerat dalam pelukannya
Aku tak dapat lari dari lingkaran cintanya
Semakin lama semakin terbiasa
Tiada lagi jengah menghalau jiwa
Walau tiada kenikmatan kurasa
Bahagiaku ada bersamanya
Ingin kuteriak namun lelah kurasa
menghimpit jiwa,andai airmata
jatuh diantara relung jiwa sebab..
cinta datang begitu merajuk sukma
entah kemana hendak kuhempaskan
badai asmara yang kian bergolak
kata–kata dan tulisan
tak mampu mengungkap rasa
ingin kupergi dan berlari
jauh meninggalkan sebuah tirani
tanpa sapaan dan basa-basi
tubuh ini seakan tak mampu lagi bediri
aku terjerat dalam perangkap cinta
sungguh aku tak dapat menutup mata
langkahku tertatih dan melata
tak dapat lagi kuungkapkan
sebuah makna dalam kata-kata
yang ada aku ingin selalu berada didekatnya
disisinya mendekapnya,memeluknya
dalam kehangatan yang tak terukur
kedalamannya dalam dadaku.
15 agustus 2004
Salam sayang selalu..
Jika kau katakan
“kalau aku ada didekatmu, bolehkah aku bukan hakmu ?”
jawabku
“kapankah aku pernah menuntut banyak hal darimu !”
jika kau katakan
“kalau aku ada disisimu, salahkah aku harus tetap jadi diriku ?”
jawabku
“kapankah aku pernah memaksakan kehendakku padamu !”
soal milik dan kepemilikan kau hanya mengajukan kalimat retorik
ia tak dapat diakui keabsahannya jika tidak terikat oleh tali pernikahan
ia tak dapat terejawantahkan dalam bentuk apapun sebelum akad disahkan
tidakkah aku telah memberikan banyak kebebasan padamu !
renungkanlah.”
Inilah tahun ketiga aku menjalani kisah ini semua seperti berjalan diatas roda yang berputar, kami semakin terlena dengan cumbu rayu mencoba mencari titik kenikmatan semu walau kami masih bisa menjaga keutuhan kehormatan kami entahlah kami selalu diburu rasa penasaran akan rasa itu tapi bagaimanapun kami coba tetap tak terengkuh entah bagaimana dengan dia aku tak tau, puaskah dia dengan apa yang kami lakukan aku tak tau, namun disela kebahagiaan yang kami rengkuh tetap saja kesedihan hadir diantara relung jiwa kami sebab kami tak akan pernah bisa untuk saling memiliki entah bagaimana dengan cinta ini, dengan rasa sayang ini ?
Salahkah aku jika telah mencintainya ?
Salahkah aku jika telah menyayanginya ?
Inilah satu diantara beribu hal yang tak dapat kami jawab, dalam hal ini aku mencoba mencari jawabnya berbagai sumber kucoba mencari dan menelaahnya dalam dalam tapi taukah anda apa yang kudapat ?
Dari sini aku mencoba mencari dasar-dasar hukum untuk kisah cinta ini dapatkah dilanjutkan atau dihentikan adakah kebaikan didalamnya seandainya kami bersatu, dari berbagai sumber buku kucoba memahami dan kucoba bertanya pada orang-orang yang memiliki pengalaman yang cukup akan arti kehidupan ini bahkan ustad dan kyai pun tak luput dari incaranku, apa kata mereka ?
Sebuah buku JALAN CINTA SANG SUFI Jalaludin rumi banyak mengungkapkan tentang cinta beberapa kutipan dari buku itu diantaranya..
Ya..Tuhan tunjukanlah pada kami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya yang tersembunyi..
keesaan berada disisi lain dari segala gambaran dan keadaan
tiada kemenduaan memasuki arena permainan kata-kata
makna dalam bait hanya sembarang
karna puisi bagai kain gendongan
tak sepenuhnya dapat dipegang.
Jika kau kehilangan hati dalam jalan cinta
Datanglah padaku secepatnya
Akulah benteng tak terkalahkan
Akulah sayap-sayap kerinduan
Akulah istana para pecinta
Cinta..
Memang bukan untuk dibicarakan tapi untuk dirasakan
Tiada salahnya aku berbicara tentang cinta
Walaupun rasa malu melingkupiku
Ketika aku sampai pada cinta itu sendiri
Ia tak terjangkau oleh kata-kata dan pendengaran
Inti cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan
Ia memiliki begitu banyak tamsilan
Yang berada diseberang kata-kata
Cinta dan percintaan hanya dapat diterangkan melalui cinta
Manakala kau menjadi seperti aku, kau akan tau
Ketika Dia memanggilmu
Kau akan membaca kisahnya
Jika cinta adalah dahaga yang sempurna
Biarkan aku berbicara tentang air kehidupan
Dunia bagaikan sebuah cermin
Yang memantulkan kesempurnaan cinta
Hingga engkau memahami kedahsyatan cinta
Tataplah..cinta..
Dia yang tak memiliki warna cinta
Tiada lain adalah kayu dan batu
Setiap dada tanpa kekasih
Adalah tubuh tanpa kepala
Insan yang jauh dari perangkap cinta
Adalah burung tanpa sayap
Jika cinta dalam diri seseorang tidak menggetarkannya
Ia tiada bedanya dengan keledai
Jika kau bukan pecinta
Jangan pandang hidupmu adalah hidup
Kehidupan tanpa cinta tiada artinya
Ia adalah air kehidupan
Reguklah ia dengan hati dan jiwa
Terbanglah kearah cinta
Dengan sayap-sayap cinta
Seorang pecinta tidak menangis karna keadaannya yang menyedihkan
Tidak juga menggosok matanya karna sakit hatinya
Dia tidak menginginkan hari keberuntungan
Tidak juga mencari malam yang menyenangkan
Hatinya tertutup antara siang dan malam
Bagai fajar..
Malam adalah sahabat para pecinta
Saksi bagi keluh kesah dan airmatanya
Dalam tangis ia bagai salju
Dalam tegak bagai gunung-gunung
Dalam sujud bagai air
Dalam kerendahan hati seperti debu jalanan
Mungkinkah manusia akal mengetahui sakitnya hati karna kekasih..?
Kebijaksanaan Tuhan dalam titahnya
Telah menjadikan kita sebagai para pecinta
Satu dengan yang lainnya
Takdir telah menetapkan segalanya berpasang-pasangan
Menempatkan mereka didalam cinta
Dengan pasangan masing-masing
Dia berbicara manis dan mengalirkan kata-kata
Pada bunga dan menjadikannya tertawa
Dia menjadikannya sudut lembut pada kabut
Dan membasahi matanya
Mungkinkah tangan dan kaki bergerak tanpa hasrat ?
Mungkinkah ranting dan dedaunan bergerak tanpa angin ?
Jika demikian apa yang kau tau tentang cintanya pada bunga !
Bagi mata yang terang
Cinta adalah keajaiban cahaya abadi
Meski dalam wujud kasar ia adalah bentuk dan nafsu
Jangan kau pilih kawan yang jahat diantara yang tidak jahat
Karna kedekatan dengannya tiada lain
Kecuali sesuatu yang terpinjam
Sungguh tiada pecinta meraih persatuan
Tanpa kekasih yang mencarinya
Manakala kau mengharapkan seorang pecinta
Ketahuilah bahwa dia juga yang dicintai
Hati seorang pecinta lebih besar dari singgasana Tuhan
Kebesaran cinta diukur melalui apa yang dicintai
Setiap pecinta bergantung pada keutamaan yang dicintai
Ketika yang dicintai lebih lembut
Maka sang pecinta lebih agung
Manakala cahaya cinta
Mencintai tubuh didalam hati ini
Ketahuilah bahwa tiada cinta didalam hati itu.
Mungkinkah pengetahuan yang tak sempurna melahirkan cinta ini ?
Oh..pecinta lihatlah dengan seksama siapakah kekasihmu ?
Jika cinta adalah seorang sahabat
Maka dimanakah tanda persahabatannya
Segalanya tiada lain adalah
Wajah sahabat yang telah sirna dalam penglihatannya
Jika aku menerangkan tentang cinta
Tujuh purnama belumlah purna
Dikau yang mempesona
Membakar jiwa-jiwa seribu pecinta
Kau benar-benar segar,mempesona dan menawan
Bagai akal dalam pikiranku
Bagai anting-anting ditelingaku
Ketika aku masuki kebun kaulah bakung
Ketika aku menyelam kedalam lautan kaulah mutiara
Ketika aku mendaki langit kaulah bintang
Dalam tidurku kaulah mimpi
Ketika terbangun kaulah kesadaran baruku
Mengapa aku harus meratap bagai malam tanpa siangnya
Karna aku tidak berada dalam kemenyatuan
Dengan wajahmu yang menyinari hatiku
Pahitnya adalah manis bagi jiwaku
Kukorbankan hidupku demi kawan
Yang memberiku derita jiwa
Gulungan hatiku meluaskan keabadian tanpa akhir
Perpisahan dan ketelepasan dengannya begitu berat kurasa
Terutama setelah berada dalam pelukanmu
Pikirkanlah apakah lukisan
Tak akan berpisah dari sang pelukis ?
Keindahan wajah-wajah bunga yang menjadikan hati
Yang membara bagai bunga-bunga
Itulah sumber segala godaan
Yang berasal dari dagu dan pipi para pecinta yang menyala
Pikiran yang benar selalu membuka jalan
Dan jalan yang benar berada dalam kemesraan-kemesraan
Bersama seorang kekasih
Seperti sebuah taman
Gambaran wajah dikau yang datang
Dan membawakan cerita-cerita
Tentang bibir dikau yang manis bagai gula
Demi mempelajari gambaran wajah dikau
Aku harus menjadi tidak lebih dari sekadar sebuah tulisan
Oh..kau yang memiliki wajah bagai bunga
Dan rambut yang tergerai
Hatiku bahagia manakala
Aku berada dalam kepedihan karnamu
Jangan kau lihat kepedihan cinta adalah kepedihan !
Ketika kau tuangkan kepedihan padaku
Aku malu pada kelembutanmu
Karna telah bertahun-tahun hatimu membatu
Cobalah sekali waktu menjadi debu
Jadilah debu hingga kau tumbuh
Bagai bunga yang beraneka ragam
Apa arti musim gugur ini ? nafas keangkuhanmu !
Apa arti musim semi ini ? nafas pengakuanmu !
Ketika gambaran nafas dikau yang yang manis
Berhembus dari hati
Nyala membakar cakrawala dengan api cinta
Segala yang dicintai menguap dari hadapan kita
Bagai imajinasi dan menempatkan
Gambaran kekasih kita dihadapan mata
Gambaranmu senantiasa berada didepan mataku
Mimpi yang menakjubkan
Yang kulihat disaat aku terjaga
Aku telah melihat keindahanku dalam keindahanmu
Aku semayamkan gambaran keindahan dikau dalam dadaku
Jika engkau cintaku
Haruskah memiliki bentuk dan lukisan
Meski cinta mengatasi segala bentuk tapi
Ia menempatkan diri dalam keindahan dirimu
Mengapa aku terus saja berbicara tentang persatuan denganmu
Bagaimana aku akan melukiskan keindahanmu !
Setiap waktu kau beri aku beberapa alasan
Kau begitu cemburu dan sulit menerima sesuatu
Datanglah..!
Karna engkaulah yang telah memberikan keindahan dan kemegahan
Tapi jika seorang pecinta dalam kerinduannya
Menganggap sebuah bentuk berasal dari engkau
Samudra tak terjangkau
Suatu ketika engkau membakar tabir-tabir
Dilain waktu engkau tetap menyembunyikannya
Pernyataan mempunyai sebuah mata
Tapi kepentingan diri mengatasinya
Kepentingan diri adalah tabir bagi mata hati
Jika kau ingin melihat kawan sejatimu
Dalam bayang-bayangnya
Senantiasa tundukan hatimu..
Tidak adakah seseorang yang menerima perbendaharaan
Dari cahaya cinta
Sehingga penglihatannya mampu menjangkau ujung terjauh
Lalu..
Kau akan tau
Bahwa..
Kawan yang baik dan setia
Hanya berasal dari karunia-Nya
Jika aku telah melukai hatimu,maka jangan kau balut ia..
Jika aku telah merobek jubahmu,jangan kau tambal ia..
Manakala kabut cintamu menurunkan hujan
Mutiara yang tiada taranya
Seribu bentuk yang indah akan tumbuh dari hati
Bagaimanapun juga aku sedang menggambarkan kemurahan Tuhan
Oh..rembulanku cahaya lilinku
Sejak pertama kali aku melihatmu
Dimanapun aku duduk adalah kesenangan bagiku
Kemanapun aku pergi selalu berada diantara bunga-bunga
Ketika pipi matahari menjauh dari wajah bumi
Malam membentangkan kain hitam perpisahan
Ketika aku jauh darimu
Kuajari bumi agar menjadi gelap dan suram
Ketika aku melihatmu
Walau sesaat aku terangi langit biru
Oh..wajahmu bagai rembulan
Biarkan waktu demi waktu aku meratap selalu
Karna cintamu yang begitu mengesankan
Telah menjadi tabir bagiku
Jika bukan karna cinta pada wajah dikau
Untuk apa aku harus berkisaran
Bagai langit yang dicari rembulan
Betapa menakjubkan kelembutan
Yang berasal dari api kekasih tanpa ikatan
Manakala cinta berkuasa dan menunjukan kemarahannya
Ia akan menjadikan segala yang indah buruk bagi mata
Melalui cahya keagungan-Nya engkaulah rembulan
Melalui kelembutan-Nya engkaulah taman
Jangan bosan bersamaku karna aku benar-benar saksi yang indah
Jika kau adalah rembulan persatuan
Tunjukan padaku tanda-tanda persatuanmu
Jika kau ingin bebas dari perut dan bibir segala yang tak matang
Jadilah sepenuhnya mutiara Tapi pahit dipermukaan bagai samudra
Kapan cinta pernah menyia-nyiakan ketabahan seseorang..?
Kau dilahirkan dari kilauan kemegahan Tuhan
Dan meraih warisan kebaikan dari bintang kegemilangan
Oh..kawan jika kau seorang pecinta
Jadilah seperti lilin larut sepanjang malam
Membara dalam kesenangan hingga pagi menjelang
Dia yang bagai cuaca beku dimusim panas
Bukanlah seorang pecinta
Ditengah musim panas
Hati seorang pecinta membakar musim gugur
Wahai kawan jika kau memendam cinta yang ingin kau nyatakan
Maka ..
Teriaklah..Teriaklah
Seperti seorang pecinta tapi
Jika kau terbelenggu oleh nafsu
Jangan menyatakan sesuatu pada cinta
Bagaimana mungkin seorang pecinta menyatu dengan nafsu
Lihatlah aku,jika lau melirik pada yang lain
Kau tak akan sadar akan cinta sejati
Jangan bingung oleh kekerasanku
Dan jangan diam
Meski aku sungguh keras tapi
Seribu kelembutan tersimpan didalamnya.
Oh..Tuhan jangan kau curi hati kami dari kami
Kami bukanlah pencuri
Kami adalah orang-orang kepercayaan
Lihatlah kata-kata kami
Harum seperti wangi bunga-bunga
Kami adalah rumpun bunga
Dari taman kesejatian
Kami tiada lain adalah hamba cinta
Oh..cinta jika kau mencari kami
Datanglah pada kubah biru
Istana kami adalah sebuah benteng
Yang memberi kami keamanan dari keamanan
Meski mata akal memandangku seperti orang gila
Aku memiliki banyak keindahan didalam lingkaran para pecinta
Ditanah datar ini
Aku adalah burung-burung YANG MAHA PENGASIH
Jangan kau coba temukan garis dan batasku
Aku tanpa batas..
Katakan tentang dirimu
Mutiara-mutiara makna yang aku rentangkan
Diatas kalung pembicaraan
Berasal dari lautanmu.
Ketika aku memasuki ruang hatiku
Aku bertanya pada sebuah taman
“oh taman yang mengagumkan !
taman apakah dikau ?”
ia menjawab
“yang tidak pernah takut pada
musim dingin maupun musim gugur !”
lihatlah darah dalam bait-baitku bukan puisi
karna mata dan hatiku
sdang menuangkan darah cintamu
ketika darah bercampur kuserahkan warna puisi
sehingga warna pakaianku
tak berwarna darah dan bukan darah berwarna
aku berbicara persatuan denganmu
kelembutanmu berkata Ya..
jangan lagi kau bertanya “ Mengapa “
sebab itu tak layak
jika bentuk adalah bentuk itu sendiri
maka bertanyalah “ Mengapa “
aku tidak mengucapkan kata-kata ini
cintalah yang bicara,
dalam hal ini aku adalah salah satu
dari sekian manusia yang tak tau apapun
biar kusingkirkan persoalan-persoalan
dan mulai menyesali
sepuluh kekejaman hati keindahan
generasi-generasi datang silih berganti, air telah berubah wajah sedang bulan tetap perawan, air dalam gelombang digantikan oleh waktu, namun pantulan rembulan dan bintang-bintang tetap seperti dulu.. setiap cahaya memiliki api, setiap bunga mengandung duri, Engkaulah bunga tanpa duri,Engkaulah cahaya tanpa api..
wahai kawan.. tataplah kerendahan bentangan bumi dan langit yang menjulang tinggi, tanpa kerendahan dan ketinggian, langit tak akan berkisaran, ia adalah bentuk lain dari waktu, sebagian siang sebagian malam, kadang baik suatu ketika derita.
Karna dunia ini bagaikan sebuah mimpi, menutupi segala sesuatu seperti kabut yang menutupi bintang-bintang,ia tak pernah berusaha menyucikan hati dan merenungkan segala yang telah terjadi, dan menatap melalui celah misteri, melihat awal dan akhir dengan mata terbuka.
Apakah yang lebih manis dari pada mengingat kawan sejati ?
Ketika aku sebut namamu kebaikan menjelma,
Tanpa kemenduaan tanpa kesangsian.
Dia yang hanya memerankan cinta, tidak menuntut apapun !
Oh..angin sampaikan salamku padanya hatiku begitu rindu padanya !
Taukah kau, bahwa menggelorakan salam akan merenggut para pecinta dari yang tercinta, cinta menjadikan roda langit berputar, cinta menjadikan bulan bergerak.
Oh..kawan sejati menjadi seorang pecinta harus menelan dukanya..
Dimanakah dukamu..!
Diam dan kesabaran memerlukan kedewasaan !
dimanakah kedewasaan !
Dapatkah seseorang yang setengah hati meraih gairah cinta !
Apalagi jika ia beku !
Wajah-wajah bunga muncul dari taman,jika tiada taman darimana bunga-bunga !
Tataplah wajah cinta agar kau mampu meraih sifat insan !
Dia yang memiliki keangkuhan menyebabkan hatiku bergetar
Apa yang akan terjadi padaku ketika dia datang padaku dengan cucuran airmata !
Dia yang telah mengisi hati dan jiwaku dengan darah, akan seperti apakah dia manakala datang padaku dengan hajat !
Sehingga jika kekerasan-kekerasan datang padamu dan engkau harus menawar takdir !
jika demikian apakah cinta kepada teman tinggal merana !
jika aku mengatakan kata-kata pahit padamu,itu hanya untuk menghilangkan segala kepahitan.
Suatu ketika hatimu penuh dengan darah, karna pahitnya derita, engkau akan keluar dari segala yang pahit !
seluruh dunia adalah hati yang menawan, tapi begitu mahal bagiku dalam kesenangan bahwa hanya sekali aku ingin menjadi hati yang menawan.
Kini aku akan memberi tau padamu tanpa kata-kata dan dengan misteri-misteri masa lalu yang senantiasa baru,dengarkan..!
Engkau letakkan jemari dibibirmu “ diam “
Aku pasrah, tapi apa yang kau limpahkan padaku akan bicara..!
Sampai kapan kau akan berjalan menuju tepi samudra dalam ketakutan !
Reguklah air cintamu.dan minumlah dengan bahagia, tidurlah dengan nyenyak dengan kelembutan abadi !
Oh,,hati dimanakh kelembutan hari manakala engkau limpahkan cahaya matahari dan menjadikan debu menari-nari !
Kembalilah pada akar dari akar dirimu sendiri !
JALALUDIN RUMI
JIMMY MARULI ALFIAN
PENGANTAR ILMU HUKUM
Kenapa aku turut dihukum dan diusir pergi
Tak ada sidik jari dan barang bukti kejadian
Belum lagi saksi yang membuat kita sangsi
Akan mengubah ingatan menjadi igauan
Ah, Telah tiba masanya kalam sarat kata-kata
Sayang..kaulah yang mencuri buah larangan itu
Disebuah padang yang dipagar lebat pepohonan
Dan wajah sungai memantulkan keinginan
Padahal rantangku penuh menu kesukaanmu
Sambal terasi, dan ikan julung
Juga kemangi dan sayur kangkung
Lihat, betapa nafkah yang tak berkait dengan gundah
Nyatanya kau nakal suka menjarah
Mengaku saja..aku melihatmu sangat lasak
Bergulingan, menangkap ular dengan pecicilan
Katamu, kesetiaan ialah rasa haru akan kutukan
Dan kutukan lekang kalau kau pandai melupakan
Tapi cintaku, aku kini fana
Karna buahmu yang durjana
Ingatkah kau perasaan bosan akan kekesalan
Lalu kau berkata dengan mulut paruh angsa
“aku tak mau lagi dikolam
padma dan kiambang tak ajar nyelam dikedalaman”
hah, bagaimana mungkin kau bisa nyinyir
sedang disini pun kita numpang oleh takdir ?
itulah muasal kau menjadi binal, bermain kehutan
mencuri bebuahan, padahal sebagai perempuan sulung
tak pernah kuminta apapun padamu
selain tatapan yang lekat sepanjang waktu
“omong kosong, kau yang banyak keinginan gadis !
kalau saja kau tak cengeng dan centil menggoda
tentunya kita masih mabuk cinta disyurga
sambil berbalas pantun atau menebak manggis
puah !
pantun ? menebak-nebak buah manggis ?
kau yang selalu menjanji harapan padaku
dengan kata-kata lebih manis dari buah apaapun
dan suara yang membara tanpa ampun
“kaupun, betapa kudus tubuhmu yang bulus
sehijau bayam, serentan daun salam, harumnya seledri
aku bersendaawa dipinggul mulus
dan sebagai laki-laki wajarkah membiarkanmu jadi basi ?”
“norak ! sekarang kita sebatang kara dipenjara
tak adakah yang hendak membesuk sepanjang usia ?
aku menyesal, syahwatmu tak bisa ditanggal
aku lapar, lambungku tak bisa diajar
oh, wahai sesiapa diluar sana
adakah pembela bisa membebaskanku dari kata-kata ?
lalu selekasnya memulangkanku kesyurga
dahan srikaya membisu karna angin lebih dulu beku
Cuma kicau murai batu
Dan anis merah disangkar bambu
Aku tetap yakin kau yang bersalah
Mengendap kepekarangan, mendekati pohon pengetahuan
Mematahkan ranting dan mengoyak dedaunan
Lalu mecuri buah-buahan
IMAJI BIDADARI
Kita berkenalan dibawah gerimis, ketika langit masih murung dan cakrawala serupa kedung yang tak terkira dalamnya, dikedung itu pula, kita bertemu, ketika kusebut namamu dengan hening rindu, tubuhmu bangkit dari ketiadaan, syahdu, bermadah, merupa dalam jelaga igaku yang patah.
Hingga kubaptis dirimu sebagai bidadari yang diterjunkan awan lewat tangisnya, bidadari yang merebut waktuku kini, mengungsikan diri dan ingatanku kelampau, kisah-kisah yang terus membuatku risau, ketika kelelakianku menemukan lenguhmu parkir dipinggir kali, sambil menyampirkan selendang ke belukar, menyikat syahwatku sampai aku sekarat dan terbakar.
“aku berkhianat dari kodrat, mencatat setiap gerak ingkar, aku tak bisa menyangkal segala kehadiran tubuh, tubuh silamku, aku tak bisa berpangku pada angan yang centang perenang bagai benang yang tak bertangkai dan tak bercelah-aku dibimbing lengan tak bersudah menuruni lebah dan meremas-remas bukit, aku disalib ditiang yang bernama alif, takdirku yang raib”
“kaupun terbang seusai perjanjian, akupun meratap dalam sejarahku yang terjarah, sungguhkah kehinaanku akan purna dalam kesaksian buana yang tak lagi bisa bersetia”
lewat retak doa-doa yang membuncah dalam kata-kata yang tak bisa disimpulkan lewat nada-nada, aku kembali ke kini, tapi gerimis terus mengurungku dengan daya-daya magis, mantra yang tak bisa ditebak maknanya, juga puisi yang mendaki sunyi ke ruang tak terpahami, aku diungsikan dari bumi suciku kelendir yang penuh perih, ke mimpiku yang membusuk,
izinkan kusebut, kau peri khayalanku yang putih, meski kutau
kau hadir dalam alir takdirku yang anyir
kaupun hadir seiring mimpiku yang terpinggir dari arti cinta
kau hadir ketika aku terantuk beribu kutukan dan terbanting ketitik nadir
kau hadir ketika kerinduanku pupus oleh khianat.
Kupuja kau dengan hening, juga bening air, yang terus menerus menggerus kesadaranku untuk menemu kedung-kedung baru, kedung yang kau usung didadamu, dicelah farjimu, di matamu, kedung yang tak henti mengurung sepi dan mimpiku untuk terus membubung, memetik harapan-harapan agung, seperti seorang pesakitan yang meletakkan harap untuk kebebasan semata.
Tapi segalanya hanya khayalan, segalanya hanya gambar-gambar usang dari kenangan, segalanya telah demikian koyak untuk dijadikan jejak, segalanya seperti kata sudah disapih dari makna, segalanya tinggal puing-puing, tapi aku lebih sedih jika kehadiranmu membatu kewujud kaku, kehadiranmu menubuh dalam riuh tak teraih, aku lebih suka kau hadir dalam kefakiran imajiku, hadir dalam linangku yang tak henti memberi ruang pada sendang untuk bergumul dengan kerinduan-kerinduan setubuh…
Memang kita telah berkenalan dibawah gerimis, tapi gerimis tak kunjung bertepis, dari riwayatku, tangis terus terangkai ditaman-tamanku mataair-air mata tak kunjung hentikan alirnya dan aku tersudut sudah untuk menunggu segala waktu istirah kita memang telah bertemu dibatas cakrawala, tetapi kita tak tau seberapa depa lagi kita bisa kembali jumpa.
Setelah bertemu itu, kita memang telah terpisah, tapi desahmu masih demikian hangat dikalbu, apalagi cinta yang kubangun kini terancam rajam, hampir berserak dalam kehancuran hati desahmu masih saja melumat ingatanku untuk berkiblat ketungkumu sebentuk ilham yang tak pernah padam untuk memberi ruang bagi pencari api
Bidadariku kembalilah temuilah aku dikedung yang sama sebab langitku kini semurung kata-kata yang terbata mencari tempatnya dalam sebuah wicara “augh”.
MASHURI
Banyak hal yang aku pelajari dari sini bagaimana menyikapi tentang makna cinta tentang kehidupan dan berbagia hal lainnya yang berhubungan dengan hakikat cinta, bukankah tiada sesuatupun yang hidup didunia ini tanpa cinta disisinya ?
Suatu hari tiada kusangka ditengah perbincangan kami dia mengutarakan sesuatu hal yang diluar dugaanku, ya dia memberikan saran bahwa bagaimanapun telah kita pikirkan dan kita coba jalankan tetap saja kita tak menemukan jalan untuk kita bersatu mungkin alangkah jauh lebih baik jika kau mencari seseorang sebagai pendamping hidupmu carilah cinta yang lain, karna menurutku tiada kebaikan jika seandainya kita bersatu namun demikian aku akan tetap selalu berada disisimu menemanimu dan mendukungmu, sayang ..?
entah bagaimana aku menjawabnya, berat rasa bibirku mengungkapkan kata-kata aku hanya bisa terdiam tiada jawaban dan kucoba mengalihkan pembicaraan kelain hal.
Semingu kemudian dia masih mengungkapkan hal yang sama seakan penuh dengan keyakinan bahwa dia telah siap untuk aku tinggalkan,namun aku tetap sama tak ada jawaban yang dapat aku ungkapkan padanya.
Seminggu kemudian dia masih mengungkapkan hal yang sama hanya dalam bentuk ironi yang berbeda, hal ini membuat aku emosi berat, sempat aku meyesali mengapa dulu kau meminta aku mencintaimu menyayangimu hingga pada akhirnya kau harus menyiksa perasaanku sampai sejauh ini, apakah kau sudah ada seseorang yang mendekatimu yang kau cintai selain aku hingga kau menyuruh aku untuk pindah kelain hati dan mencari cinta yang lain, apa makna cintamu padaku selama ini, jika memang kau sudah ada seseorang untuk kau cintai dan kau telah siap, baik aku siap meninggalkan kamu dan akan kucari cinta yang lain ! kau mengatakan
tidak ada seorangpun dalam hatiku selain kamu dan aku hanya mencintaimu selama ini ?
Aku tak mengerti sikapmu padaku membuat aku semakin bingung, aku seperti boneka cintamu yang bisa kau permainkan sekehendak hatimu yang bisa kau timang sayang dilain waktu kau buang bagai sampah yang tak berarti, suatu ketika saat kau rindu kau tangisi dan kau peluk erat dia dalam dekapanmu dilain waktu kau campakkan bagai sajak usang ? namun aku rela kau perlakukan seperti itu karna aku benar-benar mencintaimu.
MENJAGA
Satu kata yang begitu mudah diuccapkan, namun begitu sulit untuk dilaksanakan dan tentunya tidak setiap insan mampu untuk menjalankannya dan bahkan menaatinya.
MENJAGA
Atau memelihara, merawat, melestarikan, dan masih banyak lagi sinonim yang menyatakan hal serupa.
Kau tau begitu mudah untuk diucapkan tapi mudahkah untuk dikerjakan ? Dilaksanakan ?
Membentuk sebuah perkaianan dalam Rumah Tangga cukup mudah namun mudahkah MENJAGA keutuhan Rumah Tangga itu sendiri?,
Mengatakan Cinta mudah tapi menjaga kelanggengan cinta itu sendiri mudahkah ?
Apa yang dibutuhkan untuk itu semua adalah : Kesabaran, Ketabahan, Keuletan, saling pengertian, saling memberi dan menerima, keterbukaan, saling menyayangi dan mengasihi, saling menasehati, saling percaya, siap bertanggung jawab, siap menanggung segala derita, siap untuk disakiti, siap untuk dicerca, dicaci maki, siap mengghadapi segala tantangan hidup, siap untuk berkorban dan berjuang terlebih
SIAP MENANGGUNG SEGALA RESIKO.
Namun demikian, jika kita masih saja mempertanyakan tentang kelayakan, kepatutan, kebimbangan, apakah dapat kita menyandang gelar sebagai seseorang yang telah DEWASA!
Seseorang yang memiliki harga diri harkat, martabat dan drajat yang tinggi baik dimata tiap insan dan di mata TUHAN, seseorang yang layak untuk diteladani, seseorang yang cakap untuk dicontoh suri tauladannya dalam kehidupan sehari-hari, apakah dapat dikatakan seseorang yang siap menantang tirani kehidupan!
Untuk menghadapi semua itu apa yang diperlukan?
Ketika kita mulai siap dengan semua itu maka kita dihadapkan pada beberapa hal, yaitu kita terbentur pada rasa yang dihadapkan pada hukum dan aturan TUHAN sementara nama baik citra keluarga dipertaruhkan dalam hukum dan aturan masyarakat, dan sudah tentu semua itu menjadi teramat pelik jika kita masih terbelenggu pada hakikat diri sendiri dengan kebimbangan yang dipertanyakan, dan bagaimana dengan kekerabatan pada hubungan pergaulan dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam persahabatan, yang dihadapkan pada citra diri dan keyakinan.Lalu bagaimana kita menyikapinya ?
KETEGASAN dalam memberi keputusan dan siap menanggung segala resikonya.
Sketsa tulisan dan kata-kata yang tertuju pada sebuah rasa dapatkah dipercaya jika harumya tidak tercium?
Cinta tak memberikan apa-apa kecuali keseluruhan dirinya…….
Utuh………
Penuh………
Pun tak mengambil apa-apa kecuali dari dirinya sendiri
Cinta tak memiliki ataupun dimiliki karena CINTA telah cukup untuk CINTA.
Dihari kasih dan sayang ingin kucurahkan hanya untukmu seorang tiada yang dapat kuberikan selain rasa kasih dan sayangku sebagai ungkapan rasa cintaku padamu, yang tulus dan suci dari hati dan jiwaku yang terdalam
Sungguh rasa cintaku terus mengalir memenuhi palung hatiku,
dari hari kehari rasa kasih sayangku semakin berkembang, aku tak tau apa yang dapat kulakukan untuk dapat mewakili rasa ini terhadapmu.
Adalah ketika pagi engkau tersenyum, rasa cintaku semakin harum.
Adalah ketika siang engkau terawa, tak terukur rasa bahagia dalam dada,
Adalah ketika senja engkau bercanda, rasa sayangku kian merona,
Adalah ketika malam engkau bercerita, membuat aku semakin terpesona
Ketika malam merayap jalan, pelukanmu membeai harapan.
Malam………
buailah dia dengan impian terindahmu
Bawalah ia kedalam saat-saat yang membahagiakan hatinya, biarkan ia mengarungi segala keindahannya agar cintanya kian merekah.
Malam..
Jangan kau gelapi gadisku dengan pekatmu
Biarkan ia bersama cahaya yang memancar dari cintaku
Penaku telah melukis indah dirimu dalam hatiku, diatas air yang kulukis diantara putihnya krah bajumu, uccapku berkata “ingin ku memiliki seutuhnya dirimu bukan hanya sekedar lukisan yang layak untuk ditatap”
aku tersenyum memandangmu “BENARKAH YANG KURASA”?? Aku hanya mampu berharap, aku tak tau harus berbuat apa pengetahuanku telah memalingkan semua harapanku, kuberandai jujur padamu hendak kunyatakan semua rasa yang hadir dijiwa dan betapa sulit kuberdusta tentang rasa ini AKU CINTA KAMU
u my VALENTINES
Sekalipun aku telah bertemu denganmu
Aku tetap merindukanmu
Bagaimana aku menjelaskan tentang perasaan ini
Aku tak tau apa yang harus kulakukan
Untuk dapat selalu disisimu
Beribu-ribu alasan dan sebab
Terus memenuhi ruang pikiranku
Seakan telah habis terkuras semua alasan itu
Terlalu jauh kita menjalin hubungan
Terlalu dalam kita memendam rasa rindu
Ya..hari esok adalah milik kita
Dunia ada dalam genggaman tangan kita
Setuju atau tidak tak perlu kau jawab
Sebab hati dan perasaan tak akan berdusta
Sejak saat ini diakhir pertemuan kami selalu berpelukan sebagai pelepas kerinduan dihati kami, bercumbu dan mencoba mencari titik kepuasan dan sejauh ini aku tak pernah mau untuk masuk kekamar kost nya kami hanya duduk diberanda dan terkadang hanya berada diruang tamu disanalah tempat kami memadu kasih selama ini tak ada yang tau kami melakukan semua itu selepas malam telah tiba,
Namun bagaimanapun malam itulah malam pertama aku menitikkan butir airmata karna cinta, rasa penyesalan yang dibakar rasa penasaran terus membakar jiwaku sejak saat ini pula pikiranku mulai kacau aku tak dapat menguasai diri pelukan itu telah membuat aku terbelenggu pada diri dan tubuhnya pada cintanya,pada kasih sayangnya, benarkah ia mencintai dan menyayangiku sebagimana apa yang telah ia katakan padaku setahun yang lalu, haruskah semua berakhir dengan meninggalkan jejak berdarah didasar hati.
Dengarlah ketika angin mengusik batang-batang padi
Dengarlah senandung dibalik jendela
Pejamkan matamu
Pasti kau temukan yang kau rindu disana
Wahai malam
Jangan kau gelapi gadisku dengan pekatmu
Biarkan dia bersama cahaya yang memancar dari cintaku
Aku akan menjadi nakhodamu mengarungi lautan cinta
Seperti kemilau purnama dimalam lima belas
Seperti gelombang dilautan begitulah senyummu
Sayang..! mari kita kejar yang telah lama kita tunggu
Langkahkan kakimu hanya padaku
Aku ingin mengecup keningmu bukan hanya dalam angan
Berapa lama semua ini akan berakhir ?
Dapatkah cinta memberikan kejujurannya ?
Dapatkah cinta membuktikan kekuatannya dari apa yang telah termaktub setiap saat setiap waktu ?
Aku tak dapat menjawabnya tapi inilah yang dapat kukatakan
Aku tau aku membutuhkannya hingga seluruh bumi akan hancur dia akan tetap ada dalam hati dan jiwaku namanya akan terus mengalir bersama desiran darahku
Dirinya akan tetap ada dalam diriku bersama disetiap detak jantungku.
Selepas senja kuhampiri dengan diam
Dengan langkah gontai wajah tertunduk malu
Senyum terkulum tatapan nan sayu
Begitu sendu menghias kalbu
Selarik pelangi jiwa membersit jelas
Dibawah bayang-bayang aura wajah
Meleburkan bilur-bilur kerinduan
Melepaskan hasrat dalam dada
Nafas kian memburu
Dalam dekap tak terharap
Peluk cium dalam dekapan
Penuh kehangatan dan semakin
Manis dalam tenggorokan iblis
Haruskah kutinggalkan setelah dalam pelukan
Haruskah kubiarkan nafas aroma kerinduan
Haruskah kupergi meninggalkan isak tangis tak bertepis
Haruskah aku jeda membiaskan kesedihan tiada terkira
Kata cinta dan sayang
Benarkah segalanya tertuang
Dari dasar hati..?
kunanti walau tak pasti
sebuah jawaban yang dapat menenangkan hati
tidak sesuatupun..
bukan sesuatupun..kiranya
aku tak layak
bermain-main dengan selendang Tuhan
Ya.. masih membayang jelas diaura wajahnya masih begitu jelas keraguan tentang apa yang ada dalam harapannya waktu itu, bahwa semua sangat mustahil untuk dijalankan sebagaimana sepasang kekasih,sejenak kukandaskan rasa itu, kutepis semua rasa itu dan akupun tak tau apa yang akan terjadi nanti !
Tahun-tahun pertama aku rasakan inikah yang namanya cinta..!
Setiap saat selalu ingin berada disisinya, setiap waktu selalu mencoba membangun ilusi bersama bayang dirinya mencoba berdialog tentang dunia dengan keindahannya dan bahkan khayalan-khayalan nakal selalu menghias diantara senda gurau.
Makan tak enak tidurpun tak nyenyak jika tanpa kehadiran dirinya disisiku setiap waktu dibakar rasa cemburu yang kian menggunung dan terus bertanya tanpa tau jawabnya.
Sesekali waktu dimalam hari ia memasak untuk kita makan berdua namun terkadang kami makan diluar, diantara senja kesenja berikutnya aku selalu berharap ia mau mengundangku untuk datang menemaninya bercerita berbagi rasa dan seakan-akan cerita itu tiada habis-habisnya dikisahkan, dan sungguh meskipun kerap kali kami bertemu muka dan bertutur sapa tiada jua jemu dan bosan menghantui jiwa kami dan bahkan kami selalu merindukan saat-saat bersama penuh dengan canda dan tawa.
Seakan kami sudah tak mempedulikan segala batasan dan larangan namun hukum dan aturan dalam permainan cinta masih kami junjung tinggi inilah tahun pertama hubungan kami yang benar-benar dibuai cinta,ya..cinta yang sebenar-benarnya cinta suci.
Dunia penuh dengan pilihan jangan sampai waktu yang sedikit kita habiskan bersama pilihan yang tak tepat.
Rasa kepenatan telah memutar haluan
Meski jantung berdebar dalam buaian
Aku rela menjadi sehelai rambut keindahannya
Yang senantiasa dibelai dalam pangkuannya
Betapapun sempitnya jiwa karna lelah
Lenyap segalanya ditelan senyum indah
Betapapun besarnya rasa kecewa
Sirna segalanya ditelan senyum indah
Boneka cinta..
Layakkah kukatakn demikian
Karna secercah cahya keagungan-Nya
Ia begitu mempesonakan mata khayalan
Dan besar harapan jatuh dipangkuan
Ketika bunga tak lagi bermakna
Ketika kata tak lagi berbahasa
Ketika mimpi tak menjadi nyata
Ketika luka sudah tak terasa
Apakah rupa yang telah menggetarkan dada
Apakah tutur sapa yang telah menyentuh jiwa
Apakah senyum yang menggoda tali atma
Ataukah keelokan dirinya yang membutakan mata
Jangan jadikan aku buhul
Ditengah bentangan tali kebersamaan
Diantara kalian..
Telah kering ladang yang kutanami
Peluh sama sekali tak berarti
Namun kucoba tetap berdiri
Menantang sebuah tirani
Jika dapat kutumpahkan butir airmata
Sungguh selamanya tak akan kubendung
Sebelum ketentraman jiwa hadir
Sebelum ketenangan batin hadir
Diantara belahan jiwa dan rasa
Aku tak tau apa maksud semua ini
Mengapa berlaku ditengah bara asmara
Mengapa semua ini hadir membelah jiwa
Diantara sesaknya nafas kerinduan
Lelah rasanya aku melangkah
Jika akhir dari perjalanan
Hanya sebuah kesia-siaan
Tiada terputus kata penyesalan
Layakkah aku berbicara tentang kesia-siaan
Mungkinkah hal itu ada dan benar-benar nyata
Bukankah segalanya ada hikmah
Meskipun lemah tertuju dalamnya duka
Ingin rasanya kusingkap tabir
Rahasia diri tentang masa depan
Namun aku tak dapat lari
Dari suratan takdir
Resah menghalau dibilik jiwa
Terbelengggu pada sikap yang manja
Hasrat dalam dada semakin menggoda
Serangkum rasa membiaskan rona cinta
tatkala senja telah tiba
ingin kuhampiri dengan sejuta rasa
kusapa dengan manja dan menggoda
namun rasa seakan telah berdusta
ketika sang waktu telah menyapa
mengingatkan aturan dalam permainan cinta
tangan yang terlepas bagaikan derita
menikam ditengah lubuk jiwa
ingin rasanya kubawa ia pergi
jauh dari segala aturan dan hukum yang berdiri
tapi mengapa kau tanyakan tentang duri
yang datang menghampiri
dan menyiksa hati sanubari
seakan sudah tak peduli
dalam bayang mengunci diri
terpaku diam terus menanti
hasrat hendak memiliki
dalam sejuta malam penuh ilusi
mungkinkah segalanya terjadi
dengan dasar cinta yang putih dan suci.
Betapapun aku merindukan hari-hari bahagia
Bersama dirinya disisinya..didekatnya
Hari-hari yang penuh tawa canda ria
Akankah segalanya sirna ditelan masa
Sebuah perasaan yang begitu asing
Membersit jelas direlung kalbu
Bagaikan pelangi jiwa yang membayang
Dilangit-langit pikiran yang begitu kelabu
Sepasang mata telanjang
Menatap rindu pada bibir tipis yang manis
Bermain dengan api asmara
Dan membakar segalanya
Kecuali yang tercinta..
Taman musim semi
Seakan diam tak berseri
Sebab cinta masih menjadi misteri
Dibalik nama dan rahasia diri
Rasa sebuah mimpi kemana kau pergi
Dapatkah kau ucapkan kata kembali
Agar dapat kuhalau rasa sepi dihati
Betapa kurindu pada hati nurani
Agar dapat kurasakan indahnya cinta
Dalam buaian nada asmara
Bukan hanya sekedar cerita
Tapi nyata rasa membuai jiwa.
Satu dasa warsa empat belas purnama
Memendam cinta hanya tinggal nama
Tiada kabar tiada berita darinya
Lewat mimpi datang tak diterka
Bimbang datang meradang merajuk sukma
Dua jalan dihadapan mata
Meminta harap dari sebuah makna
Tak terukur dalamnya gundah gulana
Adakah kata terlambat sudah
Untuk meniti jalan dalam sejuta langkah
Diam meratap dibilik hati tak bercelah
Suka dan duka bersatu dibalik wajah
Apakah sejuta langkah hanya lelah
Karna gelas-gelas kerinduan telah pecah
Meninggalkan sisa puing yang rengkah
Dan terpatri diam pada kata bersalah
Tangis bisu semakin memburu
Karna hasrat semakin membiru
Tak tertuju dalamnya rindu
Yang menggelayut diujung kalbu
Terbelenggu pada rasa malu
Apakah nama meninggalkan sebuah makna
Apakah arti meninggalkan sebuah rasa
Ketika cinta dihadapkan dengan dunia
Terhimpit diantara belahan jiwa dan rasa
Kuharap masih ada waktu tersisa
Kuharap masih ada jalan terbuka
Untuk menggamit dua jiwa
Dalam genggaman tangan cinta
Dan memadu kasih seindah
Ditaman nirwana.
Aku adalah cermin diri
Jangan kau pecahkan ia
Aku adalah pilar-pilar rohani
Jangan kau rebahkan ia
Aku akan mencoba
Setabah ombak mengikis karang
Sebab cinta dan kasih sayang bukanlah suatu kebetulan
Tapi rahmat dan karunia Tuhan.
Setiap saat berusaha bertanya pada sang malam
Ketika rasa kian terpendam
Pasir putih boleh kau hampiri
Birunya laut jadikan cermin diri
Namun jangan selamanya diam berdiri
Menantang kehidupan dalam ilusi
Jika ingin menantang sebuah tirani
Sudah cukupkah dalam diri kata berani
Jangan hanya sekedar kenal tapi coba hampiri
Kelak kau akan tau dan mengerti
Jika kau sudah tau dan memahami
Ambil dan simpan dalam laci bilik hati
Yang kelak akan menjadi perbendaharaan diri
Untuk bekal anak cucu dihari nanti
Sebuah petuah yang datang tak terarah
Menghimpit relung jiwa yang terasa lelah
Haruskah kata kalah terucap dibalik lidah
Salahkah jika aku katakan aku mengalah
Aku mengalah bukan berarti aku kalah
Salahkah jika pernyataanku cukup sudah
Jika kau katakan aku lengah
Aku akan tertawa
Sebab kaulah yang membuat ulah
Bukan sesuatu yang layak untuk kau katakan
Jika kata hati tak dapat kau ungkapkan
Jika kejujuran tak dapat kau sematkan
Bukan sesuatu yang layak untuk kau ucapkan
Bukan sesuatu yang layak untuk kau katakan
Jika hati dan jiwa tidak berpadanan
Jika serangkum senyum membiaskan kesedihan
Jika harapan dan keadaan tak sejalan
Apa yang layak untuk kau ucapkan
Meskipun sakit baiknya kau ungkapkan
Meskipun derita menyapu perasaan
Bila diakhir perjalanan
Ketenangan jatuh dipangkuan
Apa yang layak untuk kau ungkapkan
Adalah demi masa depan
Adalah demi sebuah harapan
Adalah untuk satu kebaikan
Bukan tak sanggup, bukan tak mampu
Hanya rasa takut dan malu
Yang terus merajuk kalbu
Hanya diam memendam sendu
Bukan tak sanggup, bukan tak mampu
Apa artinya jika sendu menghias kalbu
Jika senyum terkulum kau lemparkan padaku
Demi masa depanmu,jujurlah padaku
Itulah satu yang kupinta darimu..
Bukan sesuatu yang layak untuk dibaca
Jika tak tau tertuju dalamnya sebuah kata
Semakin banyak terbaca semakin dalam
Bimbang meradang merajuk sukma
Jangan lihat apa yang tertulis
Tapi lihat akan senyum manis
Sungguh bahagia tiada bertepis
Dan sayangpun tak akan terkikis
Bukan sesuatu yang layak untuk dibaca
Jika dada harus terluka
Jika harus berlinang airmata
Jika kesedihan hadir merajuk jiwa
Dan terlihat jelas diroman muka
Bertanyalah jika kau tak tau
Jangan sematkan malu diujung kalbu
Jangan selalu diam membisu
Jika diakhir kata sendu menghias kalbu
Ketidak puasan.
Mungkin sempat hadir menggoda perasaan
Karna tak sepadan pada apa yang telah diberikan
Jangan katakan sesuatu tak beralasan
Jika harapan hanya tinggal kenangan
Jika demikian..
Jangan sematkan kata perpisahan dan penyesalan
Karna masih ada sebuah jalan
Untuk meniti sebuah harapan
Lautan kasih..
Akankah kiranya kau membawaku kesana
Samudra cinta..
Akankah gelombangnya menghempas pantai hatiku
Danau kasih sayang..
Akankah setenang kasihmu yang
Menghampar luas dibelantara alam perasaanku
Tidakkah hujan airmata telah membasahi
Keringnya daratan jiwaku
Hingga tumbuh seribu bunga-bunga
Ditaman hatiku
Badai cintamu telah memporak-porandakan
Alam fikiran dan perasaanku
Sungguh aku tak sanggup untuk mengungkap makna “ diam “ sebab didalamnya masih menjadi sebuah misteri, tak ubahnya seperti hari esok yang tak dapat ditentukan menurut akal dan logika, tak kuasa menolak, tak kuasa menerima, Ya.. dan Tidak, masih menjadi satu namun bukan berarti bimbang dan ragu, hanya takut.. rasa takut yang tak beralasan entah keputusan apa yang dapat kita ambil, karna selaksa kerinduan terus membayang
Karna cinta dan sayang telah tertuang begitu dalam, karna pelukan dan ciuman yang diberikan begitu merajuk sukma, dan tak pernah berhenti untuk meminta agar terus bersama selamanya..!
Tak sedetikpun kuinginkan
Dari bentangan harapan yang kuhamparkan dihadapanmu
Karna tak selamanya jawaban yang kita terima adalah jawaban yang kita inginkan
Setiap saat rasa cinta dan kasih sayang
Selalu naik turun bagai tenggorokan iblis
Bercumbu dengan kehambaran,namun tak pernah ada kata puas
Selendang iblis telah terlampir dibahu
Dan serunainya memekakkan liang telinga
Gambaran iblis betina hadir dipelupuk mata begitu menggetarkan dada
Dan bibir manisnya semakin menggoda
Sehelai rambut apinya nampak indah
Begitu halus tertatap dimata terbuka
Dan sepasang matanya menusuk lubuk hatiku
Setiap saat mencari bayangan pelukan kenikmatan
Mencari setitik kebahagiaan dan kenikmatan semu
Berlari tak sampai mengejar bayang-bayang keindahan
Karna serangkum senyum hadir dibalik wajahnya yang memerah
Apa yang kuharapkan dari pelukannya ?
Apa yang kudapatkan dari keelokan dirinya ?
Hanya kehampaan yang senatiasa hadir direlung jiwa
Sebab hasrat tak mengenal kata cukup sudah
Kemana aku harus mencuci diri
Kemana kucurahkan hasrat yang kian menggila
Tiada tempat untuk mengadu
Tiadakah kesempatan datang untuk menawar rindu ?
Betapapun kerasnya alunan musik
Sudah tak mampu lagi mengusik
Hati dan perasaan tentangnya yang berisik
Karna buah cinta dan kasih sayang telah terpetik
Telah kurasakan manisnya cinta..
Telah kurasakan indahnya kala bersama..
Telah kurasakan kasih sayang yang tertuang
Namun aku tak kuasa menolak kata bimbang
Kurun waktu ..
Masih tetap membisu..
Ia tak mengenal kata malu
Haruskah segalanya akan berlalu
Meninggalkan rasa rindu yang menyayat kalbu
Sedang hasrat sungguh tak tau malu
Kala berpisah tak henti merajuk sendu
Dan terus berteriak “ aku rindu “
Dan memaksa untuk bertemu
Apa yang dapat kau harapkan dari kasihnya
Apa yang dapat kau raih dari keelokan dirinya
Apa yang dapat kau genggam dari senyum manisnya
Apa yang jatuh dipangkuanmu dari kecantikannya
Hingga hasratmu kian memberangus
Meskipun bertemu rindu tak akan pupus
Ingatlah karna hasrat akan selalu haus
Dan ia hanya mengenal kata harus..
Seribu satu malam
Lantai bulan dalam segenap perjalanan
Dibelakang kursi-kursi pengadilan
Menarik benang diempat penjuru alam
Terbang melesat tak kenal ruang dan tempat
Terikat seutas benang putih empat arah
Lepas membentang antara bumi dan bulan
Semakin erat buhul yang mengikat
Terhimpit diantara tujuh langit
Dapat kulihat namun tak kuasa bergerak
Dapat kurasa namun tak dapat mengelak
Mulut terkatup lidah terasa kelu
Antara ada dan tiada
Nyata namun bagaikan tabir mimpi
Sejenak aku pergi tak tau tujuan
Dalam tidur bukan mimpi
Bukan ilusi bukan pula imajinasi
Seakan tak percaya namun itulah yang terjadi
Bukan kuingkari,karna segalanya masih misteri
Bukan aku tak percaya pada makna
Aku memerlukan sebuah bahasa akan kata-kata
Bahwa yang terjadi semata-mata
Karna rahmat Illahi
Dan bukan permainan illusi atau imajinasi
Yang didasarkan keinginan hati dan tuntunan iblis
Tentang sebuah kehadiran
Keberadaan kita untuk apa dan siapa
Apa hakikat dari keberadaan kita
Dan apa makna yang kita jalani
Kepentingan, keperluan, dan kebutuhan
Sejauh mana berada dalam genggaman
Dan seberapa kita mampu meraih impian
Dan apakah soal perasaan memegang peranan
Jika kau tau maka tunjuki padaku
Dimana bersemayam rasa bahagia dan kecewa
Dibagian mana dari hati kita
Dibagian mana dari jiwa kita
Tentang kau
Apa makna dari keberadaan kau dan aku
Apakah kau ada untuk aku,dan aku ada untuk kau
Apakah kehadiranku karna kehadiranmu
Atau kehadiranmu karna kehadiranku
Apakah keberadaan telah mengatasi sebuah keberadaan
Apa maksudnya ?
Tentang aku
Jika aku berdiri diatas kemahadirianku
Apa yang kau tau tentang aku dan ke-aku-an-ku
Jika aku adalah aku,dimanakah bersemayam ke-aku-an-ku
Hingga aku tau dimana ke-aku-an-ku
Tentang kita
Jika kau dan aku ada untuk bersatu
Dimanakah tanda persatuan itu
Dimanakah bukti dan ciri tanda kebersatuan itu
Jika aku dan kau ada untuk berpisah
Mengapa haarus ada pertemuan dan
Sesal diakhir perjalanan.
Bukan sesuatu yang layak untuk kau baca
Tapi lihatlah apa yang dapat ditatap oleh mata
Dan apa yang tercantum dari sekulum senyum
Serta makna dari sebuah kata..
Ya dan tidak benar dan salah
Apakah sebuah jawaban
Ucapkanlah apa yang menjadi harapan
Ungkapkanlah apa yang menjdi keinginan
Agar aku tau dan dapat kuberikan
Betapapun sulitnya mengungkapkan perasaan
Bukan berarti tak mampu dilakukan
Jika ada keinginan dan kemauan
Masih ada jalan untuk meniti sebuah harapan
Seumpama malam
begitulah kata sang pujangga
seumpama purnama
begitulah kata sang penyair
menerpa begitu halus bumi hatiku
sejenak mempesonakan panorama jiwaku
hanya dalam semalam
ironis..
jika tidak..
mengapa diawali..
jika ya..
mengapa diakhiri..
ya..kini kusendiri lagi..
mengulangi perjalanan yang sama
melangkah diatas lingkaran yang sama
aku pulang..
membawa sekeranjang dosa dan nestapa..
membawa lautan derai airmata..
lusuh dan kumuh..
dengan jiwa yang kotor dan kasar..
aku pulang..
membawa buah tangan kekecewaan..
membawa kisah sedih cerita cinta..
selarik penyesalan atas kesia-sian..
menggema diruang hatiku
membatin yang tiada terungkap
jalan seakan buntu bagiku
sesuatu yang tersisa bukan lagi permata
hanya seonggok tanah merah
yang meliput jagat raya
pucuk itu tak lagi berbunga
pucuk itu tak lagi tumbuh
pucuk itu tak lagi teduh
pucuk itu kini telah layu
aku pulang
masih adakah setetes air kehidupan
masih adakah untuk kutatap
masih adakah untuk kukecap
masih adakah yang tersisa untukku
meski hanya butiran debu
aku pulang
bukan ilmu yang kubawa
bukan harta yang kubawa
yang kubawa
serangkum malu
dalam saku baju
yang kubawa
setumpuk hina
dalam saku celana
aku pulang
kuharap masih diterima
kuharap pintu masih terbuka
meski tidak dengan senyum gembira
dengan airmata
aku rela..
aku lelah
jalan itu telah mendustakan aku
jalan itu telah mengkhianati aku
jalan itu telah membuat aku terlena
jalan itu telah membuat aku buta
jalan itu telah membuat aku tuli
hanya berteman bayang-bayang sepi
yang tak dapat dimiliki
yang tak dapat diraih
aku lelah
meniti hari mengejar bayang ilusi
meniti waktu yang tak lagi lugu
selamat malam.
RASA
Gerimis mengundang hasrat yang berkelindan dalam dinginnya malam
melarutkan kenangan yang pudar oleh canda tawa
sedang disisi kami hanya derau kalimat basa-basi
memapah jalan yang lunglai termakan cacing hati
menapak diudara basah
sebasah pipimu oleh airmata
menyayat luka dalam dada
sedalam sebuah kata pasrah
kala senja datang menggoda
menebar senyum seindah seroja
sejenak kubertanya dalam dada
apa maksud senyumnya yang mengoda
mengepal tangan dalam langkah
yang berwarna merah darah
semerah wajahnya disaat murka
yang tak dapat diseka
kurun waktu tinggalah sejarah
bentuk dan rupa hanya secercah
terantuk dijalan yang salah
bukan kalah tapi mengalah
pantas saja kau berkata cukup sudah
dibayang wajahmu tersirat lelah
bukan takut kalah tetapi
terantuk dijalan yang salah
kini kumengerti apa yang kau cari
semua hanya sebuah basa-basi
untuk mencari jati diri
menuju kalam illahi
aku berkata satukan hati
kau katakan walau tak pasti
berapa lama aku harus menanti
menanti pagi yang semakin basi
parau suara yang terlantun
bak bait dan rima pada sebuah pantun
datar saja puisi yang kususun
sedatar sikapmu yang tak santun
kemana jalan yang hendak kutitih
karna tubuh semakin ringkih
terbalut lelah dan letih
dan jiwapun tak lagi putih
tak seputih sebuah kasih
ragu dan malu mulai menyayat kalbu
sebiru hari saat bersamamu
seharu rasa saat disisimu
meski tak tertuju dalamnya rindu
separuh waktu saat bersamamu
separuh nafas saat disisimu
selaksa manja saat berbagi rasa
semanja senja saat dibuai sang surya
kini tibalah waktunya
memaparkan harapan pada satu rasa
membentangkan tangan
menumbuhkan kenangan
banyak sudah yang terbaca
banyak sudah yang terluka
banyak sudah yang tertera
banyak sudah yang terlena
apa yang akan terjadi
pada hari yang akan berganti
pada kisah yang belum tercuci
pada jalan yang belum terlewati
aku tak tau..Ya..aku tak tau..!
kemana kuharus menanggung rindu
yang semakin mengharu biru
masihkah aku dihatimu !
masihkah ada cintamu padaku !
masihkah ada sayangmu padaku !
masihkah kau peduli padaku !
masihkah aku dihatimu !
sungguhpun demikian
bukanlah pernyataan atau pertanyaan
hanya ungkapan jiwa yang terdalam
hanya ungkapan rasa yang terpendam
padanya kuhamparkan impian dan harapan
padanya kugantungkan cita-cita dan masa depan
padanya semangat hidup kusematkan
padanya jalan hidup kubentangkan
salahkah apa yang kukatakan
salahkah apa yang kuimpikan
salahkah apa yang kuucapkan
salahkah aku !
hitamkah jalan ini ataukah merah
bukankah warnamu adalah warnaku
bukankah cintamu adalah cintaku
bukankah sayangmu adalah sayangku
bukankah hatimu adalah hatiku
bukankah apa yang kau rasa adalah yang kurasa
bukankah apa yang kau lihat adalah yang kulihat
bukankah apa yang kau katakan adalah yang kukatakan
bukankah kisahmu adalah kisahku
bukankah kenanganmu adalah kenanganku
bukankah jalanmu adalah jalanku
bukankah dirimu adalah diriku
bukankah demikian ?
jika tidak kau katakan maka kuucapkan
selamat jalan untukmu
jika tidak kau ucapkan maka kukatakan
selamat jalan untukmu
semoga berbahagia.
selamat malam.
Sejenak aku berlari menjauh dari bayang dirimu berlari-dan berlari entah sampai kapan aku tak tau kucoba menepis semua hal yang berbau mistis amis dan anyir sepi menghalau jiwa kuyakin suatu saat akan ada hal yang membuat aku melupakanmu meski saat ini belum kutemui cara itu, maaf jika aku harus menanamkan rasa kebencian dalam dada ini semua kulakukan karna kau yang meminta aku untuk melakukan semua itu, setidaknya inilah satu-satunya cara untuk aku dapat menepis semua rasa ini yang terus menghantui jiwaku beragam rasa baik kekecewaan kekalutan kekesalan semua menyatu dalam dada entahlah mengapa kau membuat aku harus seperti itu baik buruknya sudah dapat kau rasakan pahit manisnya sudah kau kecap entah mengapa kau katakan aku begitu kejam pada dirimu aku tak tau padahal bukankah kau yang meminta aku untuk melakukan semua itu terhadapmu semua sudah kuturuti permintaanmu sampai aku menganggap begitu bodohnya aku begitu tololnya aku harus menuruti segala keinginanmu aku seperti budakmu seperti budak hawa nafsumu hingga kini aku terbelenggu pada hasrat yang kau buat pada hasrat yang kau lampiaskan padaku,dan kini kau tinggalkan aku dalam kehausan dalam kelaparan ditengah padang pasir yang tandus dan gersang, tanpa bekal sedikitpun yang kau tinggalkan untukku, kau bawa pergi semua dan kau biarkan aku sendiri ditengah sepi.
Aku berharap semoga masih ada sebentuk awan yang akan menaungiku menuju haribaan-NYA.
Rasa rinduku yang begitu dalam telah tawar dengan sikapnya yang acuh sungguh mengecewakan,tak kusangka kemunafikan telah bersemayam dihatinya.. bertahun tahun telah kuberikan segalanya tapi inikah balasannya..?
Bukan kumenyesali sebuah pertemuan tapi yang membuat kecewa akhir sebuah perjalanan, benarkah kita telah didustakan hati dan perasaan kita sendiri ? saat inilah aku mulai muak dengan hubunganku.. aku diam dengan hubunganku.
Sebuah agenda tentang catatan masa silam, hitam dan putih, merah dan biru mewarnai lembaran-lembaran kertas putih jiwa-jiwa insan yang hidup dan dihidupkan, insan yang bernafas dan berjalan dipunggung bumi yang menjejakan langkahnya diatas tali harapan tanpa tau tujuan.
Topi hitam diatas kepala yang membelah dada langit, putaran-putaran roda bumi pembungkus raga, tali-tali pusar menjerat urat nadi, menghapus setitik noda darah dalam gersangnya nafas perjalanan, paraunya laksana halilintar yang menghujam bumi, membakar rimba belantara dalam satu malam.
Jeruji besi ditengah keremangan bulan sabit, membiaskan birunya bilur-bilur cakrawala, pernik bintang gemintang meronakan dan menghias angkasa raya, merahnya dataran jejak-jejak pengembara melukiskan petuah yang tersebar didelapan penjuru arah panggung peradaban, beralaskan lampit pandan begitu hijau dengan aroma yang menggugah rasa, beningnya bercorak imitasi dengan warna yang pudar, halusnya melebihi putih diatas putih, rangkumannya tertitah disetiap helai dedaunan, lingkaran-lingkaran buta yang berdiri tegak diseutas tali jiwa, menancapkan ujung lidah pada rusuk hati dan mencoba melafazkan siratan alam kedalam fikiran.
Simpan saja segala rasa tentangnya..
Simpan saja segala hal tentangnya..
Simpan saja segala kisah tentangnya..
Simpan saja segala kata-kata tentangnya..
Simpan saja dengan baik-baik.
Tolong kembalikan rasa mimpiku..!
Tolong kembalikan hati nuraniku..!
Aku rindu diriku yang dulu..
Kembalikan kesejatian diriku..
Kau hadir ditengah kerentangan jalan yang berbeda
Menusuk kaki-kaki angkuh dalam sejuta langkah
Semakin erat dan panjang tali harapan
Namun apakah hanya seutas benang
Kau hadir membelah jiwa ditengah badai asmara
Apakah kehadiranmu hanya sebuah topeng belaka
Yang bersembunyi dibalik wajah tak berdosa
Sungguh bertentangan
Bukan ketidak adilan
Karna sebuah permintaan
Telah memutuskan tali harapan
Seketika aku jatuh sakit
Karna aku tak tau kemana akan kutuangkan
Gelimang darah dalam dada
Merah jiwaku tak tertawar
Seketika aku jatuh sakit
Karna pilar-pilar rohani telah retak
Sejarah lama yang terulang kembali
Sungguh tak dinyana kata yang diucap
Dan terucap.
Makam putih nisan hitam
Terpaku didalam tanah tak bertuan
Meluruhkan pesona alam
Dalam kelamnya sang malam
Merajahkan sebuah janji
Yang terpatri pada rantai hari
Semakin rapat dalam selaksa duka
Sungguh tak dapat diseka
Karna luka semakin terkuak dan terbuka.
Tanah merah ..
Selamanya tak akan berubah
Meski diakhir kata hadir pasrah
Bukan berarti pengakuan kalah
Tanah merah..
Saksi sebuah sejarah
Akan perjalanan berjuta langkah
Kuharap masih ada kata “kembalilah”
Tanah merah..
Bagaimana aku harus menjemur marah
Karna mentari tak kenal kata lelah
Dan rembulan merengek membuat ulah
Tanah merah..
Kau saksi sebuah kisah
Apakah aku bersalah
Jika aku katakan cukup sudah
Karna bukti cinta telah tertitah..
Tembok ratapan
Melukiskan berjuta kenangan
Penuh dengan warna keindahan dan kesedihan
Namun hanya sebatas sketsa pensil dan tulisan
Tembok ratapan
Batasan antara kesedihan dan kegembiraan
Berdiri diantara balahan jiwa dan rasa tiap insan
Bukan tak mungkin untuk dihancurkan
Dinding kasmaran
Begitu kuat tak tergoyahkan
Mskipun badai topan melanda perasaan
Kasihnya meruahkan cahya kebahagiaan
Dinding kasmaran
Kau hadir ditengah dua perbedaan
Membelah diantara dua peradaban
Dapatkah kau kuhancurkan
Sketsa-sketsa gambaran keindahan
Meluruhkan tulisan-tulisan tangan
Sungguhpun demikian gambaran kesedihan
Adalah bukti kesempurnaan
Layakkah jika kukatakan sempurna
Karna segala yang buruk begitu indah dimata
Tidak kau keliru sayang..!
Karna kasihnya hanya seutas benang
Sungguh tak sepadan..tak sepadan
Kadang perasaan meminta keadilan
Karna keadaan memberikan kebersamaan
Hingga butir airmata meminta jawaban
Sepadankah yang terjadi jika dibalik halusnya kata-kata harus dibalas dengan kekecewaan, rasanya seperti menarik paku baja dari kedua pipiku, seperti tembok raksasa yang menghantam dadaku begitu sesak, nafasku seakan terhenti mengalun, seakan terbendung desir darahku yang mengalir.
Hai..bodoh..!
Bagaimana mungkin dapat kau rengkuh ketentraman dan ketenangan jika jiwamu masih begitu lusuh dan kotor !
Bagaimana mungkin mereka akan datang jika hatimu masih terbalut dendam dan nestapa.
Singsingkan lengan bajumu, ini bukan saatnya meratap duka, hari esok masih panjang lanjutkan perjalanan yang masih tersisa, ayunkan langkahmu penuh kepastian, tinggalkan kisah cintamu bagai sajak usang !
Masih terlalu banyak segala sesuatunya yang menantimu, menanti keputrusan darimu, masih banyak yang harus dikerjakan, masih banyak hal yang lebih penting dari pada hanya sekedar sebuah cinta semu.
Dan jika kau ingin meninggalkan semua yang berbau keduniawian, kau tau kemana kau harus melangkah.
Andai kau mengerti dan faham akan sebuah jawaban, tak perlu lagi kuungkap sebuah tabir dibalik selarik sinar matamu..
Apalah artinya sebuah kata jika tak menyiratkan makna, dan siratan senyum yang tak perlu lagi kukatakan.
Apalah artinya perjuangan dan pengorbanan jika semua haruslah terjadi, aku tak akan menampik apa yang telah kudapat, jangan mencoba untuk saling menyalahkan, dan saling membenci, karna tak sepadan dengan apa yang didapat, hati yang ternoda dapat kubersihkan kembali dan kini aku hanya tinggal menjalani.
Sekulum senyum dalam genggaman melambaikan aroma dalam sejuta diam menyusun kisah dalam catatan langkah-langkah semu, menyamarkan rasa dalam gurauan, memaparkan canda dalam hiasan kata-kata, menekuk wajah dalam kebimbangan, melantunkan cerita dalam simfoni irama malam, melafazkan harapan dalam ratapan kepiluan, menghitung hari dalam buaian kenangan, merunut jalan dalam rona rasa pada batas awal dan akhir kehidupan, membiaskan rona aura penyesalan dalam ungkapan deraian airmata, binar canda dan tawa menjadi buih dalam lautan kesedihan, pilar-pilar keagungan cinta menjadi hambar dalam tangis bisu, buluh perindu perlahan runtuh mencerca kalbu, semakin pudar diterjang batas kerapuhan diri, begitu manis dalam senyuman tapi pahit dikatakan, hanya berawal dari sebuah senyuman menorehkan akhir dalam tangisan penuh dengan penyesalan.
Aku selalu berharap dan meminta
Tak ada dusta diantara kita
Dan saling terbuka
Tapi mengapa kau masih saja menutup mata
Dan berusaha menjaga jarak antara kita
Kutanamkan rasa percaya
Tapi inikah yang kau punya..
Entah hal apa yang menggoda perasaan
Hingga alam fikiranmu Tak berketetapan
Serangkum rasa ragu telah menyapa jiwa
Atau kau takut pada rasa kecewa..!
Kau takut..! apa yang kau takutkan ..!
Kau malu..! apa yang membuat kau dipermalukan..!
Kau kecewa..! hal apa yang membuatmu dikecewakan..!
Kau bimbang..! apa yang membuatmu tak berketetapan..!
Jika kita takut pada kata akhir
Mengapa justru kita awali
Jika telah terlansir getir fakir
Tak perlu lagi kita sesali
Aku tersenyum sejenak dalam kepura-puraan yang terbungkus sopan santun sepintas jalan dalam bayang kelabu, kuhamparkan harapan pada seutas benang, meski aku tau begitu rapuh setidaknya aku pernah menambatkannya untuk sesuatu yang sama sekali tak dapat aku pahami arti kehadirannya. Satu lain hal yang tak dapat kutepis menjadi selimut diri dalam dinginnya senyum penembus tatapan mata penuh makna yang tersimpan dalam gelak canda tawa yang begitu sinis termaktub.
Mencoba menjawab lewat sikap dan tingkah laku tanpa kata-kata, sedikit tersirat dalam mengungkap dendam yang berbalas dengan memutar kejadian hanya untuk mengungkap kata, mencoba untuk menarik jari bersama meski harus menutup malu, mencoba menyatu dalam seyuman meski harus tertunduk dalam kepedihan, mencoba menjaga perasaan meski harus mengorbankan perasaan sendiri.
Aku tak berhak menentukan setiap kehendakku padanya karna aku bukanlah siapa-siapa baginya, bagaimanapun aku tetaplah aku, dan dia tetaplah dia, dan aku juga tak dapat menentukan makna dari makna kita untuk aku maupun untuk dia, karna segalanya serba terbatas, terbelenggu pada berbagai perbedaan yang begitu tajam, hanya sebatas sudut pandang sebagai seorang insan yang tak memiliki hati, benar atau tidak tak akan terjawab.
Namun bagaimanapun, hanya sesaat ketika kita merasakannya sebagai apa adanya, seakan sia-sia apa yang telah dirasakan pada waktu yang bersamaan
lepas dari semua itu akan kembali pada perwatakan dan kepribadian diri sendiri.
Aku tersenyum ketika membaca tulisan-tulisan rapuh yang tertera dihadapanku, sejurus kemudian butiran halus menerpa dadaku melambaikan kesan dalam haru biru yang menusuk kalbu, meski begitu lirih dan pedih, pucuknya secerah mentari pagi, langkahnya selembut rembulan malam, bagaikan bara api dalam genggaman, beningnya embun meretas padang pasir, terserap musnah dalam pangkuan, raib dalam dekapan, sirna dalam senyuman, melarut dalam pelukan, pupus dalam harap tak berdetak.
Simfoni alam menampilkan rasa pesona sang malam,
Suryalaya..perangkum kenikmatan dalam bayang kelabu, begitu tinggi harus terbayar, bukan dengan harga diri atau kehormatan, bukan dengan pengorbanan atau perjuangan, keikhlasan tanpa keinginan, keridhoan tanpa cita-cita, ketenangan tanpa diri, ketentraman tanpa niat, keluhuran tanpa tujuan, suci dalam langkah, murni dalam ketundukan.
Suatu malam
Sesudah lewat bulan mati
Yang susut padamu aku sumringah kembali
Datanglah kepada ian
Bawakan untuknya sekantung asa
Dari rinduku
Sehelai rumput yang bersujud
Setelah lelah menanggungku
Ia tak suci
Tapi ditangisnya aku turut tersedu
Dan dibisik bisunya segala suara
Adalah nyanyian kepadaku
Didalam ranselnya bekalmu kuisi
Dipejam matanya
Jalan-jalanmu akan kusuluh kuterangi
Bawalah ini
Kamu diutus
Kutinggalkan diriku
Kumasuki sebuah pintu sempit
Disisi sayap yang akan membawaku
Aku terangkat
Tidak..! aku hanya melihat diriku luluh
Kedalam sebuah talang cahaya
Ruang mengirab
Aku tak tau lagi siapakah yang ada didalam
Siapakah yang tengah menunggu diluar sana
Kutub ini dingin dan mati
Tapi aku mendengar degup dimana-mana
Bunyi nafas, gelembung darah, air tulang,
Berpadu dalam satu koor yang senyap
Yang tak terukur kata-kata
Tak terukur waktu
Tapi mengikatku dalam satu garis lurus
Dijantung perjalananku
Aku letih sekali ketika mendapatkan diriku kembali
Sebentang samudra
Burung-burung menunda buih dibatasnya
Tak ada matahari
Ada hanya sebatang geretan kayu
Yang juga letih menunda sisa api
Dan siur angin melemah
Dikedap itu juga segala amsal tentang asal
Menjelma layar yang segera akan musnah
Tinggal nir saja
Sebuah kuil tiram
Dimana diri hanya jejak yang hapus
Terkukus air garam
Sementara itu
Tanah terlanjur busuk
Tamu-tamu tak dikenal menyusup
Setiap malam
Setiap orang harus membuang seikat kayu api
Kedalam hatinya
Dan menyulutnya dini hari
Ini adalah musim
Dimana setiap orang harus pasrah memendam mata padi
Yang terluka dibatangnya
Disebuah tahun yang patah
Jejak-jejak menggembung
Serupa kubangan lumpur
Semak-semak menitik darah
Koak gagak dan pekik murai melarung
Dikisi-kisi daun gugur
Amis sekali..!
Tapi tanah terlanjur busuk
Dilorong yang mereka temui
Orang-orang tak pernah ingin mendapat petunjuk
Mereka bahkan tak pernah keluar
Aku terangkan padamu tentang ian
Kamu kira dia menari
Bukan !
dia begitu karna dia tidak mempunyai pijakan
padahal ia sangat berat
dan baju yang ia kenakan
tidak punya badan untuk melekat
kamu kira dia apa !
dia hanya seekor jaran rongsokan
kulit kering yang dipacu
diatas nafsu dan lamunan
ia kira ia keutara
padahal ia keselatan
ia kira ia memberi cinta
padahal yang dibawanya itu
penyakit dan kematian
begitu pula sielang laut, sigayung tua, sirambut jarum
sipalasik, sitinggam api
mereka ini mambang
bayangan kosong dari seutas benang
yang sangat panjang
benang ghaib penciptaan
tapi kamu telah mengasuh mereka
membuat mereka ada dalam ketiadaan mereka
seolah kamu ini tuhan
dari segala yang bernyawa
tidak..sayang..!
kamu ini hanya segumpal darah yang marah
direlung kasihmu seorang lelaki terkunci
hanya karna dia pernah berbuat salah
janganlah begitu
keluarlah sebuah maaf telah menantimu
seperti sepasang matahari
dibalik awan basah
tak diceritakan ada perang
aku meminang..
akan begitulah ian itu, sayangku
terimalah..
airmata tak pernah cukup
kematian bukan satu-satunya jalan
untuk sampai keakar hidup
sudahi semadimu
kita sudah malam
tak perlu lagi membuat sesaji dari sekam
tak perlu lagi api
maka beginilah..hadijahku
aku meminangmu
aku buatkan lagi untukmu seorang ibu
dari nafasku
sawah ladang yang luas
hutan-hutan dari beburung
yang terbang lepas
bila kelak bayi kita lahir
yatim tanpa diriku
atau piatu tanpa dirimu
sebuah kitab akan menjaganya
seorang ayah !
seorang ibu !
dari kasih kita.
RIKI DHAMPARAN PUTRA
Selarik cahaya untuk melintasi jalan
Dipagar duka realita
Merasuk jauh..hambar
Terpasung dalam kata
Adalah waktu syuruk
Termangu diam membisu
Adalah saat senja datang menggoda
Meraup suka menggamit gita cinta
Adalah ketika tiba sang rembulan
Membentangkan tangan dalam kolam harapan
Sejenak kulukis sebuah gambar musykil
Pada raut wajahnya yang mulai kerut
Dengan usia yang mulai senja
Kuhitung helai demi helai rambutnya
Yang sedikit banyak telah memutih
Tiada jua jawaban itu
Yang terharap..
Yang diharap..
Hanya dalam buaian mimpi indah siang hari
Yang sempat terbeli
Walau hanya sekejap mata
Tersimpan rapi dipagar runcing sembilu
Kerikil lengang panas membakar hati
Terpanggang asmara semu
Memburu bayang cinta siang hari
Bagaikan menapak dikerikil tajam
Sakit sudah biasa tapi
Rasa kian menggelora
Memapah kisah pada kata pasrah
Menghampiri diri menghalau hari
Sebulat sinar matanya
Sekuning hatinya
Sebiru hasratnya
Sehitam kebenciannya
Sehijau asmaranya
Dan kini..
Tinggalah putih menanti hari
Dalam sejuta rasa yang tak pasti
Sejuta harap yang tak terberi
Kuning mentari membakar indah bumi hati terpasung pada makna diam, membenci tiap suku kata yang terucap pada bibir manisnya, tapi menebar wangi amis pahit dalam dada.
Asmaramu..
Asmaraku..
Asmara kita..
Terbelenggu pada dendam kisah kasih dua jiwa yang dibuai cinta semu dan kini tiada jua kepedulian itu, tiada jua perhatian itu, seakan kebencian melebihi batas cinta, seakan kekecewaan menutupi setangkup kebahagiaan yang pernah terengkuh bersama, mengapa kau biaskan cahaya cinta dalam dadaku lalu kau padamkan pula.
Selaksa bait puisi dalam peran tak terpikat pada satu untaian judul yang kaku oleh makna langkah tumpul, kini cara itu hanya isapan jempol semata, yang penuh tanda tanya berwarna merah, sampaikan warna itu dihadapanku dan cobalah menuangkan warna yang sama lalu torehkan satu garis putih disisinya, kemudian jangan biarkan berlalu tanpa meninggalkan satu titik renda keemasan pada putih kerah bajunya, dan ucapkan selamat malam.
Hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah bila kau bertemu dengan seseorang lalu kau jatuh cinta dan pada akhirnya kau menyadari bahwa dia bukan jodohmu dan kau telah menyia-nyiakan bertahun-tahun waktumu untuk sesorang yang tak layak. Dan jika sampai saat inipun tak layak atau bahkan sampai sepuluh tahun lagipun tetap tak layak maka biarkan ia pergi dan lupakan.
Cinta menyakitkan bila kita putuskan hubungan dengan seseorang tapi lebih sakit lagi bila seseorang yang memutuskan hubungan dengan kita,tapi cinta lebih menyakitkan bila orang yang kita cintai sama sekali tak mengetahui perasaan kita terhadapnya, hatimu patah melihat orang yang kita cintai berbhagia dengan orang lain, tapi ternyata jauh lebih sakit lagi ketika kita mengetahui bahwa yang kita cintai ternyata tak berbahagia bersama kita,dan lebih menderita lagi ketika kita tau yang kita cintai ternyata tak menaruh harapan apa-apa pada kita.
Berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut apapun,bersiaplah untuk terluka dan menderita tapi jangan simpan sakitmu..! sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya,akan mengiris sedalam kau biarkan tantangannya, bukanlah bagaimana bisa mengatasinya,melainkan apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dan hikmah.
Lupakan semua peristiwa itu,kita harus tetap tegak menyongsong hari depan, kesedihan tak seharusnya diakhiri dengan berputus asa, dunia luar masih sangat begitu indah justru saat seperti inilah kita harus menunjukan keberanian untuk hidup tanpa harus merasa kehilangan,dan yakinlah bahwa suatu saat kita dapat menikmati hidup dalam arti yang sebenarnya,jangan malu mengakui kekalahan, pasrah bukan berarti harus menyerah dengan merusak diri sendiri, jika kita terperangkap suatu kesalahan yang tak mungkin lagi untuk diatasi,lepaskan beban itu !
Dalam hidup orang harus berani melakukan kata hati,memiliki keyakinan dan harus bijaksana,kita harus berani memperjuangkan hak diri sendiri dulu sebelum membela hak orang lain,meskipun banyak yang hilang dari diri kita jangan pernah menyurutkan keberanian untuk hidup lebih baik.
Belum tentu !
Dia yang kita fikirkan belum tentu dia memikirkan kita
Dia yang kita sayang belum tentu dia menyayangi kita
Dia yang kita cinta belum tentu dia menyintai kita
Dia yang kita harapkan belum tentu dia mengharapkan kita
Dia yang kita pedulikan belum tentu dia mempedulikan kita
Dia yang kita perhatikan belum tentu dia memperhatikan kita
Dia yang ada dihati kita belum tentu kita ada dihatinya
Dia yang menjadi bagian dari hidup kita belum tentu kita menjadi bagian dari hidupnya
Dia yang mampu membakar semangat hidup kita belum tentu keberadaan kita adalah semangat hidupnya
Dia yang laksana nafas bagi kehidupan kita belum tentu kita adalah nafas bagi kehidupannya
Dia yang begitu berarti buat kita belum tentu kita berarti baginya
Dia yang kita anggap laksana nyawa bagi kita belum tentu kita adalah nyawa baginya
Dia yang begitu istimewa bagi kita belum tentu kita adalah sesuatu yang istimewa baginya
Kita yang selalau berusaha membuat dia tersenyum dan tertawa belum tentu dia mau berusaha membuat kita tersenyum dan tertawa
Kita yang jujur padanya belum tentu dia jujur pada kita
Kita yang merasa bebas saat disisinya belum tentu dia merasa bebas bersama kita
Kita yang terbuka dengannya belum tentu dia terbuka dengan kita
Kita yang sopan terhadapnya belum tentu dia sopan terhadap kita
Kita yang begitu menghargai dia belum tentu dia menghargai kita
Kita yang begitu menghormati dia belum tentu dia menghormati kita
Kita yang selalau berusaha membuat dia senang dan bahagia belum tentu dia mau berusaha mebuat kita senang dan bahagia
Kita yang selalu menyanjung dan memuji dia belum tentu dia mau untuk menyanjung dan memuji kita
Kita yang menaruh kepercayaan padanya belum tentu diapun mempercayai kita
Kita yang bisa memahami dan mengerti dia belum tentu dia bisa memahami dan mengerti kita
Kita yang merasa bahagia dan damai saat bersamanya belum tentu dia bahagia dan damai bersama kita
Kita yang selalu ceria saat bersamanya belum tentu dia ceria dan penuh suka bersama kita
Kita yang datang padanya dengan harapan dan cita-cita belum tentu dia datang membawakan harapan pada kita
Kita yang merasa bangga bersanding dengannya belum tentu diapun bangga bersanding dengan kita
Kita yang setia padanya belum tentu dia setia pada kita.
Sadarilah ! inilah dunia.
Malam telah larut nak..!
Lihtlah diatas sana.. menanti hadirmu..! seseorang yang yang memiliki ragam warna hati pada sayap-sayap jiwanya, terbang dengan kemegahan rahmat dan karunia-Nya, perjalanan diluar dunia diluar alam, diluar daging dan kata-kata, tidakkah kau lihat seutas tali langit telah menghampirimu, raihlah ia dan pergilah.. pergilah..!
Hampiri takdirmu.. hampiri suratan nasibmu.. hampiri kenyataan diri.. hampiri kalam dirimu.. hampirilah..!
Datanglah sebagai insan..
Datanglah sebagai makhluk..
Datanglah sebagai manusia..
Datanglah dengan ridho dan diridhoi
Bawakan cahaya iman
Bawakan dengan putihnya hati
Bawakan dengan sucinya jiwa
Bawakan dengan ketundukan
Bawakan jubah kebesaran dan kemegahanmu
Dihadapannya menjuralah.. menjuralah..!
Lihatlah kehidupan dibawah sana, mereka yang centang perenang, satu kebanggaan mereka tertutup oleh ambisi, nafsu dan keserakahan, ingatkah kau, siapakah kau !
Kau telah memasuki kerajaan atas langit, kau telah menerobos dunia bawah, kau telah melewati konstelasi tujuh alam dalam satu malam, bukankah sama dengan melakukan perjalanan jutaan tahun.
Bukankah telah kuberikan kau kemegahan kebesaran, keagungan diatas makhluk lain, kuberikan kau derajat yang tinggi diatas makhluk yang lain, kuberikan kau kelebihan yang tak dimiliki oleh satu makhlukpun didunia ini hingga dunia dan seisinya berada dalam genggamanmu, bukankah telah kutundukan semua itu untukmu ?
Tapi kau telah dirapuhkan oleh satu bentuk dan satu nafsu, kau telah jatuh kelumpur kehinaan, oleh satu nafas, kau telah terjerumus kedalam kenistaan oleh satu kata manis, kau gadaikan semua keagunganmu hanya untuk sebuah ambisi dan satu hasrat, setelah kau gagal.. kau sesali.. kau ratapi.. kau meraung.. kau tangisi kebodohanmu dan bahkan kau sesali kebaikan yang telah kau curahkan.
Lihatlah iblis tertawa terbahak-bahak, setanpun tersenyum puas atas kemenangannya terhadap dirimu, atas kelengahanmu..!
Kau tidurkan dirimu, diri yang satu terhadap diri yang lain.. bangunlah..!
Saatnya mencuci diri..!
Saatnya membasuh muka..!
Saatnya menutup telinga..!
Saatnya membatasi langkah..!
Saatnya mengurung hasrat..!
Saatnya bercermin diri..!
Saatnya bersalin diri..!
Saatnya menutup diri..!
Saatnya menutup pintu hati..!
Saatnya menutup mata akalmu.. !
Nak..!
Begitu banyak kisah yang belum terjadi, dan tentunya akan terjadi, semua telah menjadi satu ketetapan yang tak akan berubah ataupun diganti.
Nak..!
Semua kisah dalam perjalanan kehidupan ini akan berulang, tak ubahnya seperti sebuah roda pedati, kadang diatas kadang dibawah..!
Nak..!
Perjuangan dan pengorbanan sudah pasti dituntut, bagi mereka yang hidup dan dihidupkan, dari satu generasi kegenerasi berikutnya.
Satu hal yang patut kau garis bawahi, bahwa Tuhan hanya memberikan dua jalan satu jalan menuju kebaikan dan lainnya menuju kesesatan seperti telah kau ketahui jalan kebaikan akan memberikan kau ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, kedamaian dan bukankah syurga adalah tujuan akhirnya, sedangkan jalan kesesatan hanya memberikan kau pada hal yang merugikanmu, dan bukankah nerakalah tujuan akhirnya.
Dan ingatlah dua jalan itu sepenuhnya kita yang harus menentukan akan langkah kita dijalan mana akan kita tempuh, kitalah yang menentukan jalan kita sendiri bukan Tuhan.
Para nabi, alim ulama, orang-orang baik dan bijak mereka hanya membantu mengarahkan kejalan yang benar, dan pada akhirnya kitalah yang akan menorehkan garis nasib kita sendiri, bukan siapa-siapa, sanak saudara, orang tua tidak berhak menentukan hidup kita.
Namun demikian hendaklah kita memegang teguh pada kekuasaan dan kehendak Tuhan, Dia memegang teguh hak prerogatif atas tiap makhluknya, dan sudah sepatutnya kita menyandarkan harapan pada-Nya. dan ingatlah kesadaran-kesadaran seperti ini terkadang memerlukan pemahaman yang tidak lazim dan tingkat kesadaranpun harus disadari kehadirannya, diri yang satu menjadi bagian dari diri yang lain, dan berusahalah untuk mengenalnya lebih jauh, jika kau mengenal dirimu maka kau mengenal siapa Tuhanmu.
Tundukan kepalamu atau kau akan menyesal seumur hidupmu tanpa mendapatkan apa-apa dengan kehampaan, dengan ratapan dan tangisan yang tak ada habis-habisnya kau ratapi dan kau sesali.
Lihatlah pusaka yang tergantung dilangit ketujuh, lemparkan bonekamu bagai sampah yang tak berguna, putar haluan arahkan hanya pada Yang satu, jangan palingkan wajahmu ingat.. bukankah ia telah merobek jubahmu.. jangan kau tambal agar kau tau apa yang telah dilakukannya terhadapmu, terhadap hati dan jiwamu, perasaanmu..!
Kau laki-laki jangan sematkan anting-anting ditelingamu, kau bukan perempuan..!
Jangan biarkan dirimu tenggelam, larut.. hanyut melayang-layang dalam nikmat dosa berwajah kasih sayang sebelum akhirnya kau terpuruk tumbang sebagai pecundang.
Lihatlah masih banyak keindahan yang lebih menjanjikan, dengan kebahagiaan yang tak dapat kau lukiskan dengan apapun..
Dunia ini bukan tempatmu..!
Dunia ini bukan asalmu..!
Dunia ini bukan takdrmu..!
Dunia ini bukan untukmu..!
Dunia ini bukan harapanmu..!
Dunia ini hanya permainan..!
Dunia ini hanya kefanaan..!
Disanalah duniamu..!
Dunia itu adalah asalmu..!
Dunia itu adalah takdirmu..!
Pergilah..dan hampirilah..!
Tinggalkan dunia ini,tiada kebaikan didalamnya.
Tinggalkan ia..!
Pada-Nya keputusan kupasrahkan
Pada-Nya tali harapan kutambatkan
Pada-Nya cita-cita cinta kusimpuhkan
Pada-Nya jiwa raga kutitipkan
Pada-Nya tangis bisu kuderaikan
Pada-Nya perlindungan kuserahkan
Pada-Nya kubersimpuh dan memohon ampunan.
Dosa dan fitrah
Apa yang kau tau tentang dosa ?
Sesuatu yang apabila terungkap akan membuat kita merasa malu dan takut untuk mengakuinya lalu berusaha untuk menutupi dan menyembunyikannya itukah dosa menurutmu !
Pada saat kau berdusta merasa bersalahkah kau ?
Pada saat kau melihat sesuatu yang membakar nafsumu merasa bersalahkah kau ?
Pada saat kau mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain, sadar dan merasa bersalahkah kau ?
Lalu bagaimana bila kesalahan demi kesalahan yang kita lakukan sudah menjadi suatu kebiasaan dan tak lagi menggugah hati kita untuk kembali kepada fitrah kita sebagai insan ?
Kemanapun kita mencari kesenangan, hasrat tetaplah hasrat tak dapat dihempas oleh badai dan gelombang, berpaling itu mudah tapi tak melupakan dan percayalah pada sebuah kejujuran, ketika permainan berakhir jangan meyakini bahwa dunia tak akan berubah kembali lanjutkan perjalanan hidup dari sebuah dunia yang paralel.
Ketika usai perjalanan dan sayap telah terlipat
Menghembuskan nafas kepuasan dan terbayang segala apa yag telah berlalu.
Senyum tawa dan airmata
Menjadi satu dibawah roman muka
Seribu penyesalan seribu kepuasan
Bercampur dibalik wajah yang memerah
Berharap keabadian datang
Ditengah rasa kebahagiaan
Bukan malu dihadapan insan
Tapi malu dihadapan sang Tuan..
Bukan menawar takdir
Tapi setitik jawaban dari perjalanan
Mencari batas antara kebodohan dan kebaikan.
Kau kira dia apa !
Dia hanya seekor jaran rongsokan
Yang dipacu nafsu dan lamunan
Dia kira telah memberi cinta
Padahal yang diberikannya
Adalah penyakit dan kematian
Apa yang tampak hanya saturasi dalam pasir tak berlapis
Dikaki langit perawan-perawan menunjukan dada-dada perak
Berkasut mimpi,.
Sementara kaki sang langit menjejak dada samudra
Hingga terpekik gelombang datar
Sejenak ilalang tersenyum dipunggung bumi
Melantunkan senandung rindu
Air kehidupan turun dengan deras
Langit menangis rembulan bersedih
Bintang redup
Mentari bersembunyi menahan malu
Tatkala melihat kotornya comberan hati
Kerap berusaha mencari sepasang tangan-tangan suci
Untuk membersihkannya
Dalam kekalutan dan ratapan
Selarik pelangi hadir ditengah relung jiwa
Dibalik puing-puing kehancuran hati
Tali pengikat jiwa membawakan senyum
Penebar maut
Dan angin membawa kabar berita
Sang camar mendekat dianjungan kapal
Jangan halau mereka, biarkan..
Biarkan mereka datang membawa kehidupan
Jangan usir mereka
Jangan biarkan lidahmu bermain ditengah lautan
Hempaskan pada dada bidang jiwa-jiwa sejati
Karna waktunya telah tiba.
Bandara telah meretakan harapan
Yang bertiup pada akhir sebuah musim
Aku biarkan kenyataan menjauh dari pelukanku
Sementara tangis bisuku telah menafsirkan luka
Dalam dekapanmu yang kemarau
Aku tak paham, mungkin kau lupa untuk menangis
Aku tak pernah menyesali
Apa yang telah menjadi suatu keputusan
Segala rupa yang teringat, hati dan perasaan
Terkungkum dibawah sandaran pangkuan bumi
Aku tak memilih rupa atau hati yang berada
Dihadapanku untuk kubuai
Namun kumerasa ragu akan rupa dan hati itu sendiri
Mengapa kau bertanya
Apakah kau mengerti akan sebuah jawaban.
Ketika rebahku diantara bibir gelas yang kau reguk
Aku merasa asing akan air yang kuminum
Aku merasa sauhku terdampar ditepi sungai nan lalu
Aku merasa asing akan keberadaanku
Aku tak tau apa yang hendak kulakukan
Kau yang mengajarkan aku cinta
Dan kau juga yang mengajarkan aku rindu
Aku coba membuka tabir akan kasih sayang
Hanya untukmu..ya..hanya untukmu..!
Kau telah membuatku melupakan dunia yang kugenggam
Aku tak mampu berkata
Apa yang dapat kulakukan untuk dapat membahagiakanmu
Namun aku tak tau akan hatimu yang sesungguhnya
Mengapa aku merasa ragu dan bimbang
Dan kini keraguanku
Berada disisi kuku-kuku yang kugenggam
Tolong berikan aku jawaban
Atas semua resahku..?
Sekalipun aku telah bertemu denganmu, namun aku tetap merindukanmu entah bagaimana aku menjelaskan tentang semua ini, aku tak tau apa yang harus aku lakukan untuk selalu didekatmu.
Terlalu jauh kita menjalin hubungan, terlalu dalam kita menjalin rindu, beribu-ribu alasan terus memenuhi ruang fikiranku, rasanya telah habis terkuras seluruh alasan dan sebab, ya.. hari esok adalah hari kita.. dunia ada dalam genggaman tangan-tangan suci kita, setuju atau tidak tak perlu kau jawab, sebab hati dan perasaan tak akan berdusta.
Sekantung asa segenggam rasa terselip disaku baju
Tak ada yang tau, namun senyum simpul yang menyeringai
Membuka makna rona wajah
Menyingkap tabir selarik sinar mata
Menguak rahasia diri
Yang tertutup tutur sapa nan lugu
Namun penuh lantunan lagu nan merdu
Sembilan sukma, satu jiwa, satu tubuh, satu nafsu
Terangkum ditengah hati dan fikiran
Rusak luluh lantak tak tersisa
Kini.. apa yang dapat kulakukan
Apa yang dapat kubanggakan
Apa yang dapat kukagumi
Padanya..
Darinya..
Satu bait memberikan nuansa sendu
Namun malu sang fajar
Meronakan gelap alam semesta
Tanpa ragu, kerah bajunya terlipat diujung dagu
Mengikat resah dalam paraunya perjalanan
Membayang rancu dalam kebimbangan
Karna satu garis lurus mewujud dibawah telapak tangan
Membiru roman mula
Membias sikap dalam baris tiga buah bintang
Begitu tajam dalam langkah
Mencucuk jari pada batas kelangkaan judul
Menjejak lipatan putih akan rupa tak nyata
Kesan-kesan yang terukir
Melaju diam..merujuk kisah..
Meronakan hati dalam senyum yang berputar
Dibawah dagu penafsir luka
Dalamnya telinga, penembus haru
Pada derap pelantun irama sendu
Menghias pada bilur-bilur goresan takdir
Begitu ringkih pada sikap yang manja
Cambuk kenangan merejam dada
Menampar jiwa-jiwa tak kentara
Menantang batasan garis nasib
Rona wajah dalam keluhuran budi
Tertutup tabir emosi sesaat
Tameng yang meretas alur
Terbentur pada bentuk dan nafsu
Yang tersimpan dalam dada
Sulur sang fajar bagaikan bara neraka
Menghujam nalar dalam fikiran picik
Menghantam dalam getaran jiwa-jiwa halus
Begitu rapat menghimpit tubuh
Kaku dan beku..
Tak kuasa mengingat
Sehelai rambut keindahan yang menjerat kalbu
Raib dalam genggaman.
Uhruz..uhruz..!
Keluarlah wahai mutiara hati
Biaskan cahayamu, disegenap penjuru rusuk
Reguk sejenak..
Rengkuh sekejap..
Jalan itu hanya berputar pada lingkaran buta
Putuskan tali fikiran
Lepaskan buhul pada tiang penyangga kaki langit
Eratkan menjadi satu untaian yang tak terhitung
Perlahan jangan kau biarkan
Tapi ikat dalam pusara gelombang laut
Lihatlah ujungnya..
Kemana kepala itu menghadap
Jika ia tertunduk teriaklah..!
Teriaklah..!
Bahanakan suara penyeru
Berserulah dengan lantang
Sertakan kalam dirimu
Menuju lambung langit yang terbuka
Hamparkan permadani yang tertera pada tujuh lapis diri
Sapukan dadamu dengan airmata
Cuci hatimu dengan ketulusan tanpa harapan
Tegakkan jiwamu dalam dekapan sang Penata alam
Kini..
Rebahku dalam ketenangan
Rebahku dalam ketentraman
Rebahku dalam keridhoan
Aku ingin pulang..!
Cinta dalam kemasan diberikan dan dijual dengan harga yang mutlak tak dapat ditawar, terbungkus begitu rapi dengan warna, rasa dan aroma yang menggiurkan dengan label yang menjanjikan, dengan ciri dan khas yang begitu mendetail penuh kelebihan yang mengagumkan, tak dapat dicicip dan jika sudah terbeli pantang untuk ditukar.
Demi Tuhan wahai teruna-teruni, apakah cinta adalah sesuatu yang layak untuk diperjual belikan..? apakah cinta adalah sesuatu yang memiliki harga mutlak untuk ditawar dan saling menawar..?
Inikah yang disebut dengan fenomena..?
Kau keliru kawan.. cinta memerlukan pengorbanan, dimana perjuanganmu. dimana kedewasaanmu, dimana matamu..? apakah dunia telah membutakan kedua matamu ? dimana hatimu..? kau katakan cinta dan sayang dari lubuk hatimu..!
Pantaskah kau katakan itu..!
Layakkah kau ucapkan itu..!
Dimana kejujuranmu jika cintamu sebatas itu..!
Hari ini.. apa yang ada dibenakmu wahai anak muda..!
Apa yang ada dalam hatimu hai anak muda..!
Apa yang ada dalam jiwa-jiwa kusutmu..!
Apa yang kau rencanakan untuk sebuah hari, untuk sebuah malam, dan apa yang lebih baik dari pada dada seorang anak muda, wahai anak muda..!
aku bertanya bukan untuk ditanya..!
apakah setiap pernyataan adalah pertanyaan..! atau
Apakah setiap pertanyaan adalah pernyataan..!
jika hari telah berlalu apa yang telah kau dapatkan.!
Jika malam telah berlalu apa yang kau dapatkan..!
Ketika senja telah tiba apa yang kau lepaskan..!
Ketika pagi telah tiba apa yang kau takutkan..!
Hari demi hari terlewati tanpa sapaan dan tanpa basa-basi
Hari demi hari hanya mematri diam membisu
Lihatlah diatas sana mentari begitu senang dan bangganya membakar hari meskipun terkadang tertutup awan hitam, dari hari kehari tak ubahnya seperti bocah yang mengayuh roda-roda kehidupan, tak pernahkah kau berfikir hal apa yang bisa menjadikan sebuah hari menjadi begitu istimewa ditengah kejenuhan dan kepenatan rutinitas !
Apa yang bisa menjadikan hari begitu membanggakan ditengah kesibukan !
Apa yang bisa menjadikan hari begitu menyedihkan !
Apa yang menjadikan hari penuh dengan penyesalan !
Bagaimana kau akan menggambarkan lautan yang menangis ?
Dengan apa kau dapat melukiskan rembulan yang menangis ?
Dengan warna apa kau dapat menorehkan aroma rasa ?
coba kau perhatikan apa warna kentutmu wahai anak muda ?
bening diatas bening atau bening didalam bening ?
kau tak dapat melihatnya, tapi dia ada dan dapat kau rasakan bukan ?
Kini saatnya menarik diri dari kehampaan
Turunlah, tunjukan dadamu !
Turunlah, tunjukan dirimu..!
Turunlah, tunjukan hatimu..!
Turunlah, tunjukan jiwamu..!
ketika kau angkat kepalamu jangn lupa pembaringan tanah merah
Ketika kau genggam tanganmu jangan lupa tempat kau berpijak.
6 juni 2006
seminggu yang lalu aku datang bertandang dan seperti biasa aku berbicara panjang lebar tentu saja masih seputar masalah kami berdua tentang masa depan kami namun tetap tak menemukan jalan keluarnya selepas kami saling memeluk dan bercumbu aku duduk diserambi disisinya, sempat aku ajukan pertanyaan
“jika suatu saat kelak kau dijodohkan orang tuamu dengan seseorang apakah kau akan menerimanya ?”
“Ya.. aku pasti menerimanya, dan aku akan menikah dengannya ? karna kita tau tak ada kebaikan untuk kita berdua jika kelak kita bersatu !”
”Ya.. kau benar ! terimalah dia dan jangan kamu pedulikan aku, aku rela demi kebahagiaanmu..!
“bukan begitu sayang, aku harus memikirkan juga masa depan dan keluargaku aku ingin aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku dan keluargaku !”
”karna itulah, demi kebahagiaanmu, demi kebahagiaan orangtua dan keluargamu, aku minta kamu lupakan aku, mulai dari saat ini, dan hari ini adalah hari terakhir kita bisa bertemu, dan aku minta kamu untuk tidak berhubungan lagi dengan aku, tidak menelpon aku, tidak sms, dan tidak berusaha untuk mencoba mencari kabar tentang kita masing-masing !”
“tidak ian, aku tidak bisa tanpamu aku tak mau !”
sambil memeluk dan berurai airmata kau ucapkan itu, dengan lantang dan tegas
“aku tanya sekali lagi, kamu mau hubungan kita berakhir sampai disini dengan semua ketentuannya ?”
”tidak.. sayang aku tidak bisa, aku tidak mau berpisah denganmu..!”
“lalu aku harus bagaimana aku lamar kamu, kamu tidak mau, aku akhiri kamu tidak mau, sampai aku relakan harus seperti inipun kamu tidak mau aku harus bagaimana lis..?
apa aku harus membiarkanmu dan menyaksikanmu menikah dengan orang lain sementara aku tetap berada disisimu, dan akan kau jadikan aku sebagai apa, sementara kau telah bersuami aku takut aku tak sanggup menahan semua gejolak rasa dihati ini, bukankah kamu sudah tau bagaimana aku pernah dikecewakan sebelum ini, sebelum hal itu terulang lagi lebih baik aku pergi, sebelum kejadian itu akan menyayat hatiku jauh lebih baik jika aku pergi darimu, lebih baik sakit sekarang daripada nanti aku lebih menderita menyaksikan kau bersanding dengan orang lain, sadarkah kau !”
”tapi aku benar-benar tidak bisa ian !”
”baik kalau begitu, kita coba untuk tak saling bertemu satu sama lain tak saling menyapa, tak saling berkomunikasi, sekalipun itu hanya sebuah sms, kita coba selama satu bulan kedepan, kamu setuju ? dan harus setuju ?”
“baik ian.. jika itu kehendakmu, kita coba..!
Enam juni aku merasakan, benar-benar kehilanganmu bagaimanapun aku deraikan airmata ini tak mampu mengusir kekecewaaan dalam dada, kucoba untuk tak putus asa dalam menentukan sikapku, kucoba menerima kenyataan pahit yang akan segera terjadi, sakit dalam dada ini begitu menyayat kalbuku untuk sejenak aku membencinya, ya bukan membenci dirinya tapi aku benci akan sifat-sifatnya.
Senin 16 oktober 2006
Hari ini aku bertekad untuk tak menemuinya ya,, aku kecewa..
Kemana langkahku berjalan selalu meninggalkan jejak berdarah merah
Jalan itu serupa potret tua hitam putih yang dalam keusangannya selalu menampilkan kenangan yang tak pernah pudar. terkadang semua mengecewakan karna tak selamanya jawaban yang kita terima adalah jawaban yang kita inginkan.
Kecuali jika kita bertanya pada Tuhan tak akan ada jawaban yang mengecewakan.
Dia selalu mengatakan “cintaku penuh untukmu” berkali kali seakan dalam maknanya menampilkan keraguan yang mendalam pada cintaku, aku tak tau sementara dia masih saja berusaha untuk menduakan cintaku entah apa makna cintanya padaku akan kuceritakan kisah ini selepas aku merasa mampu untuk mengisahkannya karna saat ini aku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini, bahkan sampai saat ini 17 oktober 2006 aku masih merasa terdampar atas perlakuaannya padaku..
Kosong tepi jalan saat kau memilih taman yang lebih teduh dari diriku
Menggigil batu-batu
Debu-debu kaku
Darah berkhianat
Mata candu
Hari berkanvas gelap
Horison pecah
Menumpahkan tanah, api dan warna abu-abu
Menjamah warna
Membayang rebah
berdiri disitu
Tak terusik
Tak sampai tangan
Tinggal tubuh dingin mengisak
Bukankah langit telah robek waktu itu
Kau memetik doa dari tampuk yang lantas layu
Dadaku tak cukup mengangkasa menanggung dunia
Namamu menggeletar syair-syair rindu
Kuusap dinding kosong
Kosong seutuh wajahmu
Kuseka kecewa berleleh ditepi mata
Berlari tak sampai menunggu
Tak kunjung datang
Dimanakah wajahmu
Aku terbenam dilaguna jasad menggembung
Sejarah selalu saja menorehkan darah dan airmata sementara
Sejarah luka selalu berderak dan bersipongah pada kisah yang dikuburkan
Entah dimana serpihan itu kini ditumpangkan.
Tapi masih kubungkukkan kepala
Sebagai isyarat luka yang tetap membekas pada wajahku
Tapi masih kucari secelah retak dalam diriku
Tempat aksara membeku terkunci.
Sajak itu tak lagi seindah dulu
Kisah itu tak lagi seindah dulu
Rasa itu tak lagi seindah dulu
Jingga hari ini tak sejingga hari itu
Tidakkah mentari hari ini adalah mentari hari itu ?
Lalu apanya yang berubah ?
Warna dirimu..
Warna cintamu..
Warna kasihmu..
Warna sayangmu..
Warna sikapmu..
Warna matamu..
Warna wajahmu..
Tak seperti yang kukenal dulu
Begitu indah seindah cinta kasihmu
Yang tercurah padaku waktu itu
Tapi kini semua telah berubah
Dan mungkin akan segera berlalu.
Suatu ketika kau katakan..
“ian, aku haus..!
“kau haus sayang ! kamu mau minum apa, teh manis jus atau susu atau kopi atau barangkali ada yang lain ?
“aku mau minum teh manis !”
maka secepat mungkin aku berlari membeli gula dan teh, dan secepat kilat aku kembali lalu kurebus air dengan sabar aku tunggu hingga mendidih, sementara aku siapkan gula dan teh dalam gelas besar, setelah air mendidih aku tuangkan setengah air panas aku aduk hinga merata lalu aku tuangkan setengah air dingin agar lekas dapat kau minum dengan hangat, puaskah kau aku tak tau !
suatu ketika kau katakan
“ian, aku lapar !”
”kamu lapar sayang ! kamu mau makan apa !
“aku mau makan mie !”
secepat kilat aku pergi membeli mie dan telur dan secepat itu pula aku kembali merebus air, aku tunggu dengan sabar hingga air mendidih, lalu aku tuangkan telur dan mie hingga matang, aku siapkan bumbunya lalu aku hidangkan untukmu seorang hanya untukmu, puaskah kau, aku tak tau !
suatu ketika kau katakan
“ian, aku sakit !
“kamu sakit apa sayang ! ayo kita kedokter dan berobat !
secepat kilat kuantar kau kedokter aku tak peduli ada apa halangan kelak dijalan
puaskah kau, aku tak tau !
suatu ketika kau katakan
“ian, aku haus !
“kamu haus sayang, kamu mau minum apa !
“aku mau minum jus alpukat !”
secepat kilat aku pergi mencari alpukat lalu aku hidangkan untukmu, hanya untukmu, puaskah kau, aku tak tau !
dilain waktu kau katakan dengan nada yang tinggi
“IAN, AKU HAUS !”
“apa kamu haus, apakah selama ini aku tak pernah memberi kamu minum !
apakah selama ini kamu tak pernah puas dengan apa yang aku hidangkan untukmu !
lalu apa jawabmu, kau katakan
“minum yang kau berikan terlalu kental dan manis untukku, makanan yang kau hidangkan untukku terlalu asin dilidahku, terlalu pahit !”
mengapa baru kau katakan semua itu sekarang, mengapa tidak dari saat aku hidangkan untukmu hingga aku tau apa yang kurang, mengapa kau tak jujur padaku selama ini!
Kau tutupi segala kekuranganku kau sembunyikan segala kelemahanku selama ini
apa maksudmu aku tak mengerti.
Taukah kau setiap kali aku datang padamu sering kali kau buat aku menetakkan rasa hatiku yang memaksa aku untuk menarik nafas panjang, suatu ketika kau katakan cintamu penuh untukku betapa kau sayang padaku, betapa kata-kata itu sangat membuat aku bahagia namun disela kata-kata itu kau katakan juga agar aku pergi darimu untuk mencari hati yang lain untuk mencari cinta yang lain, betapa kata-kata itu menyiksa hatiku suatu ketika kau robek jubah kerinduanku dilain waktu kau tambal dan kau jahit ia, lalu kau robek lagi kemudian kau jahit lagi entah sudah berapa kali kau robek dan kau jahit apakah tidak pernah kau bayangkan yang kau lakukan itu adalah hati dan jiwaku bukan bahan atau kain, hati dan jiwaku bukanlah sesuatu yang bisa kau robek dan kau tambal sulam sekehendak hatimu, aku ini, apa bagimu ?
Aku tau apa yang terbaik untukku, aku tau apa yang terbaik untukmu dan aku tau apa yang terbaik untuk kita, apakah selama ini aku membelenggu kamu untuk mengekang kebebasan kamu bergaul ? apakah selama ini aku melarang kamu untuk meraih kebahagiaanmu ? apakah selama ini aku memaksakan kehendakku padamu ? bukankah kau kuberikan kebebasan untuk memilih yang terbaik untukmu, aku persilahkan ! dan aku rela untuk kebahagiaan hidupmu !
Entah mengapa aku tak mengerti sikap dan kelakuanmu padaku membuat aku tak bisa berbuat apa-apa, membuat aku tertunduk malu, membuat aku semakin terhina !
Kau rengkuh harga diriku, kehormatanku, kau robek jubah keagunganku, sementara aku masih menjaga baik harga diri dan kehormatanmu dan setelah aku berikan semua yang kupunya padamu lalu kini kau suruh aku mencari cinta yang lain, pernahkah kau bayangkan ?
Aku harus bagaimana ?
Kau suruh aku untuk disiplin
Tapi kau mengajarkan yang lain
Kau suruh aku untuk bersabar
Tapi sikap dan kelakuanmu semakin datar
Aku harus bagaimana ?
Kau suruh aku mencoba untuk mengerti
Tapi sikap dan tingkahmu semakin tak kumengerti
Kau suruh aku untuk bijaksana
Tapi kau membuat aku semakin terhina
Aku harus bagaimana ?
Kau suruh aku untuk tabah
Tapi kau membuat aku semakin lelah
Kau suruh aku untuk diam
Tapi kau sendiri berlaku tak tentram
Kau ini bagaimana ?
Kau suruh aku untuk pergi
Dilain waktu kau bilang sepi
Kau ini bagaimmana ?
Kau suruh aku untuk tidak kelain hati
Tapi kau sendiri membuka pintu hati
Kau ini bagimana ?
Kau suruh aku membuatmu bahagia
Tapi kau membuat hatiku terluka
Kau suruh aku menepati janji
Tapi kau mengingkari janji
Aku harus bagaimana ?
Kau suruh aku tetap setia
Tapi kau buat api cemburu membakar jiwa
Kau suruh aku memberikan apa yang kupunya
Tapi kau tak memberikn apa yang kupinta
Kau ini bagaimana ?
Suatu ketika kau katakan Ya..
Dilain waktu kau katakan Tidak
Suatu ketika kau minta aku untuk pergi
Dilain waktu kau undang aku untuk datang
Aku harus bagaimana ?
Suatu ketika kau ingin agar aku melupakanmu
Dilain waktu kau katakan kau rindu
Suatu ketika kau minta aku untuk datang
Dilain waktu kau membuat aku semakin terbuang
Kau ini bagaimana ?
Suatu ketika kau ingin agar aku membagi kasih sayang
Dilain waktu kau buat aku semakin bimbang
Suatu ketika kau ingin agar aku memberi perhatian
Dilain waktu kau buiat aku terasingkan
Aku harus bagaimana ?
Suatu ketika kau katakan hatimu penuh krinduan
Dilain waktu kau buat aku diacuhkan
Suatu ketika kau buat aku untuk mengalah
Dilain waktu kau katakan aku salah
Kau ini bagaimana ?
Suatu ketika rasa rindu membuat dadamu terasa terbelah
Dilain waktu kau katakan cukup sudah
Kau sering kali membuat ulah
Kau suruh aku untuk diam aku akan diam..
Kau suruh aku untuk pergi,aku akan pergi..
Masih ingatkah kau..ketika..
Aku bawakan bunga kau bilang hati
Aku bawakan resah kau bilang hanya
Aku bawakan mimpi kau bilang meski
Aku bawakan bangga kau bilang madu
Aku bawakan mayat kau bilang hampir
Aku bawakan air kau bilang laut
Aku bawakan asal kau bilang sesal
Aku bawakan diri kau bilang bukti
Aku bawakan diam kau bilang sakit
Aku bawakan senyum kau bilang terkulum
Aku bawakan langkah kau bilang lelah
Aku bawakan janji kau bilang kejam
Aku bawakan manis kau bilang menangis
Dan tanpa apa-apa.
aku tak tau harus bagaimana lagi terhadapmu !
kau laksana bayangan bagiku ada dan nyata tapi tak dapat kuraih terlihat dan nampak jelas dimata begitu indah tapi tak dapat terjangkau tangan, bertahun-tahun kucoba meraihmu tapi apalah dayaku kau tetap tak terengkuh, sementara begitu banyak orang mentertawakan atas apa yang kulakukan selama dua tahun terakhir ya, aku terus disibukkan mengejar bayang dirimu, betapa bodohnya aku.
Hari ini sekelam waktu itu yang terus diburu kekecewaan terhadap dirimu aku tak tau mengapa terasa begitu menyiksa hatiku membayangkan kau ada dipelukan orang lain membayangkan kau bercumbu dengan orang lain rasa hatiku begitu tersayat-sayat sembilu entah mungkin kau senang melakukan semua itu sebagai isyarat luka hatimu terhadapku tiada mengapa aku rela demi cinta aku berkorban, untuk kebahagiaanmu namun jangan kiranya kau terima dia sebagai balas dendam atau keterpaksaan atas kekecewaanmu terhadapku, mungkin aku tak bisa melakukan hal yang sama seperti apa yang kau lakukan terhadapku karna rasanya begitu menyakitkan aku tak akan bisa menari-nari diatas penderitaan orang lain, aku tak mau menerima cinta seseorang jika dia telah memiliki seseorang yang mencintainya, telah aku rasakan bagaimana rasanya jika seseorang yang kita cintai jatuh kepangkuan orang lain, ya.. menyakitkan penuh kekecewaan dalam dada, seakan terjadi pengkhianatan cinta, aku tak mau apa yang kurasakan akan terjadi pada orang lain belum tentu mereka bisa menahan gejolak rasa itu semoga kebaikan senantiasa menaungi diantara kita.
Minggu 15 oktober 2006
Seminggu sebelum akhir bulan puasa kita jalan bersama seperti tahun-tahun yang lalu sepotong baju dan celana panjang bekal hari itu namun siang itu kedatanganku seperti tak diharapkan karna kami sama-sama lelah menjelang sore baru kami melangkah tak lama kami belanja sebelum adzan maghrib berkumandang kami tiba dikost, dan berbuka bersama meski bahagia namun ada sesuatu yang terasa kurang entah apa kami tak tau,selepas sholat magrib kami mulai berbincang-bincang tentang apa saja, tapi malam itu kami tak melakukan apa-apa tak saling bercumbu dan memeluk, aku biarkan semua berlalu sehari kemudian kami saling mengutarakan perasaan hati masing-masing, ada satu hal yang mengganggu suasana hatiku aku sempat membaca pesan singkat dari hpnya dari seseorang yang menaruh hati padanya dan ia membalas pesan itu dengan memberi harapan padanya dan tentu rasa hatiku begitu kacau tatkala membaca semua itu bagimanapun aku harus mencoba menerima kenyataan ini demi kebahagiaan dia.
Selama satu minggu ini aku berjanji pada diriku sendiri, jika sampai hari jumat nanti dia tidak memberi kabar untukku atau meminta aku untuk datang padanya maka aku bertekad untuk datang lagi padanya selamanya.. menjelang detik-deatik terakhir tak kusangka ketika hampir aku putus asa menunggu kabar darinya dan ketika kepasrahan hadir diruang jiwaku tak kusangka dia mengirimkan pesan singkatnya untuk meminta aku datang seketika kebahagiaan meruah dalam dadaku namun bagaimanapun aku tak dapat menyembunyikan kebingunganku malam itu aku datang padanya dengan diam..
Dan akhirnya kami mulai bercengkrama kembali bercanda dan bersenda gurau seperti biasa dan malam itupun kami bercumbu dan saling memeluk dan tak kusangka dia melakukan sesuatu yang berbeda membuat aku terlena dalam amuk rasa yang menggelora, sejurus kemudian aku pulang dan sempat kami berbincang sampai jauh malam sambil melepas lelah, selesai sudah malam itu dengan berjuta rasa yang menggelora dalam dada penuh rasa penasaran dan hasrat yang terpendam tak terlampiaskan dan kami berjanji esok untuk pergi lagi.
Keeoskan harinya jam setengah satu aku datang padahal jam sebelas dia sudah meminta aku untuk dating, namun cuaca tak bersahabat panas terik membuat kami menunda perjalanan, selepas ashar kami melangkah ketempat empat tahun lalu bernostalgia sepasang sepatu sebagai bekal hari itu dan kami pulang tepat sebelum maghrib dan berbuka bersama seperti biasa dia memasak mie untukku dan selepas itu kami kembali bersenda gurau tak lupa aku selalu memijit pergelangan kakinya yang terasa lelah hal seperti itu seakan sudah biasa bagiku,dan seperti biasa malam itu kami saling memeluk dan bercumbu namun kali ini dia meninggalkan beban rasa didadaku tak sampai kepuasan hadir dia sudah melepaskan pelukanku ahh.rasanya seperti memendam emosi yang tak dapat kutahankan kepaqla seakan penuh sesak dan dada ini terasa terhimpit langit dan bumi begitu sesak rasanya kucoba kembali menerimanya kepahitan rasa itu sampai-sampai tembok aku pukul tiga kali benar-benar tak terasa sakit.
Sepatu yang kubeli dia memberiku separuh harga,
Tanpa kami sadari apa yang telah kami lakukan sepertinya kami sedang diajarkan bagaimana suka dukanya hidup berumah tangga,hidup bersama dengan segala rasa yang menjadi satu bahagia dan kecewa, dan hari ini
22 oktober 2006 dia memintaku untuk datang kembali ya.. kado lebaran dan salam untuk ibuku, darinya.. terucap dari bibir manisnya yang tipis.
Terima kasih sayang.
Sebutir pasir dalam genggaman menjadi peluruh rasa dalam kenyataan perangkum pilu dalam kenangan, surut terpaku penuh ragu dalam kiasan halus tak bertepi, mengayun cerita jauh terlempar sudut pandang, hanya untuk satu tujuan, satu maksud, satu makna, satu niat, begitu panjang terurai untuk sepenggal kata yang terasa pahit, demi satu asa untuk menjaga hati dan perasaan,catatan singkat tentangnya menunjukan sebuah bukti.. mungkin suatu saat akan ada waktunya dimana semua menuju pada satu ketentuan dan ketetapan yang sudah digariskan.
Entah bagaimana cara agar aku dapat mengerti akan semua sikapmu kucoba dan kucoba lagi tapi semakin kujajaki semakin aku tak mengerti terlalu jauh kita menjalin hubungan hingga semua rasa menjadi satu dalam dada ini, dari hari kehari ada saja dari sikapmu yang membuat aku terhentak menetakkan rasa dan memaksa aku untuk menarik nafas panjang, seakan-akan kau hendak menarik aku lebih jauh kedalam kehidupanmu namun dilain waktu kau paksa aku untuk pergi meninggalkanmu, kucoba untuk menerima kenyataan pahit ini dalam kebimbangan dalam keraguan sama seperti apa yang kau rasa terhadapku.
Aku merasa semua kebaikan, perjuangan dan pengorbananku yang aku curahkan tiada arti sama sekali, karna menurutku kau terbelenggu atas semua itu, kau mencintaiku atas dasar semua kebaikan, dan segala apa yang aku curahkan untukmu dan rasa cinta itu hadir bukan dari lubuk hatimu,rasa cinta itu hadir karna kau merasa terpaksa atas semua yang telah aku berikan untukmu, dan timbul rasa bersalah karna kau yang, memulai pertama kali untuk kita saling mencintai, dan saling menyayangi dan terlebih lagi ketika kau pula yang meminta untuk memelukmu, yang mendambakan belaian kasih sayangku hinga semua kini terlanjur kita lakukan.
bagaimana mungkin minyak dalam satu wadah mampu mencapai dasar jika kau tuangkan air kedalamnya, ribuan galon minyakpun jika dituangkan tetap akan bisa menyentuh dasar wadah itu.
Bagaimanapun kau katakan cinta dan sayang itu sudah tak berarti lagi, mengapa ?
Karna dasar hadirnya rasa cinta itu tidak murni karna rasa sayang tapi karna rasa takut dan rasa bersalah, karna kau yang mengawali kisah perjalanan ini, hingga perasaan cinta dan sayang itu terlahir dari rasa keterpaksaan untuk mencintai dan menyayangi.
Seorang pecinta tak akan pernah mencari siapa yang mengawali kisah dan tak akan mencari siapa yang bersalah.
Dia disebut seorang pecinta karna ketulusan hatinya dalam mencintai dan menyayangi terhadap kekasihnya, dan berusaha menyatakan cinta itu dalam warna rasa, sikap dan perbuatan sehari-hari, baik dalam bentuk perhatian maupun kepedulian.
Dan karna sebab inilah kau terbelenggu padaku dan tak bisa mengambil keputusan apapun, dan bahkan kau sudah menolak tujuh laki-laki yang pernah menaruh perhatian padamu, hanya karna rasa itu ? kau korbankan masa depanmu, cita-citamu, kebahagiaanmu, harapanmu, kedamaianmmu, dan bahkan kebahagiaan keluargamu,
masih ingat siapa saja mereka ?
Benar atau tidak aku tak tau, siapalah aku bagimu lis..?
aku bukan siapa-siapa yang mampu memberikan kebahagiaan padamu, yang bisa mencerahkan masa depanmu, aku bukanlah orang yang kau harapkan bukan orang yang kau impi-impikan selama ini, bukankah kau pernah mengatakannya padaku ! aku tidak berhak untuk mendapatkan cintamu,aku bukan orang yang tepat untuk mendampingimu aku tidak memiliki apa-apa yang bisa aku banggakan untuk kehidupan ini, sedangkan kau berhak mendapat yang jauh lebih baik dariku.
Dari sini aku mulai mengerti mengapa kau terkadang memberikan ironi-ironi halus yang memaksa aku untuk pergi darimu dan mencari cinta yang lain, entahlah apa aku bisa, aku tak tau, rasa dalam hati ini mulai terasa hambar, dan seakan rasa cinta dan sayangku sudah habis terkuras dan tercurah untukmu, aku tak tau apakah masih ada sisa-sisa cinta dalam dadaku yang dapat aku berikan pada orang lain !
Bagaimana bisa aku mencintai orang lain sementara bayang wajahmu selalu hadir dipelupuk mataku, seakan kau menghalangi hingga tiada gairah untuk menjalin tali cinta dengan yang lain, segala kisah, segala kenangan, dan semua yang telah kita lakukan, membuat aku tak kuasa untuk bergerak.
Aku hanya bisa diam dalam ketundukan, pasrah menerima apapun yang akan terjadi padaku dengan segala kepahitannya.
Mengapa lis..!
Aku tidak bisa dan tidak mungkin menyalahkanmu dalam hal ini !
Aku tidak bisa memaksakan kehendak pada siapapun sekalipun dia orang yang kucintai !
Aku tidak bisa dan tidak mungkin menyudutkanmu atas semua yang telah berlaku pada kita ?
karna aku juga merasa bersalah atas apa yang telah terjadi
aku tau kau mencintaiku
Aku tau kau menyayangiku
Dan kaupun tau bahwa aku mencintaimu
Dan kaupun tau bahwa aku menyayangimu
Jangan pernah memaksa aku untuk mencintai orang lain karna aku tak pernah memaksamu untuk mencintai orang lain.
Janagan pernah memaksa aku untuk menyayangi orang lain karna aku tak pernah memaksamu untuk menyayangi orang lain.
Aku tau apa yang terbaik untukku, untukmu, dan untuk kita.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan untuk dapat membahagiakanmu karna selama ini kehadiranku hanya membuatmu meneteskan butir airmata.
Hanya membuat luka dalam hatimu, dan selalu membuatmu bersedih.
Maafkan aku !
maafkan atas rasa cintaku padamu
maafkan atas rasa sayangku padamu
maafkan atas rinduku selama ini padamu
14 november 2006
beberapa dialog tentang aku dengannya hanya melalui pesan singkatnya dia sampaikan tentang perasaan hatinya yang mendalam terhadapku
“Dalam pelukanmu semalam aku merasakan kasih sayangmu yang sangat tulus, pelukan seperti itu sudah lama tak kamu berikan dan kamu tau ian.. aku sudah sangat lama merindukan itu.
Ian.. apakah hari-hari terakhir ini ada sesorang yang mencintaimu seperti aku mencintaimu?
Sorry ya ian sudah hampir subuh aku sms kamu karna aku ga bisa tidur dari semalam, entah kenapa dengan mata, jiwa dan pikiranku
Hanya 1, semua kebaikanmu dan semua yang ada padamu membuatku BAHAGIA DAN SEDIH, memang kamu tak akan mengerti ian…
selamat tidur yah bermimpilah yang indah malam ini ‘diantara ian’
“bahagia dan kecewa sudah menjadi bagian dari sisi kisah kita aku
tak tau sisi yang mana yang sedang aku rasakan tapi sepertinya dua-duanya sedang aku rasakan, bagaimanapun aku pernah didustakan oleh perasaanku sendri.
Ah ian aku jadi ingin sekali sakit gigi sekarang, hanya dalam 24 jam dari semalam jam 11 sampai sekarang 2 hal pertanyaanku yg belum ku tanyakan sudah kamu jawab dengan sangat jelas, tapi seperti yang pernah aku katakan bahwa aku sangat bahagia jika kamu bahagia walaupun mungkin bahagia yang sangat menyakitkan. Selamat siang ya… gimana disketmu ga ada masalah kan. Aku ingin ngeprint photonya.
maaf ya ian.. ga ada apa-apa tadi aku coba ke cm berkali-kali, aku hanya memikirkanmu terus..
“Pagi sayang.. Aku masih penasaran tentang kapan kamu mengucapkan cinta keaku apakah sebelum atau sesudah aku curahkan perhatian dan segala kebaikanku padamu tapi setidaknya kamu nyatakan cinta keaku setelah jauh kita sering bersama kan ? lis.. jika aku lamar kamu kira-kira dimana akad nikah pertama kali dimesjid atau digereja ?
Tapi apa kamu mau kita menikah dan berumah tangga ?
“benar ian, aku baru beranikan diri mengatakan cinta setelah aku lihat dan rasakan bahwa kamu menyayangi aku setelah 1 tahun lebih aku memendam rasa dan aku berani karna aku tak sanggup lagi menahan semua ini aku tahu dari catatan di diaryku.
tentang pernikahan dan berumah tangga denganmu, aku sangat ingin, tapi aku pusing ian memikirkan semuanya. jika melli mengajakmu bertemu, bertemulah siapa tau ini hal yang baik bagimu..!
tujuan hidup yang kedua adalah cinta
kata orang cinta tak akan mati, dan kurasakan cintamu padaku suci orang yang pernah mencintai seperti itu akan mengerti.
cinta akan pergi meninggalkan dunianya
Tapi didunia manapun dia berada kelak kau akan bertemu dengannya, dan jawaban apa yang akan kau berikan padanya ?
Apa kau tak ingin berbuat baik, agar kau terhormat dimatanya, agar dia dapat berkata “ kau mencintai sampai sejauh ini yang tak pernah dicintai orang lain, aku bangga padamu..ian !”
kamu tau sayang..!
apakah kamu lupa akan suatu hal bahwa aku pernah mengatakan padamu aku pernah melamarmu dua kali, dan dua kali itu pula kau tak memberikan jawaban apa-apa, kau hanya diam dengan deraian airmata yang mengalir dipipimu, dan jika kelak aku melamarmu untuk yang ketiga kalinya maka itu adalah keputusan yang terakhir untuk hubungan kita mau bersatu maka bersatulah, atau jika kau tak memberikan keputusan apa-apa maka berakhirlah hubungan kita cukup sampai disini.
Dan hari ini sabtu 18 november 2006 kau mengatakan dengan sangat jelas dan gamblang bahwa kau menolak mentah-mentah lamaranku, ya.. lamaran untuk yang ketiga kalinya dan kau justru menyerahkan aku pada cinta yang lain, maka inilah akhir dari kisah kita, akhir dari semua kisah dan kenangan yang terjalin,
cinta ini telah membuktikan kekuatannya pada diri kita, dan benar apa katamu dulu
bahwa cinta bukanlah apa-apa dalam kehidupan ini, hidup tak hanya sekedar untuk sesuatu yang bernama cinta.
Cinta tak dapat membeli sebuah harga diri, rasa sayang tak dapat membeli sebuah kehormatan, rasa rindu tak dapat membeli kedudukan tinggi,
Demi cintaku mungkin aku akan kehilangan cara hidup dan mungkin aku akan mendiamkan hidupku.
maafkan aku jika aku harus pergi dari kehidupanmu karna kaulah yang meminta aku untuk pergi darimu.
Selamat jalan.
Semoga kau berbahagia.
Semoga kau menemukan orang yang benar-benar kau cintai
Semoga kau temukan kebahagiaanmu.
JAKARTA, 18 NOVEMBER 2006
Komentar»
No comments yet — be the first.